Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

2/20/2021

Abu-abu

Dulu sering aku berucap "mau jadi orang jahat aja, sudah bosan jadi baik", mungkin untuk beberapa orang akan ingat ucapan itu karena saking bosannya 'dimanfaatkan' namun kini mulai ku pertanyakan sepenggal kalimat tersebut, bahkan terpatahkan dengan pertanyaan "apakah aku ini masuk di golongan orang baik, atau malah sebaliknya...???! Baik donk ya tapi ga tau kan seperti apa sebenarnya karena yang menilai ya orang lain.

Ada pendapat yang mengatakan jika orang baik banyak yang ga suka dan ingin menjatuhkan, di sisi lain pernah juga mendengar jika orang jahat itu banyak musuhmya. Pernah dengar kan ya hal semacam itu dan akhir-akhir ini itulah yang ku cari dari dalam diriku, aku berada di pihak mana.....???! Mengapa aku bilang begitu karena aku sadar banyak orang yang ga suka, entah sebutannya orang yang ga suka atau musuh yang pasti aku pribadi ga pernah menganggap punya musuh. Bahkan aku ga pernah urus mereka meskipun tau. Mencoba nutup otak dan mata hati aja deh ya.

"Benarkah itu..." Yup, 100% benar dan bisa di percaya. Bahkan ada di antara mereka yang menginginkan aku terpuruk sejadi-jadinya.
"Wow, sampai seperti itu kah...?!" Yup. Ada yang menginginkanku sekarat pun ada.
"Mereka, berati ga cuma satu...???" Yup. Entah berapa yang pasti 3 pun lebih. Dan mereka membenci dengan cara 'kotor'.
"Kamu gapapa..." Awalnya shock tapi mau gimana lagi, semakin kesini ya mikirnya terima aja lah, memang jalannya seperti ini kan mau diapain lagi. Mau usaha gimanapun susah, karena mereka tak mudah di lawan. Hanya butuh orang pemberani, tulus, dan nekat yang bisa menolong untuk bebas tapi ya sudah lah ya super hero hanya ada di komik kan ya.
"Kamu ga sakit...???!" Apa perlu di pertanyakan lagi, jelas. Bahkan ini lebih parah banget karena secara ga langsung imbasnya bukan hanya pada diriku sendiri tapi pada orang di sekitarku juga. Mereka menyerang mental dan menutup akses untuk bergerak agar aku ga bisa berkutik, menginginkanku mengibarkan bendera putih dengan suka rela dan itu ga akan pernah terjadi sampai matipun ga akan sudi.
"Kenapa ga di lawan....???" Cukup. Aku tak mau kelewatan nantinya jadi si pahit lidah. Tanpa di sadari mereka sudah menderita dengan caranya sendiri, bahkan ada yang kejang (mati susah hidup menderita tergolek seperti mayat hidup) itu karena ulah mereka sendiri.
"Darimana bisa tau....???" Ya tau aja. Dan ini benar bukan asal fitnah ataupun nuduh. Ini nyata.
"Kenapa ga di ingatkan, atau di tegur saja siapa tau sadar..." Hahahaha...., orang yang pikirannya di butakan oleh dendam apakah bisa di ingatkan, apahak bisa sadar..... Ini bukan cerita sinetron ya. Dan aku pun sudah tak mau berurusan dengan mereka, terserah mereka mau ngapain. Tunggu saja (menunggu bulan saja seh) menjadi titik balik mereka menuai apa yang mereka perbuat bahkan sampai ke akar serabut pun akan di dapatkannya. Maaf ini bukan doa, menghakimi ataupun umpatan tapi ini benar kok aku lihat tubuh tinggal tulang berbalut kulit, ada yang terkapar di pembaringan lemah, ada yang menderita sakit berat, dan ada juga yang mentalnya kena, hidupnya ga tenang.
"Tau dari mana seh, serem gitu..." .......(senyum) segala hal tak selalu bisa di jabarkan oleh nalar dan kalaupun aku cerita belum tentu bisa di pahami, padahal ini ga ngadi ngadi. Itu yang aku lihat.


Makanya bila di tanya aku orang seperti apa, aku tak tau. Kalaupun ada yang bilang "kamu orang baik" ya memang dasarnya semua manusia adalah orang baik itu harga mati tak bisa di bantah orang lain akan memberi label seperti apa yang dilihat dan dengar. Yang bisa membuktikan orang itu baik atau tidak adalah ketika ajal menjemput, ketika mendekati hembusan nafas terakhirlah yang bisa membuktikan kualitas seseorang. Dan lihatlah jasadnya untuk terakhir, bila jeli akan terlihat kok perbedaannya bagaimana dulunya beliau menjalani hidup, mungkin untuk orang tua jaman dulu bisa membedakannya. Yang baik belum tentu baik, dan yang jahat tidak selalu jahat. Baik buruknya orang tidak bisa dilihat oleh mata ataupun dari label orang lai  karena baik itu ada di dalam hati bukan yang terlihat. Hmmmmm, udah lah ya obrolan tentang ini jangan di perpanjang masih malas menerima 'sinyal' yang melelahkan dan menguras banyak energi.(19/02/21)

2/01/2021

Terima Nasip

Beberapa hari lalu selesai buat masker lagi, tapi entah kenapa kali ini kemaruk buatnya bisa di bilang banyak. Bukan untuk di jual ya hanya untuk di pake sendiri saja seh.

Saat ini benar- benar terombang ambing oleh cuaca, entah karena keadaan atau karena badan saja yang lemah sampai kadang seharian full harus menggunakan masker padahal hanya di rumah saja kewarungpun tidak lho tapi masker sekadang ini seperti tak mau lepas dariku.

Hampir dua bulan terakhir ini alam sepertinya sedikit menunjukkan ketidak nyamanannya. Daerahku yang termasuk dataran tinggi yang cenderung panas dibanding dingin namun akhir-akhir ini malah kebalikan. Jika hujan sebentar saja datang dinginnya sudah menusuk kulit, ya sebenarnya bagus jadi adem tapi tidak bagus untuk tubuhku. Badanku sepertinya tidak mudah menyesuaikan cuaca yang terlalu cepat berubah, sebentar panas menyengat, sebentar mendung, tiba-tiba hujan ga berhenti dan jangan di tanya angin yang berhembus beeeh sudah kelewat kenceng ini mah apa lagi hujan dicampur angin pasti deh bikin menggigil.

Inilah salah satu sebab kenapa harus maskeran, ya karena hidung ga bisa kompromi. Alergi dengan cuaca yang berubah sementara suhu tubuh tidak cepat dapat menyesuaikan mungkin juga karena badan juga ga begitu fit makanya mudah saja meler dan bersin sepanjang hari. Di saat pandemi seperti ini bersin seakan menjadi hal tabu. Padahal nih ya berdekatan dengan orang lain pun mereka tidak akan ikutan bersin kok ya karen ini bukan flu tapi daripada mendengar omongan yang merahin telinga mending menghindarinya. Maka dari itu maskerlah yang jadi solusi dan jangan lupakan susu, vitamin, dan obat.

Dan karena meler ini juga lah kebiasaan lama kambuh. Kebiasaan yang mulai aku tinggalkan sejak ngekos tapi kini datang lagi bahkan bisa dibilang lebih parah dimana dalam sehari bisa minum berbagai macam minuman berwarna. Dulu seh mentok teh itupun bening, tapi sekarang sering konsumsi teh, kopi, susu, kopi mix, seruni, ah hong, bahkan minuman yang katanya bisa menghangatkan tubuh tapi nyatanya hanya berasa perasanya bisa sehari ga minum air putih setetes pun. Parahnya lagi baru bisa tidur minim jam 3an pagi dan ketika tidur pun berasa ga tidur, nah kan bisa di bayangin gimana remuknya badan kan. Saking bingungnya mensiasati sampai tidur pun harus menggunakan masker dengan tisu yang sudah di beri minyak kayu putih untuk menghangatkan hidung cuma agar tak bersin-bersin n meler terus. Aku takutnya kalau menjurus ke sinus lho Hmmmmm..., kalau seperti ini rasanya ingin benerin hidung biar mancungan dikit deh (ga deng, hehehehhe...) biar tulang hidungnya lempeng aja seh.

Kalau udah bersin wah ngalamat harus kuatin hati, kenapa gitu...., karena akan mendengar tuduhan "penyebar virus" dan di salahkan, sebenarnya mendengar itu sakit hati lho perih, tapi gimana lagi hanya bisa mendam. Malas ribut, di jelasin pun percuma pada kagak mau dengar. Selalu dan selalu begitu. Hmmmmm...., ya terima nasip saja, memang begini keadaannya gimana donk. (01/02/21)

10/23/2018

Zombi


Mengerikan, melihat di kaca ketika habis cuci muka mata sudah kaya korban pemukulan. Tidak hanya di bagian bawah yang hitam seperti mata panda tapi sudah seperti memakai topeng kura-kura ninja. Hitam legam dan bergaris.

Beberapa bulan belakangan ini aku memang kesulitan mengatur jadwal tidur. Bila beruntung bisa tidur cepat tapi hanya 1-2 jam terbagun dan ga bisa tidur sampai pagi. Seringnya baru merasakan yang benar-benar ngantuk setelah subuh, baru bisa terpejam tidur alakadarnya dan jam 6, mentok jam 7lah (itupun jarang) sudah bangun. Karena inilah kebiasaan nonton drakor muncul, sekedar untuk penghiburan dikala tidak bisa tidur malam. Aku tau bermain hp diwaktu menjelang tidur tidak di anjutkan tapi hp aku matiin pun juga tetap tidak bisa tidur, hanya gulang-guling dan berpindah posisi sampai pindah arahpun tetap saja tidak bisa tidur.

Mungkin pikiran? Siapa orang yang ga berpikir namun aku ga begitu berpikir, bahkan membebaskan pikiranku agar bisa tenang tapi tetap saja tidak berhasil. Sampai kepala sudah pusing dan mata sakit pun tetap tidak ada komromi untuk tidur sesaat. Susah tidur, kalaupun bisa tidur pikiran berkeliaran kemana-mana. Sepertinya aku lupa bagaimana rasanya tidur berkualitas, sampai ada pikiran untuk konsumai obat tidur tapi untung saja aku ga bisa nelan obat dan ga biasa minum obat makanya pikiran semacam itu hanya numpang lewat saja.

Tidur berkualitas, mengistirahatkan pikiran sesaat. Harus belajar dari awal bagaimana caranya tidur nyaman dan berkualitas. Bukan seberapa lama bisa tidur namun aku hanya ingin mendapatkan tidur berkualitas, sejam pun sudah cukup asal berkualitas. (22/10/18)

6/24/2018

Perjalanan Sendiri


Pengabadian perjalanan naik bus sendirian.
Saat melihat tiket bus ada pertanyaan "kapan terakhir kali naik bus?!" Mengingat-ingat, tapi entah kapan terakhir kali naik bus. Dalam ingatanku selepas kejadian ga mengenakkan di dalam bus ketika pulang sekolah saat masih SMP aku memilih untuk berjalan kaki waktu pulang sekolah walau jauhnya melebihi menaiki candi borobudur, ataupun harus memutar bila ingin naik angkot itu juga harus jalan dulu untuk ke jalur angkot dan angkot juga ga berhenti di depan rumah, dari jalan raya harus berjalan kaki 3km dengan jalan yang menanjak kalau la malas menaiki ratusan anak tangga ya lewat agak jauh itu juga masih harus menaiki anak tangga tapi ya ga sebanyak jalan biasanya. Merasakan bus lagi ketika ikut piknik ke Bali jaman SMA. Lama ga naik bus, baru merasakan naik bus ketika sudah bekerja, bareng-bareng menjenguk teman yang tabrakan di rumah sakit daerah Klaten. Jika pulang ke semarang ketika tinggal di jogja travel memilih yang  jam keberangkatan ganjil agar tidak naik bus. Bolang ke gerojokan sewu, sumpah itu beneran senam jantung busnya sudah tua kalau jalan pada bunyi semua dan kalau jalan ngebut padahal jalannya sempit dan berkelak kelok. 2x Ikut gatering kantor ke Kopeng dan Lamongan, bersama bapak ke nganjuk saat tante sakit, pulangnya bareng kakak sepupu turun Jogja. Ikut ibuk ziarah. Selama ini naik bus ga pernah namanya sendiri, selalu ada teman disetiap perjalanan.
Jujur aku ga begitu suka naik bus, jika diajak pergi dan tau naik bus langsung perut rasanya mual dan malam ga bisa tidur, itu terjadi sampai sekarang.
Udah. Ya sepertinya itu saja pengalamanku naik bus. Oh ya ingat waktu di Jogja beberapa kali sempat naik bus trans Jogja dan itu juga bersama teman.
Dari semua pengalaman naik bus baru kali ini naik bus sendirian. Tamat (24/06/18)

5/22/2018

Keripik Singkong (gagal)


Percobaan bikin keripik singkong balado. Hasilnya sangat ga bisa dimakan.
- Irisannya sedikit tebal sehingga agak keras di gigit
- Rasanya cenderung asam dengan sedikit pedas dan melempem.

Waktu memasak kebanyakan larutan asam jawa dan terlalu banyak air, ini karena saat menggongso bumbu baunya terlalu nyegrak sampai ngosreng airmata dan ingus balapan keluarnya. Belum lagi yang kecium sampai bikin sakit tenggorokan. Seketika dehidrasi dan tenggorokan sakit.

