Tampilkan postingan dengan label jendela kamar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela kamar. Tampilkan semua postingan

6/15/2021

16 : 57

Kita bersinggah dari satu ke yang lain hanya untuk mencari arti kehidupan. Benarkan begitu...???!
Begitu banyak yang terjadi dan menanti dalam cerita perjalanan panjang.
Lelah, jelas saja tak terelakkan namun apalah kita hanya mampu terus bergerak dalam kesinambungan meskipun tak tentu apa sebenarnya yang terjadi.
Tak ada yang sia-sia, dan tak ada juga yang salah hanya saja langkah yang terkadang berbelok ataupun memutar menjadikan pemberhentian sementara terasa sedikit jauh.
Apakah kau ingat yang telah terlewati...., tidak semuanya indah namun tetap saja menjadi bumbu yang nantinya akan menjadi rasa manis di kemudian hari.
Tak banyak kata yang bisa di urai, hanya kisah yang terus bergulir akan menjadi penanda waktu yang terus bergulir.
Cerita kehidupan dan segala kebisingan akan terus saja mengikuti dimanapun kau berada, karna sejadinya dirimulah pemeran utama dan pembuat penentu langkah. (15/07/20)

12/24/2020

01:08

Aku menemukan cinta. Cinta yang sebenarnya tak pernah ada, tak terlihat, dan mungkin tak kurasakan.
Aku menemukan cinta, dalam sebatas kata yang tak pernah berhenti di perdengarkan hingga menggema dalam pendengaranku.
Aku menemukan cinta dalam goresan tinta, diantara batisan kata yang terus saja di ukir dengan begitu indahnya.
Aku menemukan cinta disetiap tatap mata yang menghujam sanubari.
Aku menemukan cinta yang ikut menghilang bersama angin yang singgah dan lenyap dalam seketika.
Aku menemukan cinta, cinta yang tak bertuan, dan tak tau ujung pertemuan itu di mana.
Aku menemukan cinta yang hanya sebatas mimpi dan angan saja.
Cinta, cinta yang sejujurnya tak pernah ada untuk dimengerti.
Cinta yang hanya bisa di lihat tanpa bisa di sentuh terlebih menggenggam.
Cinta dengan sedikit perhatian untuk suatu pengakuan.
Cinta semu yang membelenggu dari nafas ini berhembus. (23/01/21)




12/28/2019

Cermin dan bayangan

Pada dasarnya kita adalah dua orang yang berbeda, yang memainkan perannya sendiri-sendiri dan melalui takdirlah yang mempertemukan kita lalu mendekatkan dan menyatukan kita. Kita yang tadinya tidak mengenal sekarang menjadi dekat, malah merasa saling tergantung satu dengan yang lain.

Namun, lagi-lagi ini bukanlah adegan sinetron maupun cerita di novel yang sering aku baca dimana akan selalu menunjukkan sisi keberuntungan hingga berakhir dengan happy ending dari setiap episode yang dimainkan. Kalaupun menderita tidaklah ada artinya karena hanya membutuhkan beberapa tahun malah beberapa bulan untuk mengubah semua kesialan dan ketidak bersayaan menjadi sosok yang benar-benar waaah dimata yang lainnya.

Meskipun kita bersama namun begitu ada banyak perbedaan yang menjadikan kita saling menjaga dan takut untuk lebih mendekat karena masih ada rasa canggung dan takut menyakiti lalu akan meninggalkan. Begitu banyak misteri yang satu persatu terbentuk, perlahan menjadikan kita sosok asing yang walaupun kita masih membutuhkan untuk menopang dan menguatkan.

Hidup....
Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh alam dari pertemuan ini...?! Tak ayal aku hanya bisa menerawang melihat jauh ke depan meskipun sama sekali tak melihat apapun kecuali hayalan kosong. Diantara begitu banyak peristiwa yang sudah terjadi dan mengantarkanku hingga berdiri di titik sekarang ini, semuanya tidaklah mudah. Mungkin orang lain melihat hanya hal yang menyenangkan sambil berujar 'beruntungnya kamu' tapi apakah mereka tahu bagaimana setiap waktu yang dilewati segala liku hingga menjadikannya seperti yang mereka lihat sekarang ini. Ya mereka tak peduli dengan proses yang dilewati, ada begitu banyak gemblengan hingga menguras keringat, airmata dan pikiran. Namun, tak ada yang tahu mungkin juga tak ingin tahu karena yang ingin mereka lihat hanyalah hasil akhir yang indah, yang selalu bisa memanjakan mata memandang keindahan yang menyilaukan mata tanpa mau tahu apa yang terjadi di dalamnya.

