Tampilkan postingan dengan label Remah-remah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remah-remah. Tampilkan semua postingan

2/10/2021

00:30


Terlihat indah. Sungguh bila mata yang melihatnya akan mengatakan 'sempurna' tapi ketika mata melihat di sisi lain ada yang melihat lebih dalam dan apa yang di tangkapnya tidak seperti yang di lihatnya. Terlalu rumit untuk di jelaskan, yang pasti ada duka yang tak terlihat.

Aaaah..., ini sangat sulit bagaimana bisa ku dekat lalu memeluknya bila ia tak menceritakan apa pun, bagaimana bisa merasa sok tau padahal ia jelas-jelas berkata 'ga ada apa-apa'. Aku bukan lagi orang arogan seperti dulu, namun jengah juga bila seperti ini keadaannya.

⭐⭐⭐

Sebuah kebiasaan baru setiap pagi membuka jendela dan melihat ke sekitar, entah ke rumah tetangga ataupun hanya pada orang yang lewat dan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Hanya melihat, aku ga tau mengapa merasa nyaman saja melihatnya namun tak jarang juga di dalam diri ini mulai terjadi pertempuran setelah tanpa ku sadari otak yang tak tau diri menyelam terlalu dalam.

Awalnya aku kira nyaman melihat aktifitas pagi tapi setelah di pikir ulang ternyata ini kebiasaan yang merumit, dimana otak tak tau diri dengan seenaknya menyelam. Bukan melihat namun me-nye-lam inilah yang sering membuat perdebatan. Malas memikirkan ada apa dengan mereka tapi otak memaksa untuk mikir dan berpikir.

Otak kiri menyeringai sementara otak kanan terus sibuk membujuk otak kiri untuk tak jahil dan mengingatkan dirinya (otak kanan) untuk bersabar tak ikut terpancing emosi. Jujur ini hal baru. Aku ga ngerti bagaimana menghadapi, terlebih mengontrolnya dan sepertinya muncul satu pihak lagi yang ada di antaranya. Ini prajurit, mentri, tabib, atau pertapa beneran tak mengenal yang bisa aku pastikan hanya ini seperti cahaya. Ga tau ini jauh atau dekat bisa juga tepat berada di antara keduanya, yang pasti aku melihat dari aku berdiri seperti cahaya putih. Aneh ya ada caraha di antara otak kanan dan otak kiri, apakah ini hasil dari perseteruan otak kanan dan otak kiri kah...??? Atau benar ada give untukku....???

Tak tau, dan tak ada satupun yang tau. (10/02/21)

1/18/2020

Luka yang terbingkai

Dia masa lalu, hanya masa lalu. Namun, mengapa terasa membekas padahal selama bersamanya yang kudapati lebih banyak air mata ketimbang kebahagiaan. Aku membencinya, bahkan sangat membencinya,tapi mengapa sama sekali tak bisa melupakannya. Bahkan pertemuan waktu itu dengan seketika kembali membuka kenangan lama termasuk semua luka yang sudah di ukirnya dalam hatiku.

Ini tidaklah benar....
Kini aku sudah memiliki seseorang yang sayang dan tulus menerimaku, bahkan lebih mengedepankanku ketimbang segala urusan termasuk dirinya. Tak boleh seperti ini, dia hanyalah cerita lama yang tak perlu di ingat. Lebih baik abaikan dan memikirkan yang nyata bersedia ada di sisi tanpa syarat tapi...., mengapa segala kebaikannya sama sekali tak dapat menggetarkan hatiku. Perasaanku pun sama sekali tak tersentuh dengam segala kebaikan dan semua yang sudah dilakukannya.

Mengapa kecewa lebih membekas dan mendominasi hingga tak bisa terlupakan. Ini bukan tentang sakit hati. Walaupun terlihat menyakitkan akan tetapi hati ini masih terbesit untuk mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan semua luka seakan termaafkan dengan segala alasan yang kubuat sendiri.
Apakah aku sudah kehilangan akal...????