Mau coba lagi bila mata pasahnya sudah tajam. Jadi potongan yang dihasilkan bisa tipis kriuk-kriuk. Setidaknya dengan susah mencoba tau dimana salahnya jadi nanti ketika membuat lagi sudah tau harusnya bagaimana agar mendapatkan keripik seperti yang diharapkan. Tapi jika masih belum sesuai ya coba lagi, namanya belajar dan untuk menjadi baik ada kalanya butuh latihan dan percobaan berulang kali. (22/05/18)


5/20/2018

Keripik Singkong vs Tabung Gas

Hari ini niatnya mau coba bikin keripik singkong balado. Menyempatkan ke pasar untuk beli singkong, namun setiap liat begitu banyak rentetan penjual mulailah ini-itu, namanya laper mata ada saja yang di beli dan untung saja masih ingat kondisi dompet yang perlu di infus walaupun sudah sempat beli beberapa barang tapi barang yang dibeli bisa dibilang dibutuhkan dan bermanfaat juga untuk memasak. Berputar dari ujung ke ujung namun ga menemukan singkong kualutas bagus dan frees, sementara tak mengapalah buat belajar. Sementara pakai singkong seadanya yang penting kagak yang kulitnya sudah kering karena itu singkong sudah beberapa hari tak terjual nanti kalau sudah benar-benar on proses baru deh cari suplay singkong kualitas unggul yang baru di petik.

"Meskipun terlihat mudah bila di lihat dan yakin bisa, namun jika belum mencobanya langsung janganlah memudahkan yang kelihatannya mudah. Karena yang mudahpun belum tentu kenyataannya semudah yang dibayangkan."

Sebenarnya mudah membuatnya namun karena belum pernah ya jadinya malah ribet. Kupas singkong sekalian mencoba pasah yang baru dibeli, benar-benar niat belajar kalau yang ini. tapi masih bingung menggunakannya. Padahal jika liat tutorialnya di youtube ataupun lihat resepnya di IG mudah saja, tinggal gesrek-gesrek nanti singkong akan terpotong sendiri dan keluar dari bawah. Karena bingung bagaimana pakainya, yongsa yang sedaritadi masih sibuk dengan hpnya akhirnya ikut-ikutan mencoba sekalian mencari setelan yang pas untuk ketebalan keripik tapi hasil potongan singkongnya ga bisa bulat. Di coba berulang singkong diberdiriin agar hasilnya bulat namun terus saja ambruk itu yang membuat potongan singkong memanjang dan ga beraturan (banyak yg remuk, serpihan kecil) aduh ini sebenarnya bagaimana memakainya.

Setelan sudah pas tapi beberapa saat digunakan kembali potongan singkongnya besar. Mencoba dengan memasukkan langsung beberapa singkong kedalam kotak gesrekan ya tetep saja hasilnya remuk dan memanjang, saat di lihat singkongnya pada miring potongannya, malah ada yang ambruk. Kesel deh sebenarnya bagaimana cara untuk mendapat potongan singkong untuk keripik yang berbentuk bulat dan tipis secara dicoba-coba tetap saja hasilnya meleset dari yang dibayangkan. Saat aku coba memotongnya tanpa pengaman (gosrokan) beberapa kali di ingatkan yongsa takut tanganya kena pisau pasahan. Makanya itu beli pasah yang ada gosrokannya untuk melindungi jari tergores pisau.

Oke, daripada kelamaan dan sebagai bahan uji coba sudahlah ya seadanya biarkan saja jika singkongnya mau memanjang sudah habis cara digunakan dan ga berhasil. Mengiris sambil menganalisa salahnya dimana agar bisa dapat potongan yang rapi dan bulat juga tipis, melihat hasil potongan yang kebanyakan malah remuk dan singkong yang kadang sudah di gosrok tapi ga keluar ada beberapa kesimpulan yang di dapat:
1. pasahnya agak miring antara kanan dan kiri ga sama walaupun hanya sedikit tapi pengaruh banget untuk irisan singkingnya.
2. pisau pasahnya ga tajam. Walaupun sehari paketan datang sudah aku bersihkan dan aku asah ulang namun masih belum menemukan ketajaman yang pas. Harus di asah ulang agar benar-benar tajam. Mungkin malah perlu di gerinda biar ujungnya tipis dan tajamnya mengena.
3. Singkongnya terlalu kecil-kecil, agak susah untuk menaruhnya di kotak pasah.

Dan setelah semua singkong terpotong (walaupun ga rapi ya) saatnya buat bumbu rendaman. Sambil menunggu bumbu meresap aku buat cemilan dulu buat yongsa. Managemen waktu untuk masak wajib digunakan. kalau kata yongsa otak harus berjalan seperti browser yang sekali proses langsung bisa akses beberapa jendela, dikerjakan bebarengan selang-seling agar menghemat waktu dan tenaga jadi saat selesai, maka semuanya selesai bersamaan. Oke walaupun belum bisa secanggih yongsa kalau di dapur tapi lumayan lah ya sudah bisa membagi-bagi dan ga bingung.

Selesai buat cemilan saatnya menggoreng singkong. Pengolahan tahap awal. Sambil menggoreng sambil bersih-bersih kebetulan yongsa sudah berangkat 'perang' ribet kalau beres-beres bila ada yongsa walaupun ga komen tetep saja kurang bebas gitu, apakah tidak takut gosong? oh tidak, gunakan api sedang jangan lupa sering di liat dan di kosreng aja biar benar-benar kering singkongnya. Cemplungan terakhir disambi ngepel, namun baru dapat 2 ruangan tiba-tiba mencium bau gas. aku cari-cari di ruangan sepertinya bukan dari sini dan saat menemukan sumbernya dari dapur ternyata tabung gas sudah bersuara dengan mengeluarkan bau yang menyengat. langsung saja aku matiin kompor tapi ga berani nyentuh tabung gasnya. Nah kebetulan terdengar suara cowok, pas diliat mas gondrong depan rumah mau berangkat kerja, langsung saja hampiri dan minta tolong untuk benerin tabung gas. Pas mau masuk dapur baunya udah ga karuan. Masnya itu hanya mencopot regulator dan memasang ulang sudah beres. aku yang liat hanya bisa melongo dan bilang "udah gitu aja" , iya ini cuma sambungan selangnya saja kurang kencang. oke mas makasih ya. dan masnya pun pergi.

Ada dilema mau lanjutin goreng atau enggak yang akhirnya aku biarin singkong berendam di penggorengan aku selesaikan ngepelnya. Setelah selesai mengepel seluruh ruangan aku dekatin tu tabung sambil cium barangkali masih bau tapi aman, mau lanjutin gorengnya tapi takut, tapi ya tinggal dikit selesai. Berkali-kali mendekat ke tabung gas untuk memastikan apakah masih bunyi dan masih bau ataukah tidak saat udah benar-benar yakin aman aku beranikan diri untuk melanjukan tu goreng keripiknya. Pas selesai eh bau lagi dan terdengar suara gas bocor. aduuuuuh bagaimana ini sementara di luar tengak-tengok tetangga kagak ada yang nongol satupun. Menghadapi hal seperti ini aku ga takut namun sama sekali ga ada keberanian untuk mencoba menaklukkan tabung gas tersebut, salah satu cara ya cari bantuan dan karena ga ada orang akhirnya aku terfon yongsa berharap mau pulang sebentar untuk mengatasi masalah gas bocor ini, namun yongsa hanya memberi arahan untuk mematikan kompor dan mencopot selang. Ditanya apakah masih mau masak atau tidak, kalau masih ingin masak yongsa menyarankan untuk mencopot dan memasang lagi regulator dan memasangnya kembali, tapi jika sudah selesai di copot saja. Sudah ga ada niat untuk melanjutkan masak, diajari juga caranya mencopot regulator, berhubung aku ga berani mendekat apalagi mencopot selangnya ya aku bilang ke yongsa akan aku coba, pikirku kalau telpon ga diakhiri bau gas bisa lebih parah malah yongsa akan marah. Jujur aku gugup tapi tenang. Tahu cara penyelesaiannya tapi ga berani untuk eksejusi, intinya takut gas.

Aku kembali ke dapur bau gasnya semakin tebal tercium, dan rasa takutku dari gas belum bisa aku kontrol maka dari itu daripada ke dapur aku memilih keluar mencari bantuan. Bolak balik ke luar ga ada orang, balik lagi ke dapur sekedar mengecek keadaan gas dan balik lagi ke luar mencari bantuan nah kebetulan bapak tetangga sebelah ada di luar langsung deh aku datangi dan minta tolong. Saat balik ke rumah itu bau sudah ga karuan, bahkan baunya sudah menyebar ke ruang tengah sampe bapak menyuruhku untuk membuka pintu dapur yang sebenarnya ga pernah dibuka.
Katanya gas menjadi mainannya setiap hari, ya jelas saja si bapaknya kan yang jual gas. Dibuka liat ikatan karet gelang di sambungan gas si bapak bilang jika ngasih karet gelang jangan terlalu banyak nanti tidak bisa masuk regulatorbya dan bikin kendo, aku dengerin aja karena sama sekali ga ngerti. Seperti mas gondrong tadi si bapak juga hanya mencopot dan memasang ulang regulator, karena takut aku bilang untuk ga usah di pasang saja selangnya saat melihat waktu di pasang kembali lagi terdengar bunyi dari tabung. Si bapak meyakinkan kalau gapapa, dan menanyakan padaku mau dipasang lagi atau tidak untuk melanjutkan masak. aku bilang ga usah saja, dalam pikiranku masaknya dilanjut besok saja kalau yongsa ada di rumah. Namun kata si bapak gasnya habis, mungkin bocor sebagai tanda jika gasnya habis. Katanya seh begitu, bila gas akan habis kebabyakan akan bau. Aku tanyalah di warung (rumah si bapak)stok masih ada apa tidak soalnya gas di warung si bapak cepet bener habisnya. Datang langsung di serbu, malah banyak yang sudah ngantri tabung kosong. Ya udah sekalian beli saja daripada habis besok yongsa ga bisa masak kebetulan si bapak juga bersedia untuk memasangkan. Oke lah beli gas dulu, bersama bapak yang akan mengambilkan gas tapi tetep aku yang bawa si bapaknya kagak mau bantuin bawa gasnya katanya lemas karena puasa. aduuuuh duuh duuuuuuh....

Saat dipasang kembali terdengar suara dari tabung gas, lalu di copot ulang dan di tambah karet gelang namun tetap saja bunyi. Kata bapaknya mungkin regulatornya, soalnya regulator sekarang tidak semuanya sama cocok jika dipasang di gas. Tapi menurutku kemungkinan karet yang di dalam yang sudah ga layak pakai, ini aku tau dari ibu yang selalu mengganti karet dalamnya ketika memasang gas dan mengambilnya ketika membeli gas. Karet itu sengaja ibu beli karena ya memang gitu karet bawaan banyak yang sudah ga layak pakai. Dan si bapaknga juga berpikiran sama kemungkinan karet dalamnya yang bermasalah, lalu si bapak pulang untuk mengambil karet yang dimilikinya, hasil dari mencongkel karet dari tabung gas yang habis dari pembelinya. Dicoba pasang karet itu dan memasang selangnya. Selama membongkar itu aku melihat dengan seksama sambil sesekali berbincang dengan si bapak, dan ketika memasang selang secara spontan aku yang tadinya jongkon di dekat si bapak sambil mengamati semua yang dilakukan si bapak spontan langsung berdiri dan menutup telinga. Entahlah kenapa tapi aku beneran takut parno sendiri kalau berurusan dengan tabung gas.
Melihat aku yang langsung berdiri si bapaknya sepertinya tau jika aku takut. lalu si bapak bilang
"ga perlu takut kalau ada apa- apa tinggal matikan kompor dan buka selangnya udah aman. nah ini tadi untung ada orang kalau ga ada orang bagaimana apa masih mau lari?"
dengan tegas aku jawab "iya".
"waduh. ga perlu lari langsung saja di copot selangnya sampai baunya 'mulek' kaya gini masa ya masih mau lari".
"Ya mending lari nyari bantuan"
"kalau pas ga ada orang gimana?"
"ya dicari sampai sedapetnya".
"Payah. wes aman". si bapak kembali meletakkan tabung gas diposisi semula dan beberapa kali mengendus dan mendengarkan dengan seksama masihkan ada bunyindi tabungnya. dan memang sudah benar. lalu si bapak itupun pulang. Dan ku ucapkan terima kasih untuk si bapaknya.

☆☆☆

Dari kejadian ini ada pelajaran yang berharga buatku.
Bagaimanapun aku harus bisa mandiri, karena sewaktu-waktu gas bisa habis padahal yongsa pas tidak di rumah maka mau ga mau aku harus bisa mengganti juga mengatasi kejadian seperti yang barusan terjadi.
Kalau kaya yongsa jangan panik bila menghadapi hal seperti barusan. Jujur aku ga panik, sungguh benar aku ga panik bahkan aku tau langkah yang harus dikerjakan untuk mengatasi bila terjadi kebocoran gas hanya saja ketakutan yang ada di dalam diriku belum bisa diajak kompromi.
Dan kejadian ini yanoa sadar membuatku berani memegang tabung gas. Jujur baru kali ini aku memegang tabung gas, menjinjing tabung gas dan bonusnya aku tau harga gas. Waktu menjinjing tabung ga setelah beli sempat sadar dan kaget juga bila aku saat itu menjinjing tabung gas. Dalam kesadaran penuh di otak mengingatkan bahwa di tanganku sudah ada tabung gas.

Saat cerita dengan yongsa tentang insiden yang terjadi yongsa sepertinya kecewa denganku karena tidak bisa menyelesaikan masalah sekecil ini. Ya seenggaknya aku sudah berani memegang tabung gas yaaah walaupum saat perjalanan pulang ada perasaan sedikit degdegan,
(19/05/18)


5/01/2017

Pengat dengan apa yang terlihat

Begitu banyak sketsa yang datang menghampiri otakku, namun hanya ada dua warna; hitam dan putih tak tau mengapa diri ini begitu merindukan tempat itu, tempat yang sejatinya belum pernah aku singgahi, hanya saja aroma kedamaian, kesejukan, dan ketemangan sangat kental semerbak mengoyak kekokohan naluriku agar segera beranjak untuk mendatanginya.