Orang lain akan melihat ketika sudah benar-benar bisa berdiri saja jika kokoh akan dipuja sedangkan jika masih goyah akan jadi omongan sedangkan jika kembali tersungkur hanya ciburan yang dialamatkan. Yang kuat akam bertahan dan semakin menunjukkan taringnya terhadap yang lemah, itu sudah menjadi hukum alam yang sudah di anut sejak lama dan sepertinya akan terus dilestarikam walaupun sebenarnya mengetahui jika itu tidaklah baik. Seperti hukum rimba yang sedikit diperhalus seh menurutku, dan aku berada di dalamnya menjadi salah satu diantara mereka.

Itulah hukum alam. Tak ada satu manusiapun yang bisa melewati ujian dari alam seperti halnya kita yang harus pasrah menerima kehendak alam. Walau bagaimanapun berjuang tetap saja tak ada perubahan berarti. Kita hanyalah orang yang sadar dan tau teori yang sudah dihapal di otak namum ketika dihadapkan pada realita sama sekali ciut nyali tak ada satupun yang sudah dipelajari bisa diteraplan. Kita adalah satu, namun mengapa masih bisa dikelabuhi oleh siasat murahan yang sebenarnya mudah saja melewatinya. Coba pikirkan...

Kita memanglah satu, mencoba untuk terus bersatu. Namun, itu hanya kelihatannya saja. Kita menjari peran kepura-puraam yang terlihat kuat tapi pada kenyataannya lebih rapuh dari kain yang sudah lapuk. Kita hanyalah kepura-puraan yang terlihat kuat. (27/12/19)

12/20/2019

Untuk memahami

Aku tidak yakin ada yang benar-benar menginginkanku,
Aku ga yakin ada orang yang akan memperjuangkan diriku sedemikiannya.
Aku ga yakin ini jalan yang benar yang harus aku lewati.
Ini diriku, tapi bukan hidupku yang sepenuhnya bisa aku kendalikan dan kupilih.

Tak ada satu pun yang kebetulan di dunia ini, semua yang terjadi memiliki rahasia tersendiri dikemudian hari, aku tau akan hal itu.
Tapi...., ini adalah permainan dari misteri yang perlahan akan terkuak.
Bagaimana cara agar bisa melewati, menjalani dengan iklas bila hatiku terlalu kecil untuk bisa menerima

Inilah hidupku, yang terkadang menjadi milikku untuk menyetirnya namun baru juga dimulai kendali itu sudah berpindah tangan.
Bagaimana ini bisa menjadi kesenangan bila seperti ini caranya...
Aku ya aku. Namun, bisakah sedikit kulihat rupaku yang sesungguhnya, bagaimana ceritaku, dan keberuntungan apa yang menantiku...
Jangan hanya perlihatkan tujuan semu dan sakit yang begitu nyata berada di depan mata disetiap jalan yang akan dilalui

Bisakah mentari benar-benar menjadi penghangat dan bintang yang selalu menemani malam gulita ini.
Tidak ingin hanya bisa memandang, tapi semua yang terngiang begitu jauh terjangkau di barisan langit ke tujuh.
Dan pada akhirnya hanya bisa memandang dan bergumam saja. Aku lelah... (19/12/19)

12/18/2019

Jauh dan terlalu tinggi



Bagaimanapun mecoba tetap saja tak terjangkau. Apakah begitu jauhnya hingga jari ini tak memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki.
Bagaimana semua bisa berada di dalam genggaman bila yang terlihat di depan cuma fatamurgana.
Jemari yang tak terbiasa, terlalu abstak untuk bisa melambungkan menjadikannya nyata hingga hanya sayup-sayup mendengar tanpa bisa memastikan tentang keadaan yang sebenarnya.
Menjangkau, meraih, dan meletakkan di tempatnya adalah sesuatu yang tak asing, meskipun begitu sangatlah rumit untuk benar-benar bisa memahaminya.
Lihat jari ini, sejauhmana bisa menjangkau atau kah ini tentang melepaskan.
Bukan lagi mimpi dari suatu keinginan dari tuntutan untuk ego yang tak pernah ada puasnya. (17/12/19)