Sejatinya cinta itu seperti apa?! Jujur aku tak paham, terlebih dengan segala hal yang sudah kuhadapi. Cinta seperti apa ini, dan aku mulai goyah. Goyah dengan perasaanku sendiri, apakah sudah benar keputusanku ketika memulai dengan yang baru tanpa mempertimbangkan getaran yang sama sekali tak kurasakan . Kau hujaniku dengan cinta dan perhatian yang melimpah. Tapi, semuanya itu tak memiliki arti khusus padaku. Mungkin ini yang disebut cinta sepihak. Aku pikir mungkin dengan berjalannya waktu akan timbuh benih cinta dengan segala keunikannya. Tapi, nyatanya hingga detik ini pun aku masih memilih mengenang rasa sakit itu. Kecewa yang membuatku bertahan hingga bermimpi untuk kau datang lembali padaku. (17/01/20)

11/27/2019

Akhir

"Apakah benar kini air mataku sudah mengering..., Apakah benar sudah habis tak tersisa....?"
Aku termasuk orang cengeng dengan hati lemah, jadi sedikit tersenggol pun sudah sanggup mendatangkan hujan lokal  yang teramat nyaring, tapi kini untuk menangispun sepertinya sangatlah susah. Walaupun sesak dada ini, kepala serasa sudah hampir meledak, dan hati tak lagi berbentuk namun setitik air mata tak keluar.

Inilah yang dinamakan sakit tak berdarah. Benarkah hatiku benar-benar sudah membatu....??! Kalau ini adalah yang terbaik, baiklah aku terima. (26/11/19)

3/15/2019

23:29

 Jangan sombong. Jangan merasa berada di atas angin dengan apa yang telah di dapat secara instan. Apa yang mudah di dapat akan cepat pula perginya. Apa yang telah dapat kau raih bukanlah hal yang patut dibanggakan bila ada air mata orang lain, bila dengan menyakiti orang lain, itu menyedihkan. Itu sama saja menaruh batu kerikil di sepanjang jalan yang akan kau lalui.


Jangan bangga dan menganggap apa yang digenggaman itu seutuhnya milikmu apalagi sampai merasa bahwa kau adalah pemenangnya bila proses tidak seperti yang seharusnya akan menghasilkan produk yang tidak sempurna, mungkin terlihat indah dan patut dibanggakan, namun tidak tau sejauh mana produk itu akan bertahan sebelum pada akhirnya malah akan mengecewakanmu dan perlahan menghilang.

Proses itu penting. Yang nantinya akan memberikan kematangan dan kelayakan produk yang benar-benar membanggakan dengan kualitas yang bagus dan selalu terlihat indah dan antik. Keberhasilan tidak hanya dinilai dari apa yang sudah di dapat atau diraih namun juga bagaimana melalui proses hingga menjadi seperti sekarang. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, tidak ada keindahan tanpa proses panjang. (14/03/19)

::
Cerita yang lagi hits daat ini.

6/30/2018

Teliti ketika membeli

Tadi siang disuruh bapak untuk membeli bolpoin dan kapur barus untuk toilet. Karena letaknya di dekat jalan raya dan susah mencari warung rumahan, kebetulan aku juga belum menguasai daerah sana lalu aku pergilah ke minimarket terdekat yang mudah dijumpai dan pastinya ada barang yang dicari. Ya memang ada barang aku cari, selesai memilih barang tinggal bayar, namun ketika melihat nominal yang harus dibayar sedikit kaget juga, masa cuma belanja beberapa macam barang habisnya hampir 100ribu. ya memang sekarang uang seperti tidak ada harganya, makanya bila ingon berinvestasi jangan dengan tabungan karena dalam jangka waktu tertentu nominalnya semakin tak berarti.

Oke kembali lagi ke permasalahan.