Kembali lagi suasana pedesaan yang sarat dengan kerindangan pepohonan membujukku, menyeret dan merajuk dengan segala keindahannya. Seorang wanita Jawa yang sangat cantik dan anggun tersenyum ramah kepadaku. Sosok keibuan yang begitu sabar, dan baik hati. Wanita Jawa seutuhnya yang teguh memegang budaya dalam balutan Jarit dan kebaya serta rambut yang di gelung semakin memancarkan kecantikannya, walaupun tanpa riasan wajah sedikitpun.

Teduh...., aku rasanya ingin menghambur ke dalam pelukannya. Ya, aku bisa merasakan kasih sayang dan kebaikan hatinya. Wanita yang sangat menghargai alam, wanita mulia yang sederhana.

Dalam balutan kebaya bermotif bunga, wajah tirus dengan kulit kuning langsat seperti putri keraton dan pembawaannya yang adem membuat semua orang yang melihat bakal jatuh hati padanya. Dialah wanita sempurna, wanita anggun dengan kecantikan hati yang terpancar dari wajah ayunya.
Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh bahkan peduli, mau menolong dalam keterbatasannya.
Wanita yang tidak silau dengan harta, rela meninggalkan apa yang ia miliki untuk kesederhanaan.
Wanita yang penuh kasih, yang membius lawan jenisnya hingga terpesona, namun ia tidak menghiraukan semua itu. Kecantikan hatinya sama dengan kecantikan wajahnya yang tak suka dipuji bahkan tak ingin menonjol diantara yang lain walaupun ia bisa.
Wanita yang mengabdikan dirinya untuk satu cinta, dan memberikan kasihnya dengan tulus.
Wanita yang sanggup mengarungi kehidupan dengan orang yang dicintainya dalam keterbatasan materi dengan cinta yang mereka miliki. Sungguh berunting pria itu, bisa mendapatkan hati wanita cantik dan berhati emas untuk hidup bersamanya.

Dan sungguh beruntung wanita cantik ini mendapatkan pria yang menghijaninya dengan cinta dan kasih sayang yang tak pernah berkurang setiap harinya selama hidupnya.

Sepasang kekasih yang mengerti dan paham benar bagaimana memperlakukan pasangannya. Menghidupkan cinta di dalam rumahnya dan mengerti apa itu cinta-kasih yang sesungguhnya. Hingga akhir hayat membuktikan ketulusan cinta, cinta sejati selamanya, hingga akhir hayat merekapun cinta mereka terjaga dengan manisnya. Dan di sana mereka kini sudah bersama kembali. (01/05/17)

::
True Love.
Memory mbah uti yang singgah sesaat dan aku rasakan.


2/16/2017

Gunakan Jarimu dengan Bijak

Pagi-pagi buka hp ada 2 sms masuk. "Tumben bener ada sms, sekarang kan jamannya WA kalau enggak BBM", lalu aku buka dan ternyata sms itu berisi berita menyesatkan. Hmmmm...., heran tahun udah berganti tapi penipuan macam ini masih juga ada, kenapa seh harus tipu-tipu seperti ini.... udah ga punya akal atau gimana untuk cari rejeki yang halal. Punya tangan lengkap malah digunakan seperti ini, gunakan untuk berkarya yang indah lah. Kasihan kan jika yang menerima orang yang yang polos bisa malah mencelakakan.

Dan siapapun kalian mengirim sms macam begini tidaklah dibenarkan karena isinya bukan hal yang baik malah menyesatkan dan menjerumiskan. Jika sudah kebanyakan pulsa di jual aja pulsanya lalu hasilnya dimasukinlah ke kotak mushola itu jauh lebih tepat yah, dan malah bisa jadi amalan baik pembuka pintu rejeki bukan malah seperti ini.

Maap bila terlihat sok suci dan yang tau agama saja, enggak, bukan bermaksud menggurui tapi hanya mengingatkan saja untuk tidak bertindak yang bisa merugikan orang lain. Itu saja kok. Melangkahlah untuk berusaha berbuat baik untuk yang lain.

Dan untuk teman-teman semoga tidak terpengaruh dengan sms konyol macam begini. Abaikan ga usah di tanggapi apa lagi di ambil hati (sepertinya kali ini sms ini aku ambil hati deh ya, sampai menjadi coretanku gini.... ya ini ga usah di contoh). Yang pasti bertindaklah jeli.

Dan yang suka kirim-kirim sms menyesatkan kaya gini semoga hidupnya bahagia ya. (16/02/17)


2/14/2017

Perjalanan Jepara "Makam Ratu Kalinyamat"

Kemaren pagi-pagi Yongsa telepon yang intinya mau balik ke Jogja karena ibu dan adiknya mau ke Jakarta, dan sebelum balik ia ingin menepati janji untuk mengantar aku ke makam Ratu Kalinyamat yang sudah aku pengeni sejak lama namun belum sempat terlaksana. Tanpa pikir panjang langsung aku iyakan dan bergegas bersiap-siap berangkat walaupun hidung sedikit meler tapi it's okeeh lah untuk yang satu ini. Siap-siapnya seh cepat, namun yang lama itu nunggu bapak berangkat kerja, soalnya ga mau aja di tanya-tanya terlebih bisa dipastikan pulangnya bisa duluan bapak ketimbang aku. Menunggu sampai jam setengah 9 baru deh tancap gas menuju ke  Kudus. Tumben juga bapak akhir-akhir ini berangkatnya agak siangan.

Tak seperti sebelumnya waktu perjalanan ke Jepara dimana perjalanan berasa lama, jauh, dan jalan berlubang dimana-mana tapi kali ini jalan berasa indah, ya walaupun ada sedikit trauma juga akibat jatuh sebelumnya karena 'nyasak' jalan yang berlubang. Jalan sepertinya mulus dan berasa cepat (walaupun sebenarnya jalannya masih banyak lubang), jam 10 kurang 7 menit sampai di depan RS (tempat janjian) soalnya abu mau diparkirin di RS dan nantinya perjalanan ke Mantingan Jepara akan menggunakan pink.

Aku tidak tau letak makam Ratu Kalinyamat berada di daerah mana, dan belum sempat tanya eyang google juga, namun aku pernah tanya teman kantor yang diberi arahan patung durian besar belok kiri, mentok sudah sampai. Aku kira Yongsa sudah tau tempatnya, ya pikirku Yongsa tanya lah pada ibuk atau adiknya bahkan bisa saja browsing terlebih dulu sebelum berangkat sambil menunggu perkiraan aku sampai di tempat janjian.

Dan ternyata kita berdua sama-sama ga ngerti, bahkan nama daerahnya saja juga ga pada tau. Hingga di depan sebuah masjid Yongsa meminggirkan pink. Aku yang ditanya ga tau apa-apa lalu aku saranin aja untuk browsing (berselancar pake hp nya Yongsa saja ya yang internetnya lebih cepat dibading hpku yang lemot kaya siput) sebentar sekedar mencari tau lokasinya di daerah mana. Namun tetap saja binging lha sama-sama ga tau jalan. Pokoknya perjalanan kali ini aku pasrah deh dengan Yongsa, dan daripada bingung akhirnya Yongsa bertanya kepada seorang tukang parkir yang lagi duduk di pinggir jalan.

Aku ga tanya apa yang dikatakan bapak tadi soalnya suaranya ga begitu jelas dari tempat aku berdiri, terlebih jalan raya yang rame membuat suara perbincangan mereka sama sekali ga terdengar hanya gerak tangan saja yang ikut memperjelas, aku pikir paling Yongsa paham dengan penjelasan si bapak. Kita lanjutkan lagi perjalanan.

Desa Mantingan, Kecamstan Jepara, Kabupaten Jepara itulah letak makam Ratu Kalinyamat yang menjadi tujuan kita berdua. Dan Yongsa kembali lagi meminggirkan pink, lalu bertanya kepada satpam yang berjaga di pos. Entahlah itu pabrik atau gudang karena bangunannya besar dan rapat. Aku tak ikut Yongsa yang sedang bertanya dengan bapak satpam. Aku berdiri di dekat motor yang diparkir adak jauh dari pos satpam.

Ketika menerangkan pak satpam itu hingga keluar pos dan ketepi jalan menunjukkan arah dengan telunjuknya, hingga pak satpam itu menerangkan dengan gambar dari coretan bolpoin di telapak tangannya. Dirasa sudah mudeng Yongsa balik ke motor dengan sebelumnya mengucapkan terima kadih.
"kata bapaknya tadi dekat, tapi tidak sampai-sampai". Kata Yongsa sambil menstarter motor.
"Lah emang gitu, biasanya kalau orang tua bilang dekat itu masih jauh"
"Mana aku tau yo jalau yang dimaksud dekat itu jauh. Bilangnya bundaran belok kiri tapi sudah jalan jauh belum kelihatan bundarannya"
"Ya gitu, masih berapa kilo gitu ya bilangnya gepet. pokoknya kalau orang tua jauh itu dekat"

Dan perjalabanpun dilanjutkan. Tak lama menemukan lingkaran, ambil arah kiri (lurus) Sampai juga akhirnya di tempat tujuan. Sebenarnya mudah saja perjalanan menuju ke Mantingan, tinggal jalan lurus ke alun-alun kota Jepara, jika sudah ketemu lingkaran ambil arah kiri. Benar saja yang dibilang temanku "cari patung durian" yang ternyata itu ada di seberang alun-alun. Patung durian itu baru aku tau waktu perjalanan pulang yang dikasih tau Yongsa yang awalnya aku pikir mau nunjukin pasar buah dan mau mampir beli sawo, ternyata nunjukin patung durian besar di depan pasar buah, hahahaha.... ternyata setelah sekian lama masih aja kepikiran sawo.

Sampai di pintu gerbang masjid dan kirinya ada pintu gerbang menuju ke makam, tapi sepi banget ga ada satu kendaraan parkit di depan bahkan warung penjual yang ada di depan masjid pun pada tutup semua. Trus ini lewat mana dan parkirnya dimana.... Bingung benarkah tempatnya ini, untuk mengusir kebinginganku aku bertanya kepada Yongsa dan ternyata memang benar ini tempatnya tapi dimana parkirnya... (tanya tanya besar). Lalu Yongsa meminggirkan motor dan bertanya kepada cowok yang duduk di atas motor di dekat sana. Dari penjelasan cowok itu memang benar ini tempatnya dan tempat parkirnya ada di pelataran masjid, untuk kesana lewat gang kecil yang ada di samping warung (gang ya bukan jalan setapak).

Kebingingan masih berlanjut, setelah mendapatka tanda parkir mau parkir dimana sementara di halaman masjid berdiri tenda dan ada sebuah mobil truk yang masih menurunkan kursi.
"Sepertinya mau ada acara... eh ini mau ada acara atau sudah selesai..."
Yongsa memarkirkan motor di bawah tenda ngikut beberapa motor yang sudah terparkir sebelum kita datang. Aku masih bingung, makamnya disebelah mana, dan ini lalu kemana...., terlebih aku juga kebelet pipis sejak di jalan tadi. Aku masih mencopoti perlengkapan (jaket, sarung tangan dan masker) Yongsa sudah pergi aja berbincang dengan salah satu bapak yang sibuk mengurus tenda. Biasa mencari info ada apa gerangan tentang tenda yang dipasang di depan masjid. Dan menurut informasi yang Yongsa dapat ternyata nanti malam adalah Khol.
"Nginep sink yok"
"Heeeem..., ga mau. nanti dicariin bapak"
Kalau aku pribadi mau yo, tapi kan tau sendiri bagaimana disiplinnya bapak. Jadi untuk saat ini belum bisa.

Jam masih menunjukkan pukul setengah 12, dan waktu adzan masih lama. Sedari awal liat jalan setapak kecil yang ada di kiri masjid pengen rasanya kesana yang ternyata itu arah ke makam. Menurut info dari Yongsa saat bertanya kepada bapak yang menurunkan kursi, jalan setapak itu arah menuju makam. Sempat juga ditanya tujuannya kesini mau apa, jika mau ziarah langsung saja masuk kedalam tapi bila ada permintaan khusus dalam artian pengen sesuatu bilang/lapor pada yang jaga. Sambil menunjuk ke arah bangunan kecil yang ada di kanan masjid.

Kebelet pipis..... akhirnya kita ke toilet dulu dan aku masih bingung toiletnya arahnya kemana tapi Yongsa yang tenang mengajak ke sebelah kanan masjid, ya ngikut saja soalnya tadi ada dua orang cewek yang masuk dibelakang pink menujunya kesana. Horeeee.. bener, ternyata toiletnya disana (kanan masjid) sekalian saja wudhu tinggal nunggu waktu adzan yang sebenarnya masih agak lama.

Bagian masjid disekat menjadi 3 bagian, sebelah kanan ruangan agak kecil, entah itu buat apa sedangkan disebelah kanan baru tempat untuk sholat perempuan. Di teras sebelah kanan ada bedug sebagai penanda waktu sholat halaman yang luas dan bangunan kecil yang sepertinya untuk pengurus disampingnya ada aula kecil waktu itu digunakan untuk berkumpul anak sekolah yang melakukan kunjungan kesana. Sementara di sebelah kiri ada gapura seperti gerbang masuk ke candi yang kebetulan juga sebagai pintu masuk ke masjid. sementara di samping kiri sudah area makam.