11/12/2019

Peduli apa dengan arah

Dunia yang semu berbalut misteri.
Setiap individu punya perannya sendiri, dan mereka pulalah yang menghidupkan tokoh yang sudah menjadi pilihannya.
Ketika yang datang menggeser yang tiada, kehangatan dari sepasang mata tak tampak bersahabat bila itu yang diinginkannya.
Tak pernah terpintas untuk menyeberang kedalam waktu dan bermukim disana.
Memang terlihat indah dan damai, tapi apakah seperti itu yang sebenarnya....???!
Lorong sempit seperti kubangan yang menghimpit hingga nafaspun terhitung mahal didapat.
Apa makna dari cerita di bejana hitam yang kosong dan kusam....
Tak nampak tapi itu nyata, tanpa sebab pasti bisakah melompat meraih pemikiran dari realita yang menghidupkan nalar manusia.
Semakin tertindas, semakin terasing, semakin mereka menikmati dengan tawa dan cemooh yang bertubi dan keji.
Kini raga pun tak tiada arti, hati yang tercabik bagai kotoran tak berguna dan bermartabat.
Cinta hanyalah tentang waktu. Namun, bagaimana dengan hampa yang tak pernah mau pergi dan menyudahi segala riuh yang menyebabkan gemuruh dan rusuh.
Cobalah untuk melihat. Lihatlah aku, dan hanya aku yang tak pernah putus memperhatikanmu tanpa lelah.
Dan hanya mampu berbisik dari suara hati yangga nyaris tak tersentuh oleh pikiran dan sama sekali tak pernah dihiraukan oleh kau sang pemilik akal (otak yang sudah mulai karatan).
Pergilah dan enyahlah kedalam pendora yang akan menguburmu di dasar samudra terdalam. (11/11/19)

11/11/2019

Langit malam

Ketika sudah tertinggal sangat jauh apakah harus berlari kencang untuk mengejar, memilih untuk melanjutkan perjalan walaupun seorang diri, atau berbalik arah untuk kembali ke tempat semula..., tapi jika kembali apakah masih ingat jalan dan apakah masih sama seperti sebelumnya....???!

Di dunia ini semuanya akan berubah, jalan di awalpun juga tak akan sama. Lantas untuk apa juga kembali jika tak lagi ada yang sama...., mungkin yang kutemukan ketika sudah sampai hanyalah kosong.

Apa yang seharusnya ku pilih. Sekarang kaki ini masih berdiri tegak dalam kebingungan menentukan arah dan tujuan terlebih tak ada lagi penerangan yang berarti hanya mengandalkan intuisi yang akan menuntun ketempat yang baru. Menjelajah dan akan selalu menjadi orang baru di tempat yang dipijak. Apakah suatu saat bisa menetap dan menjadikan tempat itu sebagai pemberhentian terakhir...???!

Mungkin bukan pilihan yang ku inginkan untuk bisa berpikir dan mendapati bahwa kelam adalah sesuatu yang 'indah' yang patut untuk disanjung dan diabadikan dalam memori sang waktu. Menggelitik pikiran dengan segala gaduh dari dalam hati yang tak mengerti untuk apa ada dan untuk siapa. Ya untuk siapa ada semuanya ini kecuali untuk sebuah nama 'pembuktian' .

Aku yang tak pernah paham tentang jalan kehidupan yang berliku dan tak pernah sadar bahwa semuanya perlu kewaspadaan dan 'nekat'. Kembalilah kepada pikiranmu yang dulu, bergumanlah seperti mimpi yang terus saja memenuhi langit rumah, dan sadarlah untuk terus bernafas dan mampukan semuanya dengan lapang dada. (10/11/19)

9/30/2018

Kembali

Keyakinan yang terpaku pada prinsip dan kerja keras
Bukan saatnya lagi untuk meminta belas kasih dari orang lain
Bukan lagi merengek seperti bayi agar dilihat dan diperhatikan
Aku tak tahu apa saja yang sedang menungguku di depan
Yang aku pahami adalah tanggung jawab menantiku
Mereka membutuhkanku, mereka menungguku
Dan aku tak boleh mengecewakan kepercayaan yang diberikan padaku
Aku siap bertempur :)
Tunggu..., tunggu aku sesaat dan untuk selamanya
Akan kuhujani dengan tawa, agarku kembali bisa mendengarkan tawa dan senyum itu kembali
Dengan atau tanpa asa, aku akan meraihnya dalam genggaman. (30/09/18)