Setelah membayar aku langsung keluar, namun dengan keanehan aku buka stuk dan meneliti belanjaan dan harganya. Untung saja aku masih ingat harga yang terpampang untuk bolpoin kenko gel sama-sama isi 3 itu memang ada 2 macam harga yang 15ribu dan 10rb, namun ada bedanya untuk harga 15ribu gel dengan ujung kecil dan runcing mungkin ukuran 0.5mm sedangkan yang aku beli ujungnya yang besar ukuran 2mm sedangkan di struk tertulis harganya 15ribu. dan untuk kapur barus swallow bulet warna warni (cari aja deh pasti ada) harga yang terpampang 17.800 (kalau gasalah. yang aku ingat harga depan 17ribu belakangnya ga begitu merhatiin) namin distruk ditulisnya satuharganya 20.400rb. Wah ini ga bener, awalnya malas lah mau protes tapi mengingat uang seribu perak pun berharga dan ini ada 2 item yang berbeda harga makanya aku masuk lagi setelah orang yang antri di belakangku tadi keluar.
"Mba mau nanya untuk kapur barus dan bolpoin harganya brapa ya?!" sambil memperlihatkan struk yang dan nominal yang tertera.
"Iya mba harganya memang segitu" kata si mba kasir.
"Lah kenapa harganya beda dengan yang disana?!"
"Yang mana yang harganya beda?"
"Bolpoin disana ditulis 10rb disini 15rb, kapur barus disini ditulisnya 20400"
Si mba kasir diam saja, ga bisa berkutik dan kebetulan ada temannya yang datang menghampiri, lalu si mba kasirnya memberitahu tentang perbedaan harga barang mepada temannya yang menghampiri kami. Dan aku disuruh menunjukkan barang yang dimaksud. Kita bertiga menuju rak alat tulis.
"Aku belinya yang 10rb. Memang ada harga yang 15 rb tapi ini bolpennya beda yang satu ujungnya kecil yang aku beli enggak. Dan si temannya ini (cowok) langsung mengambil harga yang tertera disana dan mengatakan jika harganya salah.
"Mana lagi bu harganya yang beda" kata mba kasir.

Lalu aku berjalan menuju rak kapurbarus aku tunjukin tu kapurbarus yang aku beli. Disana ada deretan harga aneka kapur barus.
"Disana ditulisnya 17 tapi disini ditulis 20".
Awalnya agak ragu dalam pikiranku jangan-jangan aku salah lihat harga secara kadang penempatan harga tidak tepat berada di barang yang dimaksud, kadang agak bergeser ke barang lain jadi benar-benar harus jeli. Lalu aku berjongkok untuk melihat harga dan membaca tiap nama dari harga yang di maksud dan memang benar kapur barus swallow bulat warna-warni yang aku beli itu harganya 17rban.

Si mas penjaga memperhatikan struk dan harga di rak. kami kembali berdiri, sementara si mas penjaga kembali mempelajari struk yang ada di tangannya.
entah kata-katanya gimana intinya di struk harga 20400 namun di bawah ada potongan 5rb. dan memperlihatkannya padaku dan dia berkali-kali kekeh jika harga segitu sudah namun ada potongan. Ya sudahlah, akhirnya aku iya in aja. karena ada potongan dan mikir kalau kelamaan nanti di tunggu bapak. oke akhirnya aku pulang dan mendapat pengembalian 5rb dari bolpoin.

Ketika duduk santai pikiran beda harga masih berputar-putar di pikiranku. Aku lihat lagi struk belanjaan, dan sepertinya ada yang aneh. Namun ga aku pikir karena panggilan bapak untuk membelikan makan.
Dan sampai di rumah sebelum membuat coretan ini aku lihat lagi tu struk belanjaan dari indomart. Berpikir, dan melihat perbaris, sampailah di akhir transaksi dimana tertulis voucher. Nah yang dimaksud mas penjaga potongan itu ternyata voucher. Ini bagaimana penatarannya masa ga bisa bedain voucher dan potongan harga. Ga bener ini....

Harusnya harga yang tertera di struk tetap 17rban jika ada voucher potongan harga dikurangi dari harga yang 17rban bukan yang 20rban. Dan baru ingat jika ada poyongan harga maka akan di tulis promo dengan kertas warna kuning. Jujur sebenarnya ga terima. Bukan permasalahan uang seperak diributin tapi ini sudah seperti kebohongan. Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali aku alami di beberapa minimarket indomart ataupun alfamart namun ketika melihat struk dan merasa ada yang aneh namun karena aku ga hapal harga yang tertera maka ga bisa protes sementara mau balik ke dalam untuk mengecek harga sudah malas.

Tidak hanya beda harga antara yang di rak dan struk pembayaran namun pernah juga beli di Alfamart waktu itu hanya beli chikie dan aqua namun di struknya ada 1 barang yang aku kagak tau itu apa, aku ga merasa membelinya dan aku ga ngerti itu barang apa. Aku masih ingat jelas kejadiannya kebetulan waktu membayar karena antrinya agak banyak maka petugasnya membuka kasir satu lagi dan aku menjadi orang pertama yang dilayani. Dan setelah keluar aku lihat struk pembayaran lihat tu di barisan paling atas nama barang asing yang ga aku tau wujudnya seperti apa dan ga aku beli namun masuk hitungan. harganya persis 1000 rupiah. Mau masuk dan tanya tapi malas apa lagi masih ada beberapa orang antri. akhirnya dengan beribu pertanyaan yang berseliweran di otak aku pulang.