Selesai sholat baru kami masuk ke makam. Melewati jalan setapak yang ada di samping masjid. Jalan setapak yang rapi dan agak berkelok, di kanan-kiri berjajar makam dengan rindangnya pepohonan. Tapi kenapa disana banyak bener pohon pace (mengkudu) ya....???
Aku merasakan hal yang berbeda, antara di area masjid dan di area makam (ya tentu saja berbeda) seperti dua kutup yang berbeda dimana saat masuk ke area makam aku merasakan ketenangan, damai, seperti jauh dari bisingnya aktifitas. seperti ada pagar yang mengelilingi kedamaian area makam dari hirupikuk kehidupan.

Sampai kita menemukan gapura yang di depannya ada kotak amal. Apakah didalam itu makam beliau...., tak ada papan petunjuk yang menerangkan, hanya ada papan penunjuk ke Sunan Jepara itupun disamping kanannya. Ada sepasang sendal disana tapi kami masih ragu untuk masuk, apakah ini tempatnya atau bukan sampai datang seorang pria yang memakai sarung yang masuk ke dalam, dari gerak-geriknya sepertinya ia sudah pernah kesini karena gerakannya seperti sudah menguasai medan).

Kami masuk melewati gerbang yang dikanam kirinya terdapat makam. Namun disisi kanan ada makam besar yang di atasnya dipasang tenda, entah makam siapa karena pas aku lihat tidak menemukan goresan nama yang diukir disana. Setelah melewati satu gerbang lagi barulah sampai ke sebuah bangunan. Ada dua pintu dan di dalamnya berjajar 4 makam yang ditutup kain hijau da dilingkari dengan kain hijau juga, namun kami tak tau beliau yang disana itu sispa saja.

Bingung mau menghadap kemana dan yang mana....
Ada seorang pria yang lagi melantinkan doa di makam yang paling besar yang aku yakini itu adalah makam Sultan Hadlirin. Tidak ada ukir nama di nisan beliau hanya pahatan kayu yang sedikit terlihat di 'patok' yang semuanya terbungkus kain putih. Diantara ke empat makam feelingku yang paling ujung sebelah kiri. dan menghadap ke sana, aduh gimana ya cara ngomongnya..., menghadap ke 4 makam itulah. Berarti arahnya kemana tu... (maklum ga ngerti arah).

Yongsa juga belum pasti, lalu kami menepi ke kanan. Duduk di tepi dekat pengeras suara, melihat ke arah makam sambil berpikir.
"Bapaknya tadi bilang nanti malam Khol, pergantian kelambu tapi itu kain penutupnya putih banget. Jika sudah setahun ga mungkin donk seputih itu, seperti baru diganti"
"Hu um. Itu baru sepertinya"
"Kalau Khol nya nanti malam kan seharusnya gantinya juga nanti malam, tapi kenapa ini sudah diganti"
Ga tau harus jawan apa karena ga paham yang seperti itu yo.

Belum nemu beliaunya itu siapa saja... Daripada bingung browsing, siapa tau ada yang menuliskan makam siapa saja yang ada disini, beberapa kali buka blog tapi ga ada satupun yang menerangkan ke 4 makam beliau siapa saja (maksudnya urut dan runtut). Yang pasti pojok kiri sendiri feelingku.

Kita browsing sambil menerka-nerka. Kalau fellingku makam yang paling besar milik Sultan Hadlirin, samping kiri Ratu Kalinyamat dan samping kanan Sultan Hadlirin milik anak angkatnya.
"Terus yang kecil siapa yo..."
"Enggak tau, kayanya anak angkat belaiu hanya satu".
Masih dengan kebingungan, walau sudah browsing. Tumben juga tidak ada juru kunci, kalau balik ke masjid juga agak jauh. Aduuuh..., bapak ini juga ga selesai-selesai seh ya, mau tanya barang kali si bapaknya ini tau.

Beberapa kali melihat namun si bapak masih khusuk dengan lantunan doa untuk Sultan Hadlirin. Dan ketika si bapak beranjak pergi langsung saja "Yo kalau tanya sama bapaknya itu gimana..." dan Yongsa gesit langsung mengejar si bapak dan bertanya, sementara aku mengekor Yongsa di belakang dan mendengatkan penjelasan si bapak. Ternyata si bapak juga ga paham beliaunya itu siapa saja, biasanya yang ziarah kesini ke Sultan Hadlirin sambil menunjuk ke makam yang paling besar. Oh ya, lalu gimana ini....

Sudah sepi hanya tinggal kita berdua saja disini, lalu bagaimana...
Kita masuk, kali ini mengandalkan feeling saja untuk itu kita duduk bersebelahan menghadap ke makam, keyakinanku yang ada di depanku makam Ratu Kalinyamat sampingnya Suaminya Sultan Hadlirin sampingnya ga tau. Awalnya yongsa ada di sebelah kiriku tapi itu kebalik, dan kita bertukar tempat (lah kok bisa begitu ya..., seperti seharusnya emang begitu). Posisi sudah benar, mulai untuk berdoa.

Di teras aku melihat papan yang menunjukkan silsilah Ratu Kalinyamat yang masih keturunan Brawijaya V. Di luar gapura menuju makam, di pinggir jalan buat peziarah aku melihat ada jaladwara yang tertutup lumut akibat hujan terus mungkin ya, patung yang identik ada di area candi. Ya begini ini jika pergi tanpa mencari tau dulu yang ada disana dari silsilah sampai apa saja yang bisa diceritakan, kita cuma tau silsilah tapi belum tau apa saja yang ada disana dan searah pastinya seperti apa tempat itu. Karena kebanyakan blog yang aku baca menceritakan silsilah dan perjuangan Ratu Kalinyamat bukan pada tempatnya. udah gitu tidak menemui juru kuncinya untuk menerangkan sejarahnya. Tapi kemaren itu pada sibuk semua deh sepertinya.

Di luar aku melihat ke arah anak panah yang menunjukkan makam Sunan Jepara yang bernama Raden Abdul Djalil. Yongsa enggan ke sana tapi aku ingin, pikirku sekalian saja mumpung ada disini walaupun aku sama sekali tidak tau beliau siapa (maaf eyang) yang jadi patokanku saat itu Sunan Jepara dan itu artinya beliau juga salah satu orang penting dan berjasa. Sungguh baiknya Yongsa yang mau mengantarku ke makam Sunan Jepara.

Makam sunan Jepara Raden Abdul Djalil tepatnya berada di belakang makam Sultan Hadlirin, melalui jalan kecil yang disebelah kanan makam dan sebelah kirinya sepertinya makam warga sekitar yang diberi batas dinding setinggi dada, ada papan penunjuk arah untuk menuju makam Raden Djalil.

Sampai di depan pintu ada perasaan takut masuk, sesaat hanya berdiri melihat ke dalam. Berbalik arah, namun karena Yongsa masuk akhirnya aku ikutan masuk juga. Makam beliau di tutup dengan kain warna hijau hingga keseluruhan makam, ada satu pohon yang timbuh disana yang rindang, lumayan bisa menghalau panas saat terik karena makam Raden Abdul Djalil tidak ada cungkup, tapi kebetulan saat kami kesana cuaca agak sedikit mendung jadi tidak panas. Ruangan makam yang tidak terlalu besar dengan lantai yang masih dari semen dan di sebelah kanan pintu ada tempatnyanjuru kunci (ada atapnya). Bingung lagi mau duduk dimana sementara disekitar makam banyak bunga dan daun yang rontok juga banyak semut takut kedudukan kan kasihan bila kegencet (bukan karena tubuhku bulet ya tapi emang rasa ibaku seketika muncul). Yongsa duduk, aku ikutan duduk aja abaikan lantai kotor. Lalu masing-masing dari kami mulai khusuk berdoa, tak lama kami berada disana pamitan kepada juru kuncinya baru keluar.

Entah apa yang aku rasakan di makam Raden Abdul Djalil, berasa kosong namun kenapa sempat melihat beberapa wajah yang baru buatku, dan beliaunya hanya diam dengan wajah sendu dan murung. Sedikit kepikiran tapi enggak aku pikir berkelanjutan. Jujur aku sama sekali belum pernah browsing tentang beliau.

Kami tidak lama berada di sana, mengingat hujan yang sering datang di sore hari. Iya kalau hujannya bersahabat lha kalau ada angin piye jal.... Yongsa mengajak langsung pulang, bahkan sekedar menghela nafas, sesaat menikmati suasana disanapun tidak. Ya udah kita pulang aja.

Jam 1 lebih kita pulang. Masuk kota kudus kami mencari warung makan, tapi ya itulah kami yang selalu kebingungan saat mau mencari tempat makan. Bukan karena tidak ada namun karena kami yang tak biasa makan di tempat umum, apa lagi yang tempatnya rame bisa celingukan sibuk sendiri ngelihatin orang dan yang ada di sekeliling kita.
* Persinggahan pertama warung ayam krispi, ga jadi makan. Bukan warungnya tutup tapi warungnya masih dalam perbaikan ya mana enak kalau makan tukang-tukang seliweran, belum berisiknya, apa lagi debu. Mungkin warung buka menyediakan orang-orang yang beli tapi dibungkus kali ya.
Mencari warung makan yang menu utama ayam, ini cuma mengantisipasi saja bila masakannya tidak sesuai kan masih bisa merasakan kalau yang dimakan bahannya ayam.
* Banyak warung makan terlewati sudah, entah bagaimana yang dicari Yongsa, aku ngikut aja soalnya jika aku yang disuruh nyari juga kagak bakal bisa. Aku mah apa aja mau yang penting masih bisa dimakan, dimana tempat pun bisa asal bersih, tapi ga pede juga kalau makan di tempat bagus dan ramai.
*Sampai di Kudus kita belum menemukan tempat makan. Mau ke warung tenda, melihat daftar menu dari kejauhan Yongsa bilangnya "masa jam segini nasi goreng", nah bingung kan. Kalau aku seh ga masalah dan kalaupun iya aku ga pesen nasi goreng soalnya disana ada tulisan kulwe tyo juga ada capjay, ada mie rebus juga jadi aman. tapi ga jadi.

Tuhkan bener, kita mah emang kagak bakat kalau disuruh wisata kuliner. Menurut kami makan itu apa saja yang penting tempatnya jangan yang rame terlebih rame pake banget, jangan yang mewah, warung sederhana saja cukup bahkan di warung tendapun tak mengapa yang penting warungnya bersih termasuk tendanya tidak kumal lah. Hingga sampai di RS lagi pun kami belum menemukan warung yang pas. Yongsa mengambil motorku yang di parkir di RS sementara aku menunggu dengan pink di liar.
"Mau cari makan disini apa di Demak, yo". Tanya Yongsa yang kini ada di sampingku setelah mengambil motor.
"Lah memangnya tau tempat makan di Demak...." tanyaku balik
"Kalau cari makan ya disini saja di demak emang kamu tau tempat makannya dimana..."
Seingatku sepanjang jalan Demak juga jarang rumah makan ataupun warung deh
"Disini saja kalau cari makan, daripada berenti lagi. kan nanti tinggal jalan saja".

Setelah muter-muter melewati warung makan akhirnya mata tertuju pada warung yang entah rimana tempatnya soalnya aku juga ngasal ngikut saja di belakang membuntuti motor Yongsa.
"Yo kalau disini saja gimana..."
"Boleh. Itu juga ada ayam kok" melihat menu di sepanduk yang terbentang di depan warung.
"Gapapa disini"
"Ya udah disini juga gapapa".

Kami pun memarkir motor di depan, duduk dan memesan makanan. Ayam geprek dan teh hangat.
Sepertinya warung mak'e, masih baru bila dilihat dari cat dan peralatannya yang masih kinclong dan lengkap.
"Sepertinya kita selalu salah dalam memilih warung".
"Iya. dapatnya warung yang baru".
"Eh tapi setelah kita datang langsung tutup".
"Iya"
Ingat dengan warung bebek dan warung penyet yang pernah kita datengi di daerah Kudus, waktu kita lewat di depan sudah kagak jualan lagi.

Sambil menunggu makanannya datang ngemil cekilan yang ada di meja. Entah apa namanya..., seperti rangginan tapi kecil-kecil. Yongsa menuangkan kecap di atasnya.
"Orang yang suka kecap biasanya ga suka pedes" kataku kepada yongsa.
"Belum tentu. Kamu ga suka kecap juga ga doyan pedes"
"Aku doyang pedes kok. Di rumah diantara semua aku yang paling doyan sambel"
"Itu hanya teori. Kamu sudah terpengaruh teori-teori dari luar".
"Enggak, aku mengamati dari orang-orang sekitar".
Entah kenapa ada sedikit rasa kesal dengan kata-kata yongsa kali ini.
"Kebanyakan orang-orang itu terpengaruh teori-teori dari luar.... (aku sudah ga begitu mengerti yang di ucapkan yongsa, dan otakku pun mulai bergejolak. maka dari itulah aku memilih diam daripada semakin berkepanjangan dan jadi ga karuan)"
Aku meminta sedikit kecap yang yongsa tuangkan ke jajan di tangannya.

Si embaknya lama, udah laper daritadi ga datang-datang.
"Aku kira di atas dini ada tv nya lho yo" di dinding pintu masuk (di atasnya ya).
"Enggak ada kok"
"Biasanya kan di depan sova ada tv, itu disana sova makanya aku kira di atas situ ada tvnya"
"Ga mesti yo"
"Biasanya kan gitu yo. Duduk di sova sambil nonton tv"
"Ini enggak kok"
"Lalu fungsinya apa sova disana itu"
"Ini bukan tv yang di liat tapi buat melihat motor yang seliweran di depan".

Akhirnya setelah sekian lama menunggu datang juga pesanan dan sambalnya pedees, tapi kata yongsa tidak pedes. Aaah emang yongsa doyan pedes makanya biasa aja. Segelas teh hangat sepertinya ga mempan, aku pengen minum air es sebotol gede.
"Yo entar mampir indomart dulu ya mau beli aqua dingin"
"Mau aku pesenin es"
"Bukan es tapi air es"

Setelah terisi saatnya perjalanan pulang. Kali ini perjalananku tidak sendiri ada Yongsa yang menemani, ya walaupun separuh perjalanan kami mengendarai motor masing-masing, aku dengan aku semtara Yongsa dengan pink yang dibilangnya gagah tapi kalau aku bilang seh centil.