9/03/2018

Memahami

Aku tidak mempermasalahkam pakaian apa yang kamu kenakan, karena yang kau pakai akan selalu terlihat indah dimataku.
Aku ga akan melarang mana yang boleh dan yang tidak pantas, karena kamu sudah tau batasan-batasan dari kesopanan.
Aku tidak akan memaksa, karena apa yang menurutku indah belum tentu itu nyaman kau kenakan.
Aku menyukaimu dengan apa yang ada di dalam dirimu.
Lakukan apa yang kau suka dan membuatmu nyaman sesuai aturan main yang sudah kau pahami.
Jika kau benar-benar memahamiku, maka kau tau dimana batasannya. (02/09/18)

8/30/2018

Menanti Rembulan

Sebatas ragu yang singgah semoga tak menyurutkan apa yang menjadi jalan hidupnya.
Perjalanan panjang yang berliku dan terjal terus saja menjadi pijakan untuk mengokohkan kaki agar tak merasakan lagi kerasnya kehidupan.
Bukan sesuatu yang mudah untuk memupuk kepercayaan diri dan potensi didalam diri.
Hingga rasa terdesak yang menjadi senjata pamungkas untuk terus maju tanpa paduli akal dan takut yang terus membayang.

Perjalanan panjang yang tak berujung, penantian yang entah kapan akan menjadi bahagia semuanya seperti bintang yang terus berkedip sendiri dimalam gulita.
Lara yang tak lagi terasa. Hambar yang kini menjadi satu-satunya rasa yang dipahaminya.
Berkelok bukan sebuah keputusan bisa diambil karena sekarang kaki hanya berpijak pada batu ditepian jurang.
Mencoba untuk menyatu dengan hembusan angin yang menghampiri tubuhnya, namun ia bukanlah selembar kertas yang mudah terlempar, bukan secuil kapas yang mudah dihempaskan. Tetap berdiri dan sementara menikmati saja hembusan angin yang menyanyikan lagu kehidupan.

Kisaran rasa yang tak pernah sama.
Bejana yang teronggok kini mulai kusam, kering dan retak termakan usia.
Sudikah sesaat datang berkunjung dan merapikannya...???
Bukan masalah waktu untuk bisa memandang dunia, bukan masalah pendewasaan hingga bisa memahami apa yang terjadi.
Karena apa yang terjadi tak sama dengan apa yang dimengerti untuk bisa dipahami.
Sesaat, ya hanya sesaat untuk duduk bersama dalam penyatuan pikiran.
Karena sejatinya bersama jauh lebih baik dibandingkan terdampar seorang diri. (30/08/18)

7/11/2018

22:20

Dan kini tak lagi ada yang tersisa. Semua harapan telah sirna. Tak tau dan tak mengerti harus bagaimana buatku yang terjadi sekarang hanyalah hampa, mimpi, dan harapan yang awalnya masih kucoba pupuk dan meyakini esok terang akan datang untukku, bahwa esok hari ada keajaiban yang datang untuk meyakinkan mimpi itu ada.
Masihkah ada keajaiban untukku...
Masihkah ada kado terindah untukku...
Masihkah ada keberharapan dalam kegelapan yang berkepanjangan.
Masihkah ada kecerahan untukku...
Aku seperti kayu yang mengikuti arus aliran air tanpa tau akan sampai dimana untuk bermuara.
Aku seperti dihadapkan pada tembok, dihadang oleh tembok, dan terjebak didalam gulita.
Akankah ini akan berakhir?
Masihkah bisa kuberharap dan mendapat keajaiban dengan terang?.
Masihkah ada yang bisa menjadi pegangan?.
Aku ingin keajaiban, terang dalam pikir dan bahagia untuk jiwa-raga dan untuk semua orang. (11/07/18)

4/17/2018

21:31

Tak menuruti apa yang menjadi ingin, karena itu hanyalah bentuk dari pelampiasan. Sekedar keinginantahuan padahal tak memerlukan.
Belajar untuk mengontrol/mengendalikan pikiran untuk tidak selalu mengikuti, melainkan menimbang dan berpikir ulang dari segi guna dan manfaat (ekonomis).
Hidup tidak hanya tentang apa yang di inginkan, dan mampu mendapatkan hanya untuk kepuasan.
Hidup itu tentang bagaimana menjabarkan guna dari kebutuhan yang diusahakan untuk mencapainya. Bukam tentang hasil yang didapat, melainkan proses, niat, dan konsekuensi dalam melaluinya.
Dalam hidup ada begitu banyak unsur yang ikut andil untuk memulai hingga akhir yang di dapat.
Dia ada bersama angan yang hadir.
Dia hadir untuk mimpi dan konsistensi yang ingin dicapai.
Dia datang karena harap dalam setiap logika yang kau punya.
Dia...
Dia adalah detak yang menyalakan terang dalam kegelisahan.
Dia adalah rasa (hati) yang akan selalu menjadi penentu untuk jiwa-jiwa yang berpegang oleh keyakinan. (17/04/18)