Dari kejadian inilah sekarang punya kebiasaan setiap beli di minimarket setelah di luar membuka struk dan melihat ulang daftar belanjaan namun parahnya ga begitu mengingat daftar harga dari setiap barang yang sudah dibeli.

Oh ya ada satu unek-unek lagi ni. Dulu pernah waktu ngobrol dengan yongsa entah awalnya gimana hingga akhirnya mengarah ke pengembalian receh belanjaan di minimarket. Jika dulu di swalayan kembali kalau ga salah ingat kurang dari 100 perak akan diganti rengan permen. Dan jaman sekarang di minimarket yang mudah di jumpai kembalian 100-200 perak akan di minta untuk disumbangkan. Yongsa berkata walau kembali 100perak pun akan diminta karena menurut Yongsa mau disumbangkan kemana tidak jelas. Dan aku setuju dengan yongsa. berapapun kembaliannya aku minta. ini bukan soal pelit ya namun karena tidak ada kejelasan mau disumbangkan kemana inilah yang menjadi pertimbangan. Namun paling sebel jika bayar lalu si kasir bilang "ada uang pas" gemes deh. masa sekelas minimarket ga punya kembalian kalah donk dengan warung rumahan bayar dengan uang berapapun dilayani ga ada istilah ada uang kecil.

Suatu ketika waktu melihat tv hitam putih disana membahas tentang kemana uang donasi dari pembeli di donasikan. namun aku hanya melihat secuil saja. Ya dari sana sudah sedikit mengikis pikiran buruk di otakku. Namun hal tersebut seketika kembali menjadi tanya ketika aku berbelanja di minimarket, saat membayar ada pecahan 200rupiah (kalau ga salah ingat. pokoknya kurang dari 500) saat itu si kasir bertanya boleh ga jika 200nya disumbangkan, aku tegas bilang enggak juga menggeleng dan setelah aku menerima struk juga kembalian lalu pas di luar aku liat kembali kembaliannya ternyata genap 500 apa 1000 intinya lebih dari yang seharusnya. (Anteng aja tu ga protes kembaliannya berlebih..., jelas saja anteng kan dia yang kasih dengan sadar bukan aku yamg minta) pas sampai rumah aku lihat struk belanjaan ternyata benar kembaliannya lebih. Ga aku kembaliin uangnya (maapken waktu itu belum sadar) lagian si kasirnya sendiri yang ngasih kan berarti rejeki aku donk.

Dari kejadian semacam itu timbul pertanyaan. Apa kasirnya tidak nombok jika kembaliannya lebih dari yang seharusnya dibayar?????? Inilah saat-saat otak bekerja. Ketika pembeli mendonasikan uang recehnya apakah di hitung seberapa besar donasi yang didapat untuk hari ini. Lalu jika ada kembalian yang berlebih siapa yang nombok. Apakah mau pegawai nombok ketika uang penjualannya kurang?! tentunya ga mau donk, lalu uangnya itu dari mana.....?! Nah dari sinilah semakin yakin jika berapapun kembaliannya aku minta balik. Ga usah donasi karena ga ada kejelasan yang pasti.

Seharusnya jika ada potongan harga harga awal ditulis dan dibawah ditulis dapat potongan berapa rupiah seperti di supermarket gitu. Bukan malah diganti dengan tulisan voucher. Sedangkan setau aku anatara voucher dan diskon itu mirip tetapi berbeda lho ya. (30/06/18)

::
# Sebaiknya jika berbelanja, selain teliti dalam melihat tanggal kadaluarsa, memilih barang yang bagus juga teliti melihat harga, jangan salah lihat (dibaca setiap label) dari barang yang diinginkan. Ingat harga yang dibeli usahakan untukselalu meminta struk belanjaan.
#jika di swalayan perhatikan monitor dari kasir yang menghitung barang belanjaan, terkadang salah masukin jumlah barang yang dibeli atau jika di minimarket yang ga bisa melihat monitor lihat kembali struk belanjaan.
# Sebelum meninggalkan tempat cek kembali struk belanjaan dengan barang yang dibeli dan harga juga kembalian (bila ada) karena jika sudah meninggalkan tempat sudah tidak dapat protes..

Pembelajarannya Cermat dan teliti dalam membeli barang.