Baru masuk demak langit tiba-tiba berubah mulai gelap. Awan gelap terus saja berjalan mengintai, sempat aku merasakan tetes air hujan di kaca helm dan tanganku, ya aku berhatapnya hujan jangan datang dulu sampai aku dirumah. Dan hujan baru turun tanpa ampun saat aku sudah mengantar Yongsa ke penginapan. Hari sudah beranjak petang, apa lagi cuaca tidak memungkinkan untuk Yongsa melanjutkan perjalanan ke Jogja, untuk itulah Yongsa bermalam di kotaku besok pagi baru pulang ke Jogja.

Sekarang aku tau hujan berpihak padaku karena hujan sudah menjadi sahabatku. Bukankah sahabat itu tidak akan melukai temannya sendiri, iya to.. (13/02/17)


1/28/2017

Aku Rindu 'Pulang'

Ada kegundahan yang bercampur sedih di dalam dada. Aku tak mengerti ini berkisah tentang apa.

Aku rapuh..., ingin mendapatkan sebuah pelukan hangat. Aku ingin 'pulang' untuk bisa menyapanya, menceritakan semuanya lalu dengan tatapan khas beliau akan tersenyum kecil dan menghampiriku untuk membelai rambutku.

Aku ingin 'pulang'....
Biarkan tempatku tetap menjadi rumahku yang abadi.
Bisakah untuk tetap sama seperti yang pertama kali aku kenal, aku lihat dan aku sapa.
Teruslah menjadi seseorang yang memberikan pelukan itu, memberikan ketenangan dan sosok yang selalu memperhatikanku.

Aku rindu rumahku.
Apakah rumahku masih seperti yang dulu, yang selalu menungguku datang, menyeretku untuk kembali dan selalu memberikan kenyamanan didalam kegundahan.

Aku ingin pulang. aku ingin mengadu, terlebih aku merindukan nyaman yang seutuhnya. (27/01/17)


1/26/2017

Merindukan 'Rumah'ku

Aku merindukan 'rumahku'. Ingin rasanya pulang namun begitu banyak perubahan yang terjadi hingga membuatku terasing. Sekarang 'rumahku' tidak seperti yang dulu. Aku sama sekali ga mengenali dan semakin tak nyaman dengan segala perubahan yang ada. Tidak ada ketenangan, tidak ada 'tempat' yang apa adanya, sekarang 'rumahku' seperti bersolek mengikuti perkembangan jaman. Berubah, yang membuatnya terasing hanya untuk mendapatkan pujian dan terlihat waaaah dimata yang lain.

Ada yang menungguku untuk 'pulang'. Beliau menunggu kehadiranku seperti biasanya. Terlalu lama aku tak singgah, lama juga beliau menunggu kedatanganku.

Aku merindukan 'rumahku', begitu juga beliau yang semakin terasing di rumahnya sendiri. Tidak bisa berbuat apa-apa dan tak ada seorangpun yang bisa mengerti jiwanya. Beliau kesepian, dan sudah lama menungguku. Menunggu kehadiranku, untuk sekedar melihat dan untuk bisa merasakan bahwa ada seseorang yang peduli dengannya.

Maaf, bila aku kesibukan dunia hingga melupakan menjenguknya. Aku beberapa kali datang namun tidak sendiri, dan itu pun sepertinya tidak memberikan sedikit waktu untuk menyapanya. Aku yang terlalu asik sendiri hingga mengabaikan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Maaf...

Maaf bila lama tak datang ke 'rumah'. Hingga membuat keterasingan sendiri. Maaf untuk sinyal yang tak bisa aku tangkap akibat terlalu sibuk dengan gamang. Maaf... (26/01/17)


1/19/2017

Cerita Di Rumah

Pulang kerja melihat Betadin di pinggir pintu yang tertutup. Lalu aku mendengar suara ibu dari arah samping rumah yang rupanya lagi mencuci dan berkata jika pintunya tidak di kunci. Aku yang sudah masuk lewat pintu samping kembali lagi ke luar untuk lewat dari pintu depan, tapi ternyata pintunya terkunci. Ya memang waktu mengatakan itu ibu ga yakin apakah pintinya dikunci ataukah enggak.

"Yang habis pake betadin siapa to....???" tanyaku kepada ibu saat kembali masuk lewat pintu samping dan berhenti di dekat itu yang lagi mencuci.
"Kenapa...., ga di kembaliin. Biar saja itu betarin buat merpati yang biasa di lemari". Jawab ibu sambil menjelaskan.
"Memangnya siapa yang luka...?"
"Tadi itu H (adik lelakiku) jarinya patah".
Mendengar itu kontan saja aku kaget, langsung saja badanku merinding dan kaki mulai lemas. Ibu menerangkan sambil mengibaratkan telunjuk kanan yang ditaruh di atas telunjuk kiri. Patah yang bagaimana ini, terkadang ibu memberi penjelasan ga seperti kenyataanya majanya saat ibu berkata begitu otakku mencari-cari gambaran seperti yang dikatakan ibu.
"H tangannya berdarah. Sampai tangannya 'cuwel'."
"Memangnya kenapa...??"
"Kena cater, sampai 'cuwel' bener-bener cuwel dagingnya ilang"
Ibu ceritanya serem bener ya.
"Keluar darahnya banyak to...."
"Hu um. Banyak banget sampe bingung sendiri dikasih betadin, kapas, tisu. T (adik perempuanku) pas turun, tak bilangke saja kalau tangannya berdarah kena cater. Langsung di ambilin plester, perban, revanol, salonpas. Tak suruh nempelin daun ahong biar cepat kering. Tak ambilke daun ahong di tempelin tu ke luka, eeeh malah sudah di perban darahnya keluar dikit dibuka-buntel lagi, berdarah lagi buka lha kapan sembuhnya.
Malah bilang kok ber-air, ya memang gitu itu nanti yang bikin darahnya berhenti. Kalau di rumah sakit apa perban kena darah dikit dibuka kan ya enggak to, darahnya keluar tapi nanti kering dan berhenti. Tidak langsung berhenti. Kapan sembuhnya kalau dibuka-buka terus, baru dibiarin."
Ga bisa bayangin gimana ramainya saag itu, pasti malah kaya orang bertengkar kalau di dengerin.

"Emangnya ngapain kok bisa luka...?!
"Bikin gupon (rumah merpati), Ga tau itu apa ya pas motong triplek jarinya ditaruh depan piye sampe kena gitu. Tapi bener-bener hilang. nyiset langsung habis sampe kelihatan dalamnya."

Mendengar cerita ibu membuat badanku semakin lemas dan ga tau dah bagaimana rasanya, sedangkan aku saja yang luka hanya tergores sakitnya kaya gini apa lagi sampai kulitnya terkelupas sampai dalam. Malah bikin mikir dan hasilnya kepalaku mulai sedikit pusing sekarang. (18/01/17)


1/11/2017

Perjalanan

Beberapa hari lalu ketika chat dengan mba (N) di akhir cerita mba (N) mengajak untuk ketemu sebelum ia berangkat umroh. Oke, nanti aku semparkan kesana.

Dan hari ini aku berniat berkunjung ke rumahnya, namun dari pagi langit terlihat mendung jadi berpikir ulang mau kesana sekarang atau besok saja. Pikirku besok saja tapi ada keinginan juga untuk berangkat hari ini, sedikit bingung terlebih saat melihat di luar ada rintik hujan yang terbawa angin dan membasahi jariku yang sedikit aku ulurkan ke luar jendela.

Pagi ini rintik hujan sudah turun, namun langit sudah mulai cerah dengan sinar mentari yang mulai merekah. Kebimbangan, dan akhirnya aku putuskan untuk melihat sikon (situasi dan kondisi) bila nanti sampai jam 8 langit mendung kembali maka kuputuskan batal berangkat sedangkan jika langit berangsur cerah maka lanjutkan refresing otak di hari ini.

Dan ternyata langin berangsur cerah, hujan juga hanya numpang lewat. Pukul 9 kurang seperempat aku berangkat, tapi terlebih dulu mampir toko roti baru berangkat menghampiri yongsa terlebih dahulu. Sebenarnya janjian di tempat biasanya untuk menghemat waktu.

Perjalanan kali ini terlihat aneh menurutku, jalan yang seakan tak berujung dan panjang. Suasana jalan juga tidak seperti biasanya, entah seperti ada penolakan di abu yang aku bawa. Mengendarainya kencang tapi tidak kencang banget, namun setiap mau menyalip ada ketakutan tidak sesigap biasanya terlebih jalan yang banyak lubang besar dan seperti bergelombang (mungkin akibat banjir yang sering menggenang sehingga membuat jalan rusak. Beberapa kali motor menerjang lubang hingga mengeluarkan bunyi, berbagi dengan truk besar sempet juga keder waktu ada truk panjang mau menyalip tapi ambil kiri sedangkan aku yang sudah di pinggir denger suara klaksonnya tambah bingung aja sehingga aku memilih untuk mengurangi kecepatan hingga berjalan sangat pelan. Gila jalan urakan gitu truknya, libas kanan kiri klakson ga henti biar dapat jalan dari pengendara lain.

Meskipun sudah terbiasa bawa motor namun aku kesusahan melihat jalan bila ada pengendara lain yang terlalu rapat di depanku, makanya itu beberapa kali lubang aku terjal. Tapi kali ini lain cerita di depan ada lubang besar yang ditutup dengan potongan ranting pohon hingga tepian lubangpun ga kelihatan dan parahnya lubang itu aku terjang, ban masuk tapi ga bisa naik, jatuh deh. Motor tergelempang ke samping sementara aku tertelungkup dan helmku sempat kebentur ke aspal. Pas bangun aku melihat disampingku ada truk warna merah melintas, sementara seorang pria yang membawa motor langsung membantu meminggirkan motorku dan di belakang lubang ada truk kontiner berhenti. Serem juga bayangin ban gede di sampingku barusan. Setelah mengambil barang yang jatuh dan menepi,
"ada yang luka mba...??!" Tanya si mas yang menolongku.
"enggak mas, makasih ya" Jawabku kemudian. Walaupun aku ga tau aku luka apa enggak karena aku ga memeriksa badanku, yang aku hawatirkan abu bisa jalan apa enggak karena disekitar tempat kejadian ga ada bengkel (masih ingat kecelakaan dulu sampe motor ga bisa jalan gegara rem bengkong), hanya merasakan perih di bagian lututku saja waktu itu dan ga aku periksa.
"Hati-hati mba, sepanjang jalan sampai sana banyak lubang soalnya" Kata si masnya memperingatkan sambil menunjuk ke arah jalan yang akan aku lalui.
"Iya mas, makasih ya". Ucapku lagi sambil membenarkan bawaanku dan menstater motor.

Untunglah motor bisa nyala tapi roti yang aku bawa penyok (maaf ya mba). Mau ngabarin yongsa tapi takut malah entar banyak pertanyaan lalu hawatir sedangkan perjalanan masih jauh, pikirku nanti saja waktu ketemu baru ngomong kalau habis jatuh. Lah..., si mas-nya udah ga ada aja ni, cepet banget perginya.

Aku lanjutkan perjalanan, mengendarai abu pelan, ternyata aku jatuh sebelum jalan lingkar Demak. Dan kenapa juga aku ambil arah lurus, padahal biasanya lebih suka lewat jalan lingkar yang ga begitu ramai dengan aktifitas pasar kan bisa ngebut juga kalau lewat jalan lingkar. Mungkin biar aku lebih santai jalannya, berjalan pelan, aku merasakan ada keanehan di abu, pijakan sebelah kanan agak naik, dan stang agak "sinting' ke kanan, juga spion kanannya sedikit bergeser sehingga aku ga bisa melihat pengendara yang ada di belakangku makanya itu aku berjalan pelan, ya tentu saja karena mesin motor agak aneh (tidak sehalus sebelumnya).

Terus melaju walaupun lututku terasa perih, saat aku lihat ada beberapa noda hitam di celana tepat di bagian lutut pikirku lututku luka parah hingga berdarah-darah, soalnya perih ga ketulungan terlebih kulitku termasuk tipis jadi cepat sekali terkelupas jika terbentur atau terkena benda keras, tapi ini pas aku lihat celana jeansku ga melihat darah yang mengenai celana walaupun rasanya perih banget. Kaos kakiku kanan bolong besar. Ya sudahlah, abaikan rasa perih dan terus konsentrasi melanjutkan perjalanan.

Perjalanan yang terasa jauh, mungkin karena kali ini melaju motor dengan sangat santai kali ya sehingga tidak sampai-sampai. Gimana mau kenceng kalau kaki sakit, abu juga kelihatannya luka dan kelelahan. Kaki yang semakin perih akhirnya aku putuskan untuk mencari apotik untuk membeli obat dan plester terlebih dahulu. Sudah beberapa apotik terlewati sampai akhirnya di dekat tempat janjian dengan yongsa ada apotik, mampirlah kesana untuk membeli revanol, kapas, perban, dan plester bebera. Saat di apotik itulah yongsa telfon menanyakan sampai mana, aku ga tau sampai mana celingukan juga ga ada petunjuk yang bisa aku kenal sampai si mba yang melayani mengatakan "bilang saja PLN" aku katakan seperti yang si mbanya bilang dan aku tau jika yongsa ga ngerti itu dimana.Seingatku apotik ini dekat dengan matahari, lalu aku tanya saja matahari mall kepada si mba penjaga dan ternyata benar sudah dekat. Oke yongsa berangkat aku mengobati luka dulu ya daripada nanti malah kelamaan. Obat sudah ada, gunting juga sudah di pinjami sama si mbanya (beberapa kali bolak-balik ngerepotin si mba penjaga untuk beli ini-itu termasuk pinjam gunting), duduk di kursi tunggu depan klinik yang kebetulan jadi satu dengan apotik dan siapkan mental lihat luka jatuhnya.