4/10/2018

23:06

Ada begitu banyak hal yang sudah dilalui, baik itu menyenangkan ataupun tidak. Langkah sudah tak lagi terhitung banyaknya, semua itu menyisakan kenangan dari setiap keputusan yang sudah dijalankan.

Hidup yang penuh misteri. Tak jarang kita menganggap apa yang sudah menjadi keputusan bila tak mendapatkan hasil yang baik seperti yang dimau akan menganggap salah langkah. Tak jarang keputusan yang menurut kita tak berpihak bisa saja malah menjadi jembatan kesuksesan.

Dan kini aku meyakini bahwa keputusan yang kita ambil, kita jalankan akan ikut andil dalam mempersiapkan masa mendatang. Yang salah belum tentu salah, yang benar belum tentu baik buat kita. Seperti kita yang tersesat di hutan belantara, namun selama kita masih mampu mengenal tujuan dari yang dituju, meskipun tak tau arah untuk menuju kesana bila ada kemauan dan terus berjalan walaupun bila dilihat dari radar itu tersesat (keluar jalur), terlihat tak berguna malah condong pada pemborosan waktu tapi suatu saat nanti apa yang kita dapat/lihat selama perjalanan yang akan membantu, malah seperti kartu AS yang ada di tangan.

Terus berjalan menerobos ilalang dan semak belukar, hiraukan rasa berih dari sayatan duri di kulit, capeknya kaki, rasa lelah  ketika bertemu dengan jurang, bahkan harus melewati jembatan ayun yang sudah mulai lapuk tapi ingatlah, semua itu tanpa dirasa sudah mengajarkan keberanian, ketangkasan dan olah pikir. Meskipun berputar-putar tak menentu, bahkan bisa melenceng jauh dari posisi yang seharusnya namun yakinlah bila perjalanan itu akan menemukan tujuannya.

Hanya orang hebat yang mampu bertahan, tak kenal menyerah dan terus mengingat tujuan untuk mengusahakan pencapaian yang sebenarnya. (10/04/18)

4/08/2018

09:39

Berhari-hari tak meninggalkan tempat ini (kamar). Semakin terasa terasing dan sendiri. Mungkin memang tidak ada yang peduli atau bahkan tak menyadari akan adanya perubahan yang begitu drastis dariku.
Bukan urusan mereka juga mau gimanapun ya terserah saja, mungkin seperti itulah pemikiran mereka, karena selama ini tak ada satupun yang bertanya "mengapa...., Ada apa...., Kenapa...."

Seperti terperangkap dalam duniaku sendiri, dengan kesendirian, sepi dan imajinasi dari segudang harapan-harapan yang masih aku rawat dengan baik. Entah kapan itu semua menjadi nyata hanya Tuhan yang tau. Semoga Tuhan sesegera mungkin memberi ridho dan restunya untuk dengan sebaik-baiknya.

Saat ini yang terpenting bagaimana untuk bisa bangkit, sama sekali belum mengerti caranya mengendalikan emosi, ketakutan, kekecewaan, krisis kepercayaan diri akut, agar bisa kembali tegar tapi itu susah. Untuk memulai melangkahpun masih bingung, walaupun tujuan sudah aku tentutan. Ya, walaupun belum juga mengerti arah yang benarnya dimana. Seperti gasing yang hanya berputar-putar bertumpu di porosnya.