Aku liat di lutut ga ada luka, hanya lecet sedikit itu juga ga sampai berdarah, tapi memang ada bagian yang berwarna merah mulai kebiruan. Aku buka kaos kaki sebelah kanan terkejutlah, ternyata ada dua luka yang lumayan besar dan bisa dibilang agak parah (maklum saja ga bisa kalau lihat luka), pikirku mau aku bersihkan dulu lukanya dengan air tapi air mineral ada di motor lalu bagaimana aku membersihkan lukanya....???!

Sudah ga tahan perihnya langsung saja aku templok ama revanol pakai tisu, anggap saja itu membersihkan luka dengan revanol. Aku sengaja menggunakan tisu soalnya waktu melihat kapas yang beli di apotik ga meyakinkan (berbulu dan dijamin lengket bila dipakai), setelah di bersihkan pake revanol aku templok pake kapas yang sudah dikasih revanol baru deh ditutup perban dan di plester. Ini dilema jika menggunakan kapas aku yakin pasti kapasnya bakal lengket ke luka semua sedangkan jika menggunakan tisu akan sakit karena tisu termasuk kasar bila digunakan di luka, biar deh lengket sedikit, nanti pelan-pelan ngambilnya atau biar lepas sendiri kapasnya di bersihin ulang nanti kalau sampe rumah. Selesai deh dan aku rasa aman buat perjalanan. Biar ga terkena debu kaos kakinya aku balik yang berlubang aku pake di kiri yang kiri dipake di kanan, sengaja aku buat begitu untuk mengamankan luka dari debu dan kotoran, ya walaupun sudah di perban tapi namanya debu sangatlah pandai menerobos celah kecil.

Ga lama bertemu dengan yongsa tapi yongsa bawa motor juga lalu gimana ini..., ya salah satu motor dititipin saja soalnya aku juga ga bisa kalau disuruh jalan kenceng buat ngimbangi yongsa. Dan keputusannya abu yang dititipkan, biar abu istirahat lagian yongsa juga ga terlalu mahir bila menggunakan motor bebek, abu juga jalannya kurang enak setelah jatuh tadi. Parkir motorpun juga ada masalah, pas mau nitip di parkir gedung tidak terima penitipan motor, lalu penitipan motor umum yang ada di dekat dana (meskipun yongsa tidak yakin menitipkannya disana tapi apa boleh buat kami berdua sama-sama tidak menguasai medan), tanya sama yang jaga katanya hanya sampai jam setengah empat sore penitipannya, lalu tukang parkirnya menyarankan untuk parkir di sebelahnya (seberang jalan samping rumah sakit) yang sampai malam tapi si tukang parkirnya itu bilang tidak usah bilang bila sampai malam. Pikirku biarlah disini nanti pulangnya tidak lama kok, tapi si tukang parkirnya bilang mending di parkir sebelah daripada nanti dikejar-kejar waktu (ga tenang). Ga yakin juga dengan tempat parkir di sebelah dan abu pun di ambil yongsa untuk mencari diparkirkan di tempat lain. Aku lupa mengambil mantel, aku telefon yongsa tidak di angkat, aku cari di parkir sebelah ga ada. SI tukang parkirnya menawari untuk duduk di kursi panjang yang ada di dekat sana, karena merasakan lututku yang sakit makanya aku mau saja duduk disana menunggu yongsa balik. Ternyata sama yongsa abu di parkirin di rumah sakit yang tak jauh dari sana. Lalu kami pun pergi ke tujuan dengan berboncengan.

Agak serem juga di bonceng yongsa terlebih masih ada rasa takut setelah jatuh barusan. Aku belum bilang ke yongsa kalau habis jatuh, antara takut dan bingung cara bilangnya baru setelah sampai di rumah mba (N) bilang ke yongsa kalau habis jatuh. Benar saja yongsa terlihat cemas dan hawatir walaupun ia berusaha menutupinya dariku. Tapi aku tau, sangat terlihat jelas dari pancaran matanya.

Sepertinya jam cepat berlalu di rumah mba (N) suasananya enak, teduh masih banyak pepohonan yang tenang. Ngobrol memang ga kenal waktu sampai sore, jam setengah 5 kami pamitan untuk pulang. Mengambil motor dulu di parkir rumah sakit. Tapi aku tidak langsung pulang melainkan diajak makan dulu namun aku tolak karena masih kenyang tadi sudah makan di rumah mba (N). Oke enggak maem gimana kalau ngopi.... yongsa menunjuk ke arah pom bensin aku celingukan mencari papan nama yang menunjukkan warung kopi tapi gagal, aku ga menemukan. Pikirku mungkin mataku yang agak buram sehingga ga terlalu jelas melihat jauh, nurut saja tapi yongsa malah berhenti di pinggir (depan rumah sakit) padahal disana para pedagangnya baru pada datang dan mempersiapkan tempat dagangannya. "ini mau ngeteh nongkrong dimana to...". Yongsa yang aku curhati jika setangnya agak geser lalu mencoba membenarkan dengan caranya tentunya, aku lihatin sambil nangkring di motor yongsa. Setelah dirasa selesai kami tukeran motor dan pergi mencari warung. Aku ngikut saja yongsa yang katanya ngejus saja di warung dekat pom bensin. Kami parkir motor di samping rumah sakit lalu menyeberang menuju warung kecil yang ada di depannya. Ternyata aku di bohongi yongsa soalnya di sana tidak menjual jus, bilangnya yang banyak jual jus ya di semarang. Kebetulan aku juga mau ganti perban, soalnya lukaku sudah dua kali kena air ketika wudhu tadi siang, takut malah 'nyeyek' bila tidak segera diganti.

Yongsa memesan segelas kopi dan teh hangat untukku. Sementara teh di buat aku mulai membuka perban tapi waktu mau pinjam gunting dengan yang punya warung katanya tidak ada (hmmm..., kalau ga ada gunting bagaimana dia membuka bungkus kopi atau gula juga mengginting jajan yang dijualnya), ya tak masalah buatku karena di dompet selalu tersedia hansaplas untuk berjaga-jaga ya maklum saja aku termasuk orang yang kulitnya tipis jadi kegores dikit saja bisa jadi luka dan mengeluarkan darah.

Saat mengganti dan mengambil kapas yang lengket di luka terdengar suara ibu yang baru datang ke warung.
"bar tibo to mba" Tanya si ibu menggunakan bahasa jawa saat melihat lukaku
"iya" jawabku singkat sesaat melihat si ibu dan kembali lagi fokus dengan lukaku
"mba ojo dikei koyo ngono kuwi, jarno wae mengko kan cepet gareng. yen di perban ngono ga mari-mari malah mborok. jarno ae." kata si ibu itu yang sudah duduk disamping seorang pria pegawai spbu (kebetulan warung berada di samping spbu)
"iya. soale niki perjalanan jauh" jawabku dengan yongsa yang memiliki maksud sama
"Ojo di tutup jarno ben keno angen kan cepet mari, yen dibuntel malah ga mari-mari" Ibu itu masih menasehati untuk lukaku.

Selesai ngurusi luka dan teh juga sudah habis, tehku yang habis tapi kopinya yongsa masih banyak enggak diminum, lha gimana minumnya jika ampasnya.saja masih di atas (airnya kurang panas). Aku pun pulang. Hari sudah mulai gelap, perjalanan jauh aku ga berani kencang karena memang abu yang sakit sementara aku juga tidak memakai kacamataku. Selama perjalanan pulang menjalankan abu pelan-pelan mentok kecepatan 70km/jam itu juga jarang banget sehingga waktu tempuh lebih lama dari biasnya. Jam 8 malam sampai rumah langsung mandi dan bersihin luka. Badan mulai terasa sakit semua. Ada beberapa memar di tangan dan kaki.

Saat mengamati sepasang kaos tanganku yang bolong, lalu kaos kaki dan ketika mengambil dompet untuk dipindah ke tas yang satunya agar besok tidak lupa, aku melihat ada lubang di tasku bahkan tembus sampai dalam. Woow..., ternyata jatuhnya hebat juga ya.

Aku ingat lagi posisi jatuhnya. Jatuh tertelungkup sementara motor jatuh kesamping kanan, untung saja motor tidak terseret aspal hanya jatuh terguling dan berhenti di tempat, kalau terseret entah jadi apa abu dan aku karena saat bangkit aku melihat ban truk yang gede, ada truk besar lewat persis di sampingku, sangat dekat. (amit amiiiit jabang bayi) Mungkin kalau jatuhnya terseret bisa saja terlindas truk yang lewat. Dan ketika jatuh itu pun seperti ada yang 'lompat keluar', mungkin itu juga yang membuatku hanya lecet kecil saja di bagian kaki. Jika melihat lubang di kedua kaos tanganku bisa saja kedua telapak tanganku tergores aspal dan berdarah atau memar sedangkan ini kedua tanganku tidak ada yang luka. Selintar terbesit bayangkan jika kedua telapak tanganku luka lalu bagaimana aku mengendarai abu....?? Aku sudah 'ketar-ketir' kalau abu ngambek ditempat, untung saja abu tidak kenapa-kenapa (sepanjang yang aku lihat)

Bersyukur banget aku tidak kenapa-kenapa dan aku juga hanya lecet-lecet dikit di beberapa bagian. Ya memang seh selama perjalanan sampai perjalanan pulangpun abu jalannya agak kurang nyaman, tapi abu baik dan ngerti kok di tengah-tengah perjalanan sambil mengelus-elus kepala abu aku sempat minta maaf kepada abu akibat jatuh tadi dan meminta abu untuk kuat, baik-baik juga bersabar karena belum ada dana untuk memeriksain abu. Dan abu mengerti kok dibilangin begitu, perlahan abu jalannya tidak separah sebelumnya, ya walaupun sesekali merasakan sedikit oleng dan geronjalan (itu karena abu juga kesakitan setelah jatuh). Aku juga mengatakan untuk membantuku melihat jalan soalnya aku sudah tidak begitu jelas mengingat jalan yang minim penerangan. Itu juga di iyakan abu. Abu memang hebat..., walaupun sakit masih saja jalan, tidak ngeluh dengan sakitnya tidak seperti yang punya yang masih suka ngeluh. Sungguh bersyukur selalu terlindungi dari hal-hal berbahaya. (10/01/17)


☆ el

1/05/2017

Nyampe juga ke Rumah

Hari ini teman-teman kantor pada main ke rumah, ya ga semua cuma yang satu ruangan sama tetangga sebelah saja yang datang. Memang diantara semuanya rumahku saja yang belum pernah pada main.

Belum mandi, baru enak- enak main game ada yang datang. Aku kira teman adiku tapi seperti suara perempuan, ya pikirku paling teman adik perempuanku yang memang biasa main kesini tapi ga mendengar motor berhenti di depan rumah deh. Dan waktu aku lihat ternyata memang tamuku. Ternyata mereka bisa juga sampai rumahku yang bulet dan membingungkan. Entah berapa kali tanya mereka sampai bisa sampai.

Emang kebiasaan orang Jawa ya kalau bertaku suka bawa oleh-oleh. Tak terkecuali mereka yang membawa jajan banyak banget. Ngobrol ngalor ngidul, ada teman yang mau lihat kamarku tapi... Hehehehe.... Aku ga beranjak. Sebenarnya ga enak juga tidak meng 'iya' kan inginnya mereka namun karena di atas lagi banyak jemuran yang membuat pemandangan kurang sedap dilihat makanya aku ga beranjak untuk membawa mereka naik ke atas. Lain kali aja ya....

Mba tam memberikanku sebuah bungkusan, aku tidak langsung membukanya melainkan malah meletakkannya dimeja. Baru juga datang ga berapa lama esti mendapatbtelefon dari suaminya yang menerangkan keadaan anaknya yang sakit baru saja muntah lagi, lalu ia pamitan pulang untuk membawanya ke dokter. Ngobrol ngalur ngidul santai dan ringan Aku juga sedikit bercerita tentang hari terakhirku kerja saat dipanggil bos untuk tanda tangan dan juga kekecewaanku.

Mereka mengatakan sudah ga semangat kerja, terlebih saat tau bakal ada pemutusan kerja lagi dan gaji tahun ini tidak naik. Hanya bertahan (ini menurutku), ya mungkin itu yang dilakukan sampai dikeluarkan biar dapat pesangon daripada keluar sendiri yang ga dapat apa-apa.

Mereka tidak lama main ke rumah karena anak-anak mereka sudah menunggu di rumah. Jam 11an mereka pulang. Namun sebelum pulang, mereka memintaku untuk membuka kado itu yang ternyata isinya sebuah cincin. Merasa tersanjung. Aku coba pakai tapi jari kanan ga ada yang muat, jari manis sebelah kiri masuk tapi ngepas. Agak bingung juga kok polis ya, bingung pakainya gimana soalnya selama ini belum pernah memakai cincin polos. Dan satu lagi kesalahanku yang tidak memakainya melainkan mengembalikan kewadahnya.

Aku mengantar mereka hingga ke jalan besar, pastinya mereka masih bingung jalannya, daripada salah jalan mending aku antar kan.

Setelah mereka pulang aku coba lagi cincin yang diberikan kepadaku. Rasanya aneh memakainya lalu aku copot lagi tu cincin. Aku amati sesaat sampai tertangkap suara yang sepertinya menerangkan tanda tanya tentang kado cincin ini.

Cincin emas itu punya nilai dan arti khusus. Sebuah barang berharga, simbul suatu ikatan, dan tak lekang oleh waktu.