Belum bisa bangkit, belum bisa melawan, namun yang saat ini aku usahakan membendung agar ketakutan tak lagi bertambah, sukur-sukur ketakutan di dalam diri bisa menghilang. (08/04/18)

6/09/2017

Belajar Tersenyum dari Hati

ketika yang kau rasakan tak lagi sama seperti sebelumnya.
ketika sesuatu yang sudah terjadi perlahan menjadi pembatas diantara keduanya.
ketika yang dipikirkan tak lagi sama seperti yang dipikirkannya.
ketika waktu perlahan mengubah, perlahan menjadikannya jauh dan tak terlihat.

apa lagi yang dapat dihadirkan didalam kebisuan yang mulai menjadi primadona.
apa lagi yang akan menjadi prioritas dari sebuah tujuan yang mungkin saja sudah berbelok arah.

tak ada yang sama seiring berjalannya waktu.
tak ada yang dapat memegang janji dari sang waktu untuk tetap teguh menjalani apa yang menjadi inginnya.
tak ada teriring doa yang terpanjatkan selain keindahan yang tak hanya dirasakan melainkan di dapatkannya.
tak ada keabadian yang konsisten selain perubahan itu sendiri.
tak ada yang mustahil, namun apa salahnya untuk berusaha untuk tetap setia dengan tujuan, dan arah hidup yang menunggu di depan mata.

keindahan bukanlah sebuah perjuangan, melainkan ia adalah perjuangan itu sendiri.
keindahan tidak perlu di adakan karena keindaham hadir diantara langkah yang terus terayun.
keindahan tidak perlu dirasakan melainkan hadirkan dalam setiap gerak setiap langkahnya.
keindahan tetaplah indah yang tak perlu dibuat-buat, direkayasa juga di cari.
karena keindahan adalah rasa syukur yang tulus, iklas dari hati yang terdalam.

jangan tersenyim karena 'ingin' tersenyum.
tersenyumlah karena sadar itu adalah hal termudah untuk bersyukur.
tersenyumlah untuk lebih memahami diri dengan apa yang sebenarnya terjadi.
tersenyumlah dan terus belajar tersenyum untuk pendewasaan dan berserah kepada Allah bahwasanya semua yang terjadi adalah keindahan yang sempurna dari skenario jalan hidup setiap manusia. (09/06/17)

5/28/2017

Memahami Cinta

Mencintai itu mudah. Namun untuk mengerti, memahami dan memaknai apa itu cinta yang membutuhkan pembelajaran khusus dari hati.
Memberikan cinta itu mudah, namun untuk mempertahankan dan terus menempatkannya di tempatnya sekaranglah yang membutuhkan pembelajaran.
Mengerti tentang cinta tidak sama dengan memahami apa itu cinta, semua terlihat sama walaupu  sebenarnya berbeda.
Meng-apresiasikan cinta dari hati pun sebenarnya tak sulut, namun juga tidak mudah. Karena permainan rasa hanya bisa dimengerti oleh hati, hati yang terdalam yang bisa mengukur seberapa cinta yang ada, yang akan diperlihatkan dalam pancaran mata dan sikap spontanitas yang hanya dimengerti oleh para pejuang dan penikmat cinta itu sendiri.
Teruslah buktikan jika cinta itu adalah keabadian yang tak lekang oleh waktu. (28/05/17)

5/07/2017

Batas dari Atas dan Bawah

Ketenangan hati dengan tak mengejar apa yang ada di depan. Jangan hanya fokuskan pandangan untuk satu obyek lalu tak mempedulikan sekeliling demi untuk mendapatkan apa yang di idam-idamkan.

Sudahkah mengerti akan arti dari kata CUKUP..., tahukah bagaimana menjalankannya...

Hmmm...
Hidup di dunia begitu banyak 'ingin' yang ada di daftar tunggu untuk didapatkan.
'ingin' yang awalnya mendapatkan pemacu semangat untuk kita bergerak, bertindak dan berproses, namun seiring proses yang masih berjalan 'ingin' di awal perlahan akan beranak pinak berkembang biak memberikan keturunan dari 'ingin' . 'Ingin' yang lain, lalu menumbuhkan 'ingin' yang lebih dari yang sudah di dapat atau yang sudah dimiliki. Lantas semua itu akan berkembang menjadi tamak, sebuah rasa yang menginginkan lebih dari yang seharusnya didapat, karena perasaan masih mampu untuk meraih dan rasa haus terus menerus hadir dan bila itu terjadi maka 'tamak' akan tumbuh dengan liarnya di dalam diri.

Mengalahkan segala cara, tak peduli dengan orang lain yang terenggut haknya demi untuk menuruti 'ingin' yang sebenarnya sudah melewati batas yang dibutuhkannya.

Roda kehidupan terus berputar hingga hembusan nafas yang terakhir. "Lalu bila terus berputar bagaimana cara untuk tau dimana awal dan dimana titik baliknya..."
Hmmm..., Entahlah, aku sendiripun sekarang tidak tau posisi berada dimana. Namun penalaranku titik awal berada ketika berada di bawah. Dimana posisi inilah yang membutuhkan kesabaran, keuletan, juga gebrakan untuk berproses agar perlahan mulai bergeser menuju ke atas. Proses yang akan menggebleng mental agar lebih kuat dari yang sebelumnya.

Proses untuk mereka yang sadar tentang perubahan, tanggung jawab, dan tujuan hidup. Tapi bagi mereka yang tidak mengerti ya hanya berada di tempat, bila seperti itu tidaklah perlu kesabaran yang terkadang menguras emosi dan tenaga, tak perlu berproses juga tentang tujuan hidup, ya yang di butuhkan hanya mengikuti saja kemana arus akan membawa, tak perlu berproses terlebih pedulu dengan adanya perubahan.

Berproses, berteman dengan perubahan. Ini harus, agar tau perubahan-perubahan yang terjadi secara langsung mempengaruhi diri sendiri, lingkungan, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Berproseslah dengan indah, setahap demi setahap (perlahan namun pasti). Buatlah proses dengan begitu indah.
"Proses dengan begitu indah itu yang seperti apa, dan bagaimana...??!"
Proses yang indah itu sebuah karya yang dihadirkan dengan cinta. Dengan seni yang dirangkai atau digunakan sehingga membentuk suatu karya yang terlihat hidup bila dilihat (di ceritakan ulang). Proses yang indah itu bukan yang instan, melainkan yang berjalan setahap demi setahap hingga bisa dirasakan bagaimana prosesnya, bagaimana perjuangan yang ada di dalamnya demi mendapatkan poin plus hingga mencapai puncak.

Seperti rantai makanan, yang berada di atas tidaklah sepenuhnya pemenang dan tak terkalahkan, memang yang di atas adalah yang berkuasa mendapatkan lebih atau memiliki lebih dari yang lainnya. Namun saat berada di puncak,  lalu masih merasa kurang dan terus saja kurang itu namanya 'tamak' ,terlebih tak ingat untuk membagi apa yang sudah didapat kepada orang lain maka 'tamak' itulah puncak yang berada di tepi pintu menuju ke bawah. "Roda terus berputar" dan 'tamak' akan menjadi alat untuk mengantarkan menuju ke bawah.

"Jalan menurun lebih berbahaya, melelahkan dibanding jalan yang menanjak... (ini menurutku)"
Jalan menanjak, dari awal langkah mengajak untuk perpikir bahwa untuk menuju ke atas dibutuhkan banyak tenaga, perjuangan yang tentunya tak mudah. Ada tujuan yang ingin dicapai, itu menjadi cambuk untuk bergerak atau berkutat agar bisa mencapai puncak tujuannya. Setidaknya ada perkiraan-perkiraan bahwa amunisi atau berbagai macam perbekalan sampai waktu yang juga diperhitungkan sebelumnya. Sepertinya waktu menjadi teman untuk membantu, mengantarkannya hingga menuju puncak.

"Tapi bagaimana dengan turunan..."

Aku pernah membuat coretan tentang tanjakan dan turunan. Sekarang pun garis besarnya masih sama bahwa turunan lebih membahayakan buatku dibanding tanjakan. Turunan membuat terlena sehingga tak jarang hilang kewaspadaan dan menggampangkan (menyepelekan) karena masih terbuai dengan indahnya kesuksesan saat berada di puncak, seakan-akan memudahkan jalan menurun yang ada di depan, tapi tahukah jika sekali menginjak batas dari puncak teratas maka bila tidak berhati-hati akan tergelincir sedikit, terjatuh bahkan bisa saja terguling hingga kembali ke titik awal atau malah ringsek. Berhati-hatilah bila berada di puncak.