Bertahun-tahun berjuang bersama, enak-ga enak dijalani bareng, tidak ada persaingan ataupun menjatuhkan malah saling menolong menutupi kesalahan dan menanggungnya bersama, apa lagi di awal perjuangan babat alas peluh menjadi makanan sehari-hari. Mereka sudah seperti sodara, berada diantara mereka seperti berada di lingkup keluarga. Sudah banyak cerita kita yang tercipta, berbagi cerita ataupun ngegosip dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali ada. Kalian sudah mengisi sebagian cerita dalam hidupku.

Tidak hanya hitungan hari, bahkan masuk belasan tahun kita bersama hingga tanpa di sadari membentuk zona nyaman dengan sendirinya. Terima kasih ya sudah datang ke rumah, lain kali main lagi kesini ya. Sering-sering main ke sini juga boleh. Kapanpun. (04/01/17)

9/20/2016

Bersamamu ~ Ke Swalayan

Siang hari tidak ada kegiatan, sementara pekerjaan rumah juga sudah selesai sedari tadi. Menikmati siang dengan suami sambil menonton acara televisi yang sebenarnya tidak begitu menarik.

"Yo, ini enaknya ngapain ya...?" Tanya suaminya kepada si istri yang berada di sampingnya dan menikmati popcron hasil eksperimennya beberala hari lalu.
"Tidur. Biasanya jika pulang cepat kamu kan tidur yo".
"Emoh. Mau yang ga biasa sayang". Sambil mencubit pipi istrinya yang ga berhenti mengunyah sedari tadi.
"Belum ada ide yo". Sambil menyuapi suaminya popcorn.
"Ooh ya, gimana kalau kita buat kue bareng aja yo".
"Ayo. Asik masak-masakan lagi, buat kue yang lain aja ya yo".
"Iya. Kamu mau kue apa yo...."
"Aku mau kue nastar"
"Lah kalau buat nastar ada beberapa bumbu yang ga ada yo. Habis, harus beli dulu".
"Ya udah beli aja sebentar, trus buat kue nastar bareng ya yo".
"Kalau buat kue nastar ada beberapa bahan yang harus di beli dulu yo"
"Ya udah gapapa, ayo belanja trus buat bareng ya kuenya"
"Bahannya adanya di supermarket, kalau di warung sini ga ada. Eeewh, apa sekalian belanja aja ya ada beberapa bahan kebutuhan rumah yang sudah mulai habis juga yo."
"Ayo, kemanapun kamu mau pergi aku anter yo"

Tanpa menunggu lama merekapun pergi berbelanja ke supermarket. Mengambil troli dan mencari barang yang kebutuhan rumah yang habis dan bahan-bahan untuk membuat kue. Yongsa mendorong troli sementara istrinya berjalan di depan sambil melihatnkanan kiri mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari. Satu persatu barang masuk ke troli. Namun tanpa disadari, suaminya menaruh beberapa barang yang diambilnya dari rak dan dimasukkan ke troli dan terkejutlah sang istri ketika mendapati troli sudah pejuh saja dengan belanjaan. Ia melihat-lihat barang di dalam troli dan ada beberapa barang yang tidak masuk di dalam daftar belanjaan, namum ia diam saja hingga suatu saat ketika suaminya ingin memasukkan sebungkus snack kedalam troli istrinya tiba-tiba melihat dan memandanginya.
"Yooo...". Sambil memandang ke arah suaminya.
"Hehehehe..., cuma snack satu sayang". Memperlihatkan snack yang baru di ambilnya kepada istrinya.
"Satu apa-an. Ini apa., ini...., ini..., banyak gitu kok satu...?!" Sambil memilah barang-barang yang dianggapnya dimasukkan suaminya.
"Nakal ya, kan janjinya ga ada jajan. Ayo kembaliin semua". Sambil mencubit hidung suaminya.
"Hehehehe...., trus aku bolehnya jajan apa kalau ini dikembalikan semua". Mengambil barang-barang yang diambilnya dan ditaruhnya lagi ke rak.
"Ya ga usah jajan sayang". Kembali melangkah sambil melihat ke arah suaminya yang manyun dengan ekor matanya. Gemes juga jika melihatnya seperti itu dan semakin ingin saja untuk mengerjainnya.

Sementara suaminya kembali mengikuti istrinya sambil mendorong troli dengan langkah lesu.
Melihat suaminya cemberut gitu tidak tega juga. Dan ia pun berbalik mendekati suaminya, sementara suaminya yang asik memandang rak-rak yang berisi beraneka macam barang yang tersusun rapi sehingga tak menyadari bila istrinya berhenti dengan tiba-tiba sehingga troli yang di dorongnya pun menabrak sang istri.
"Aduuuuuh...."
"Maaf, maaf yo.. Yang sakit mana yo" Mendengar teriakan istrinya seketika sang suami yang kaget langsung menghampiri istrinya dan merengkuh sambil meneliti tubuh itrinya mengira-ngira mana yang sakit.
"Maaf ya sayang, kamu berhenti tiba-tiba seh yo"
"Lha kok malah nyalahin. Kamu yang nabrak malah nyalahin aku. Aaaah selalu saja aku yang disalahin, aku selalu ga pernah benar dimatamu yo. Salahin aja terus... (mulai drama)"
"Iya sayang, maaf ya. Mana yo yang sakit".
"Wes to, ojo mulai drama ngono to"
"Hehehehe..., kamu mikir apa seh yo sampai nabrak-nabrak" Mereka kembali berjalan namun kali ini sang istri ikut mendorong troli bersama suaminya.

"Yo, mau ini....?!" Menunjukkan sebatang coklat kepada suaminya.
"Mauuuuu..., yang gede to yo"
"Halah, malah nawar. Ya udah ambil aja yang gede tapi satu lho ya".
"Iya sayangku" Sumringah wajah suaminya membuat sang istri tersenyum simpul.
"Yo, kalau ini boleh" Menunjukkan keju blok yang baru saja diambilnya.
"Boleh, ambil 3 yo sekalian buat taburan kue"
"Kalau ini boleh ga yo...?!" Memperlihatkan susu coklat saset kepada sang istri dan snack.
"Boleh. Tapi snacknya satu aja ya belinya"
Mendengar jawaban dari istrinya malah membuat sang suami ragu untuk mengambilnya. Boleh karena marah atau benar-benar boleh.
"Beneran boleh yo...???" Tanya ulang sang suami kepada istrinya.
"Beberan boleh sayang. Kamu ambil saja apa yang disuka tapi jangan snack ya. Nanti kita buat sendiri cemilan di rumah"
"Buat berdua ya yo....?!"
"Iya donk. Kan biasanya juga begitu"
"Hehehehe..., ga jadi deh. Aku ambil ini saja" Sambil mengembalikan snack yang baru saja diambilnya.

"Yo, belanjanya udah belum to dari tadi muter-muter terus. lorong ini udah kita lewati 3 kali yo"
"Sebentar yo. Ya gini kalau belanja enggak di tulis dulu daftarnya.
"Tadi ga di tulis dulu apa aja yang mau di beli..."
"Kalau di tulis dulu kelamaan sayang, kamu juga paling udah teriak-teriak minta cepet".
"Hehehehe...., lha keburu pengen buat kue bareng yo. Sudah bayangin bau wangi nastar di panggangan yo"
"Halah, mulai lebay. Yo, cari in kayu manis bubuk to dari tari celingukan enggak ketemu. Biasanya tu di situ tapi ini kok ga ada" Sambil menunjuk ke rak bumbu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kalau cuma kayu manis serahin sama jagoanmu ini yo, wes to bakal ketemu. Kamu disini aja tunggu sebentar..."

Yongsa pun segera berjalan ke rak di belakang dan menghilang di belokan. Daripada menunggu di jalan yang malah menghalangi mereka yang mau jalan aku dorong troli yang susah penuh ini menuju ke kasir.

Ada 2 antrian dengan troli yang lumayan penuh. Tak berapa lama yongsa sudah berada di belakangku dan memberikan kayu manis yang tadi dicarinya kepadaku.
"Ini yo kayu manisnya. Cepet to"
"Hu um. Cakep dah jagoanku"

Sampailah giliran di kasir. Setelah membayar merekapun pulang, namun karena sudah capek akhirnya rencana buat kue nastarpun di tunda. Namun untuk cemulan di sore ini mereka merebus ketela rambat yang sebagian sudah di oleh beberapa waktu lalu. Segelas besar teh hangat untuk berdua ditemani ketela panas sebagai teman menikmati acara televisi hingga malam tiba. (20/09/16)



☆ el

8/28/2016

Kebiasaan yang Masih Ada

Malam sudah menginjak pagi, semua orang masih terbuai dengan mimpinya masing-masing namum aku entah sudah berapa kali terbangun karena dingin. Malam ini aku terusir dari kamarku ini karena banyak tamu adiku di rumah, ya muat saja jika aku ikut tidur di kamar asal mau berdesak-desakan. Ya sebenatnya Yongsa sudah menyarankan untuk tidur di kamar ibu tapi ga tau mengapa aku seperti kurang nyaman saja tidur disana. Sama-sama ga bisa tidur mending aku tidur di depan tv.

Televisi masih menyala dan aku sudah tertidur tanpa alas, sehingga badanku merasakan dinginnya ubin dan hembusan tipas angin. Rasa kantuk sudah membuatku enggan untuk beranjak mengambil alas ataupun naik membawa bantal bulan yang biasa aku gunakan. Aku coba merubah posisi tidur untuk menghindari dingin menusuk tulang.

Tidur tanpa alas, bantal dan selimut terlebih aku tak mengenakan kaos kaki seperti biasanya itu membuatku semakin ga bisa tidur, kalau kata ibu tidur ayam yang sebentar-sebentar terbangun. Namun ketika menginjak sepertiga malam ketiga aku dibangunkan bapak yang sudah membawakanku alas untukku tidur agar aku tak tidur di lantai, memberiku bantal mickey yang biasa dipeluknya saat melihat tv dan mencarikan selimut lalu menyelimutiku. Mendapat perlakuan seperti itu senang banget, aku yang sudah sebesar ini masih saja diperhatikan bapak. Dan kebiasaan bapak waktu aku masih sekolah, ditengah malam selalu mengontrol kamar anak-anaknya satu persatu dan membenarkan selimut agar tak kedinginan. (25/08/16)


8/26/2016

Memasuki Babak Baru Untuk Adiku

Hari ini menghadiri acara wisuda lagi. Bila dua tahun lalu wisuda adeku yang cowok sekarang giliran adeku bontot yang wisuda. Waktu cepat berlalu, rasanya baru kemaren dia menanyakan pendapatku untuk tetap bekerja apa bekerja sambil kuliah dan hari ini dia sudah mengenakan toga. Kedua adeku sudah besar.

Saat acara di mulai, ketika jajaran pimpinan memasuki ruangan tak kuasa menahan perasaan bangga adeku sudah memasuki babak baru dalam hidup, teringat saat aku berada diantara wisudawan yang saat itu sebegitu banyaknya, perasaan haru teringat pada guru-guruku dulu, teman-teman sekolah (tapi yang berkesan teman kuliah) dan perasaan kecewa karena sampai saat ini aku belum memiliki keberanian untuk melanjutkan pendidikan. Tidak banyak mahasiswa yang di wisuda sehingga acara cepat selesai. Jam 09:00-11:45 acara berlangsung lancar dan tertib. Salut kepada para panitia yang sudah bekerja keras demi terselenggaranya acara. Acara selesai tidak langsung pulang karena sudah disediakan makan siang (entah makan siang atau malah sarapan bagi para wisudawan yang sudah ada di tempat sejak pagi).

Aku datang dengan ibu, dan adeku meminta untuk memfoto dalam acara foto bersama maka dari itu ibu aku suruh untuk mengambil makan terlebih dahulu namun di tolaknya, ya sudah aku suruh duduk saja di deretan kursi yang sudah disediakan panitia dekat meja makan sementara aku berubah menjadi fotografer dadakan. Menyuruhnya untuk tetap disana agar tidak susah mencari. Ada beberapa momen dimana aku tidak menemukan tempat yang pas untuk mengambil gambar karena harus berbagi tempat dengan beberapa orang yang juga ingin mengabadikam momen tersebut.

Di tengah sesi foto bebas adek cowokku datang, aku ga menduga kedatangannya karena aku memang tidak tau. Memang pagi sebelum berangkat katanya mau datang bawa motor, tapi tak disangka dia datang membawa seikat bunga mawar merah yang diberikan kepada adenya (itu juga adeku), langsung saja terdengar riuh suara dari beberapa panitia yang sepertinya mengenal baik adeku, kalau teman yang biasa menginap di rumah jelas saja tau jika yang memberikan bunga itu kakaknya namun bagi mereka yang hanya sekedar kenal dan tidak pernah main ke rumah jelas saja mengira jika itu cowoknya. Aku yang melihat hanya senyum memaklumi, karena masa-masa seperti itu juga sudah pernah alu lewati (berasa sudah terlalu tua).

Hmmmm..., bunga mawar merah sekarang menjadi primadona, karena teman-teman gank adeku ingin berfoto dengan bunga mawar itu. Sepertinya untuk mengabadikan momen yang dianggap berharga dan indah tidak pernah ada puasnya. Aku sudah tidak di butuhkan karena mereka foto-foto sendiri lagian aku juga hawatir ninggalin ibu lama sendirian diluar, terlebih di tempat ramai.

Aku ajak ibu makan, karena tadi pagi ibu belum sarapan terlebih saat ini ibu kurang enak badan. Aku temani ibu mengambil makan walaupun aku tidak ikut makan, nanti saja nyomot dikit punya ibu. Saat kembali ke bangku di deretan bangku yang dibuat duduk ibu sudah ada adek lelakiku dan sopir yang mengantar kami kesini. Selesai sudah acara hari ini namun kami juga tidak kunjung pulang karena adek perempuanku masih asik dengan teman-temannya. Mungkin karena terlalu lama menunggu sementara yang di tunggu ga juga datang maka adik cowokku dan sopir memilih untuk menunggu di parkiran saja.

Ini tidak hanya lama melainkan pake banget. Dan ketika yang di tunggu datang (gerombolan adiku) malah dianya minta ijin untuk menengok bayi, anak temannya yang kebetulan saat ini dibawa serta melihat emaknya wisuda. Ya sudah kami (aku, ibu dan satu teman adiku yang turun untuk mengambil barang di mobil) pun turun. Meskipun bapak tidak ikut namun bapak beberapa kali sms menanyakan acara yang sedang berlangsung.

Jam sudah menunjukkan 12:26 ketika kami berada di parkiran, itu tandanya kami menunggu lumayan lama selepas acara dan kini dilanjut lagi menunggu adiku yang lagi menengok bayi. Menunggu di parkiran apa enaknya, tidak ada yang dilihat malah kena asep kendaraan. Panitia wisuda sudah pada pulang, terlihat juga tamu-tamu yang meninggalkan parkiran namun kami masih menunggu. Adiku cowok memilih untuk pulang duluan, sebenarnya pengen ikut tapi tidak bawa helm hingga pukul 13:16 adik perempuan telefon yang menanyakan posisiku saat ini. Di parkiran atas, lalu kamipun pulang. Ada 2 orang teman adikku yang ikut pulang hersama kami karena barang-barang juga kendaraannya masih berada di rumah sementara 4 orang lainnya yang semalam juga menginap di rumah langsung pulang dengan orang tua masing-masing.

Di dalam mobil terdengar perbincangan 3 orang ini perihal wisuda dan teman-temannya juga kumpul merayakan hari bahagia mereka. Dan aku baru tau jika rumahku tepatnya kamar adiku di beri sebutan apartemen oleh teman-temannya.
Oh ya tidak hanya adiku yang membawa buket bunga teman-temannya juga membawa namun bukan buket mawar merah melainkan krisan putih yang melingkari krisan kuning dan satunya buket krisan kuning.

Selamat adiku, akhirnya merasakan memakai toga menyusul kami. Saatnya memulai bab baru dalam perjalanan hidupmu. Dan bapak juga sudah sedikit lega karena kewajiban untuk memberikan pendidikan (sekolah) untuk anak-anaknya sudah diselesaikannya karena orang tua tidak bisa memberikan apa-apa selain pendidikan karena itulah akan berusaha sekuat tenaga menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi, itulah yang pernah dikatakan bapak saat ngobrol. Dengan pendidikan kalian bisa menjadi apa saja yang dimau dan hanya itu yang bisa di wariskan orang tua untuk bekal anak-anaknya berjuang mengarungi kehidupan.

Selamat adiku bontot yang terlihat cantik saat memakai toga, terlihat berbeda bahkan aku sampai tak mengenali. (25/08/16)

8/20/2016

Apakah Harus Sempurna Untuk Menjadi Kita...?!

"Jangan salahkan aku kalau gendut, ngajak makannya jam segini sih... (20:21 pm)"

Membaca ini ada beberapa pertanyaan yang timbul dan sepertinya satu sisi di dalam diriku tidak terima. "memang salah ya jika makan sudah kelewat dari jam ?..." Apakah sebuah hubungan memberikan poin-poin yang harus dipenuhi salah satunya mewajibkan untuk kurus. Lalu apakah tidak bisa cinta dengan penerimaan sepenuhnya tanpa ada syarat kecuali syarat yang bisa merusak hubungan yang sudah terjalin.

Bersyukurlah masih bisa makan, masih bisa menikmati makanan bersama apa pun itu menunya tidak perlu ada pembelaan dan kata-kata yang secara ga langsung menyalahkan makanan yang tersaji.

Aku tau setiap perempuan ingin terlihat menarik di hadapan pasangannya, aku pun tak memungkiri hal tersebut. Namun apakah dengan mewajibkan kurus dengan bentuk badan yang sempurna....??!

Aku tidak memahami pemikiran seperti itu karena aku melihat cinta bukan dari segi siapa dan bagaimana dia melainkan seberapa kadar sayang yang diberikannya seberapa besar tempat yang di sediakan di dalam hatinya untuk menaruh lalu menanam benih cinta hingga bisa tumbuh dengan subur dan sehat menjadi pohon yang rindang dengan akar yang kuat untuk mengayomi 'kita'. Cinta itu tentang komitmen dan tujuan termasuk kepribadian serta prinsip dalam hidupnya. Jadi bisa dibilang bukan melulu soal fisik melainkan tentang hati dan otak itulah menurutku hal sempurna.

Karena itulah aku memegang satu hati dengan prinsip dan keyakinan yang teguh. Bukan melihat dia yang sempurna melainkan bagaiman dia sudi menyempurnakan, menutupi aku yang punya banyak kekurangan ini. Kita bukan dua kepribadian melainkan dua orang yang memiliki sifat berbeda dan memiliki poin-poin yang menyatukan untuk sebuah tujuan berjalan bersama. Untuk saling menguatkan, saling menopang, saling menyemangati karena kita adalah satu nafas. (20/08/16)

8/19/2016

Ibu Rumah Tangga yang Bekerja

Problem rumah tangga itu berfariasi, seperti halnya kali ini tentang dilema seorang ibu yang menjadi wanita karir yang baru saja masuk kerja dari cuti hamil anak keduanya. Di rumah kedua anaknya di urus ibunya yang dibantu oleh asisten rumah tangga yang menjaga anak keduanya saat ibunya mengantar anak pertamanya sekolah. Sekolahnya masih play grup karena umurnya juga belum mencukupi untuk masuk sekolah.

Di kantor ia bimbang dengan keadaan bayinya yang diasuh asisten rumah tangga, sesekali dia menelefon untuk memastikan keadaan anaknya, menanyakan apakah mau minum asi yag di stok. Untuk anak kedua ia sudah bertekat untuk memberikan asi, alasannya bukan untuk kesehatan bayinya lemainkan agar lebih ngirit karena ia merasakan berat dengan kebutuhan susu dan pempers anak pertamanya maka dari itu ia tidak memberikan sufor untuk anak keduanya.

Baru dua hari kerja, di sela istirahat makan siang ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Untuk memberi asi sekaligus melihat bayinya. Ia bercerita saat melihat bayinya terlihat aneh, kepala bagian ubun-ubun cekung, dibawah mata hitam dan lemas tidak seceria biasanya.
"mba dede mau minum susunya" Karena tidak dibiasain minum pake botol sehingga saat ditinggal sedikit kesusahan saat memberikan asi. Satu-satunya jalan ya di sendok jika memberikan asi.
"Habis mba..." mendengar jawaban si mba tenang, karena asi adalah makanan juga minum untuk bayi.
"lho mba ini kepalanya kenapa...?!" Dalam pikirannya apa kepala anaknya habis terantuk sesuatu atau kenapa sehingga bisa cekung.
"Enggak apa-apa mba, bayi memang begitu. Dulu anak saya juga begitu" jawab si mba yang jaga anak
Ia percaya saja dengan jawaban si mba yang sudah punya 3 anak. Namun ia amati anaknya ini kok diam saja tidak seaktif biasanya. Pikirnya mungkin saja anaknya ini ngantuk. Setelah memberi asi dan anaknya tertidur ia pun balik ke kantor untuk bekerja kembali.

Namun saat ia pulang kerja keadaan anaknya ini masih teyap sama, dimana kepalanya masih cekung dan bagian bawah matanya terlihat semakin hitam. Terlihat lemas diam saja bahkan menangispun tidak. Melihat anaknya tidak seperti biasanya tentu saja seorang ibu akan kebingingan terlebih anaknya belum bisa mengeluh tentang apa yang dirasakannya. Sampai adiknya yang dokter datang dan berkata jika si bayi mengalami dehidrasi. Mendengar hal itu syok, karena tadi siang si mba ditanya asinya habis diminum namun kenapa bisa dehidrasi....??!

Mungkin saja si mba memang memberikan asi namun tidak telaten dan tidak rutin hanya beberapa sendok dan terlihat menangis saja diberikan. Karena stok asi di kulkas juga ada beberapa, ia juga tidak menghitung, bisa saja yang harusnya habis 3 botol hanya habis sebotol. Ya jelas saja dehidrasi setauku bayi bisa seyiap jam minum apa lagi cowok minumnya lebih banyak dibandingkan cewek.

Dari kejadian itulah ia berpikir untuk meminta konpendsasi datang ke kantor agak siang dibanding biasanya dengam konsekuensi tetap di hitung terlambat dan terkena denda jika melebihi dari maksimal keterlambatan. Ia berangkat jika ibunya datang saat anak pertamanya pulang sekolah. Sebenarnya tidak enak dengan teman-teman yang lain namun bagaimana lagi daripada ada sesuatu dengan anaknya yang akan ia sesali seumur hidupnya. Kehilangan uang untuk membayar keterlambatan tak apalah daripada anaknya kenapa-kenapa.

Sepertinya asinya juga tidak mencukupi, perlahan ia sambung dengan susu formula untuk memenuhi kebutuhan anak bayinya. Dan entah mengapa anak keduanya juga sepertinya tidak suka dengan si mba yang menjaganya karena kalau di gendong malah menangis, padahal jika di letakkan di tempat tidur ataupun di gendong omanya tidak menangis. Bayi memang peka, mungkin saja karena si mba ada masalah dengan suaminya sehingga si bayi merasakan yidak nyaman saat di gendong.

Permasalahan tidak sampai disana karena hari berkutnya si mba keluar tiba-tiba tanpa memberi tahu langsung saja tidak datang dan ia tau malah dari anaknya si mba yang besar. Tambah pusing rasanya, bagaimana bisa meninggal kalau seperti ini, walaupum di rumah ada bu dhe namun bu dhe sudah tidak mampu lagi untuk menggendong ataupun menenangkan si dede saat nangis. Terpaksa mengalah bolos bekerja sambil mencari penggantinya.

Mencari asisten rumah tangga sekarang ini tidaklah mudah. Jika mengambil dari agen takut abal-abal. Ada teman yang bercerita jika pernah mengambil dari agen namun hanya bertahan 2 minggu minta pulang. Padahal sudah membayar lunas kepada agen dan saat agen diminta untuk mengganti beralasan lagi kosong, padahal lagi butuh dan cerita seperti itu terjadi oleh beberapa orang. Sepertinya agen dan si asisten rumah tangga bekerjasama dirancang seperti itu.

Ia tidak bisa bolos kerja terus menerus untuk itulah ia bergantian dengan adik perempuannya untuk bolos kerja karena cutinya juga sudah mau habis. Ia juga sudah bertanya-tanya kepada teman-temannya siapa tau tetangga mereka ada yang mau. Ada tante temannya yang membutuhkan pekerjaan, ya di cobalah. Namun karena rumahnya jauh tidak mungkin kalau ngelaju sementara di rumah juga banyak orang sehingga ia ngalah untuk ngekos asisten rumah tangganya yang baru. Apalagi ia disana membawa 2 anaknya jadi tidak mungkin jika tinggal di rumah. Tak apalah yang penting ada yang jaga daripada pusing.

Karena umurnya masih muda, selisih dua tahun diatasku kerjaanya hanya chat sampai pekerjaan rumah juga masih berantakan. Ia pernah mendapat cerita dari ibunya waktu itu sudah jam setengah 5 namun si dede belum mandi malah ditinggal pulang dengan alasan mau mandiin anaknya, tidak hanya itu rumah juga masih berantakan. Yang ga kalah ngeselin si mba mengajukan permintaan yang aneh-aneh seperti anaknya yang kayanya ga bisa tidur jika tidak diatas springbed. Bahkan cerita dengan ibunya jika anaknya selalu mengenakan baju-baju bermerk, sepertinya memang suka pamer dan omong besar pembantu satu ini. Kalau tidak butuh sudah langsung pecat dia.

Oh ya saat datang kan dia di jemput sama prima dan suaminya, dan anehnya malah suami prima hang angkut-angkut koper dan semua bawaannya sementara si mba ini malah duduk manis. Jika seperti ini sudah ngelunjak, ini yang aman pembantu mana majikan....????

Di satu sisi kebutuhan rumah tangga masih banyak bahkan sekarang bertambah, bagaimana jika ia tidak bekerja... namun di sisi lain anak-anak juga membutuhkan perhatian lebih. Sekarang saja anak yang besar sudah mulai sedikit terabaikan dengan kehadiran adiknya. Ibunya sudah tua, tidak mungkin jika harus mengasuh dua anak kecil secara bersamaan. Ia tetap ingin bekerja karena memang cita-citanya ingim menjadi wanita karir tidak mau jika hanya di rumah mengurus anak. Nanti bagaimana jika terjadi sesuatu dengan rumah tangganya atau dengan suaminya, kita tidak tau kedepannya seperti apa dan yang aku minta juga semuanya baik-baik saja tapi segala sesuatu bisa saja terjadi. Seperti tetangga yang tiba-tiba saja suaminya selingkuh tidak pernah lagi memberi nafkan anak dan istrinya atau yang tiba-tiba saja suaminya meninggal darimana ia bisa melanjutkan hidup, darimana ia menafkahi anaknya jika penopang rumah tangga sudah tidak ada beda cerita jika istri tetap bekerja jika ada sesuatu maka anak-anaknya masih tetap bisa bertahan. Rumah tangganya tidak berbalik 180°.

Semua keputusan ada dampak positif dan negatifnya, tinggal bagaimana kita memilih yang terbaik dan meminimalis dampak negatif yang di timbulkan. (18/08/16)



☆ el