Menikmati hasil yang didapat tanpa mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kita. Ingatlah kesuksesan sebenarnya kita dapat bukan sepenuhnya dari kerja keras yang kita lakukan, namun tanpa di sadaru di dalamnya ada andil orang lain di dalamnya; orang-orang tercinta yang selalu mendoakan kesuksesan kita, orang lain yang membantu pekerjaan, yang mengingatkan, dan orang-orang yang mencambuk agar kita berbuat lebih baik dari yang bisa kita lakukan. Jadi tak ada salahnya untum membalas budi kepada mereka, yaah kita ga tau siapa saja yang sudah ikut andil tapi memberika  bantuan kepada orang lain agar kita suatu saat di waktu yang tak terduga juga akan mendapatkan bantuan orang lainnya lagi. (06/05/17)


5/03/2017

Ketakutan dan Kehawatiran

Sejatinya apa yang kamu hawatirkan adalah semu. Ketakutan yang dibentuk oleh pikiranmu sendiri. Maka dari itu buang segala macam kecemasan, biarkan keyakinan tumbuh kokoh tanpa ada benalu yang bisa menghambat impianmu. (02.05.17)


Tak Sendiri

Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk sendiri, namun di dalam kesendirian itu ia memerlukan sebuah lengan. Lengan untuk merengkuh, bersandar, dan untuk menyapa hadirnya bahwa ia juga merasakan dan mengerti bahwa yang terjadi tak semudah yang dipikirkannya.

Tidak untuk menghujat ataupun untuk mengasihani, namun ia hadir untuk bersama-sama merasakan mengambil secuil pilu yang bergema disanubari. (02/05/17)


3/14/2017

Terang Dalam Gulita

Aku tau gimana rasanya berada di bawah, disaat tak ada seorangpun yang bisa diajak bicara, tak ada seorangpun yang memeluk bahkan melirik. Mereka tidak tau apa yang sedang bergejolak di dalam diriku, karena aku tak memberitahu mereka. Membungkus segala dilema yang hadir seorang diri.

Semakin dipikir semakin pusing, membingungkan dan sukses bikin blank berkelanjutan yang malah menambah kerumitan ketimbang solusi yang didapat. Aaaaah..., tolong aku.

Begitu besar harapan, keyakinan dan impian yang terbagun, namun bagaimana untuk merajut asa bila pikirku pun belum bisa terbuka. Terdiam, berbicara kepada diri mengapa ini bisa begini. Tidak..., tidak boleh mencari kambing hitam atau pun bukan saatnya lagi mempersoalkan yang sudah terjadi. Mungkin ini salah satu jalan dari rencana indah yang akan dituai.

Di saat terpuruk terperangkap dalam logika yang tak bisa bersuara aku coba dengarkan kembali suara hati yang begitu lirih hingga nyaris tak terdengar dan terabaikan. Mencoba kembali mencari dengan mempertajam pendengaran. Yang terlihat hanya gelap, "lalu dimana letak terang sebenarnya....??!" Terang ada di dalam sini (menepuk dada). Di dalam sanubari yang terdalam, yang terkadang tertutup oleh aneka macam dilema dan permasalahan duniawi.

"Bagaimana melihat secercah terang di dalam gulita.... tidak seharusnya kita begitu saja menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi, bisa jadi itulah titik balik didalam hidup kita".

Coba ingat kejadian yang sudah terjadi, bila peristiwa itu (entah baik ataupun buruk, entah suka ataupun tidak, entah sengaja ataupun tidak) tidak terjadi maka kita ga bakalan bisa sampai sejauh ini. Semua hal yang sudah terjadi tentang kebaikan, tentang bagaimana kita bersikap dan menyikapi segala yang menyapa, hadir ataupun singgah di dalam kehidupan kita  itu semua pembelajaran.

Untuk kesiapan dalam berproses yang tentu tidaklah mudah untuk dijalani dan melaluinya. Kita cenderung akan memilih untuk melihat ke dalam diri orang lain, kepada sekitar dibandingkan mengenal lebih dalam diri kita yang sesungguhnya. Berkaca kepada orang lain, mengikuti hingga membandingkan apa yang terjadi di dalam diri ini dengan yang sudah dicapai orang lain, ya tentu saja berbeda terlebih melihatnya pun dari sudut pandang yang berbeda. Coba rubah pemikiran seperti itu, bila ingin membandingkan berdirilah di tempat yang sama, tepat di tengah jangan bergeser ke kanan ataupun ke kiri meskipun hanya sedikit.

Lihatlah mereka yang sudah sukses, bahagia dalam hidupnya, selalu happy dan segala macam yang didapatnya lalu lihat ke dalam diri sendiri, bukan melihat dari poin yang sudah didapat namun lihatlah dari pencapaian, apa yang sudah ia dapat dengan apa yang sudah kita terima, nanti bakal tau dimana keindahan itu ada, dimana secercah cahaya itu berada dan yang lebih menggembirakan itu pertanda bahwa kita sudah benar-benar mengenal diri kita sendiri. (13/03/17)