5/13/2018

Koleksi untuk Hobby


Ini foto aku ambil ketika main ke rumah simbah. satu lemari kaca penuh dengan deretan tas. Dalam pikiran "Tas segini banyaknya bagaimana makainya, apa ga sayang jika uang dihambur-hamburkan untuk membeli tas dan hanya dipajang di lemari doank"
Aku menduganya itu tas milik istri kakak sepupuku, tidak mungkin kalau bu dhe beli tas sebanyak itu, padahal ia sekarang tinggal di luar Jawa. Ya mungkin di rumahnya sana sudah tidak muat makanya sebagian dipulangkan dan di taruh saja di lemari kaca. Padahal tas yang hanya di diamkan, ga dipakai malah bisa rusak dan lapuk karena lembab. Entah itu tas sesekali di bersihin apa di angin-anginin simbah atau tidak.
Mungkin kakak iparku yang satu ini koleksi tas kali ya, jadi tasnya begitu banyaknya. Kalau sudah hobby memang susah ya direm. Kakak iparku ini mah cewek banget deh pokoknya dan penampilannya ga boleh ada yang menyaingi.
Tiba-tiba terpikir, mungkin ga ya beli tas sebanyak itu daaan.... #dor segala bayangan hilang karena ga pernah terbersit untuk mengkoleksi sesuatu. Novel pun sudah lama ga pernah beli. soalnya bingung tempatnya dan belum bisa merawat dengan benar makanya berhenti dengan tiba-tiba.
Sewajarnya sajalah, sesuai kemampuan. Ga perlu selalu melihat ke atas, ga perlu memaksakan untuk punya jika memang tidak membutuhkan, sesekali saja melihat ke atas alangkah baiknya jika di imbangi dengan melihat ke bawah agar ga tersandung batu dan tak terjerumus ke lubang dari jalan yang ga rata.
Dan memang benar itu tas milik kakak iparku yang sudah ga kepake dan diberikan bu dhe, itu hanya sebagian sebagiannya lagi pemoerian tante. (13/05/18)

6/19/2017

Pengartian yang Berbeda


Ketika lagi keluar isengnya dan mengamati update stattus milik teman-teman, menemukan kalimat "Order obat aja rebutannya kaya sale di matahari..." kenapa ya tiba-tiba aku keluar sensinya. menangkapnya seperti menyepelekan, menganggap remeh mereka yang lagi mengantri untuk dilayani terlebih dahulu dalam pembelian obat. Kaya ga terima yang timbul seketika itu juga, terlebih ketika ada kata 'aja' dimana yang aku tangkap obat seperti barang sepele padahal itu hal penting banget menurut aku.

Dulu pernah aku beberapa kali ikut adeku nganter pesanan obat. Oh ya ingat beberapa tahun lalu saat sodara ingin menikah, adekku datang ke Solo beberapa hari sebelum cara ya memang sudah janjian dengan sepupu yang kos di kota Solo mau jalan-jalan duluan sebelum sibuk. Pagi masih masuk kerja siangnya baru berangkat, karena mepet dengan jam travelnya maka ketinggalan deh walaupun sudah buru-buru ke tempatnya. Ya sudah akhirnya merelakan tiket dan beli baru dan waktu berangkatnya masih lumayan lama (jadwal keberangkatan 2 jam sekali) karena bingung mau nunggu dimana akhirnya kami putuskan untum mencari makan, beli soto di pinggir jalan yang rasanya lumayan. Di sela-sela makan itu aku bertanya kenapa masih berangkat padahal aku tau jika dia sudah beberapa hari ini sudah libur panjang dari kantor (lupa itu cuti apa an) trus dia bilang kalau ga tanggungan obat sudah berangkat dari kemaren-kemaren ke solo nya. Ya aku tanya lagi kenapa ga dititipin temannya saja..., dijawabnya profesional kerja, tanggung jawab dengan pekerjaan. Urusan dengan nyawa ki, pikirkan jika obatnya telat sedikit datangnya pasien itu bisa meninggal, bisa saja titip dengan teman tapi jika teman yang dititipi juga masih ada kerjaan atau lupa bagaimana... urusan dengan obat ga bisa main-main. Taruhannya nyawa orang, harus benar-benar profesional kerja. Bukan hanya tanggung jawab dengan pekerjaan tetapi juga dengan nyawa orang lain yang membutuhkan obat tersebut itu yang aku tangkap.

Dan seperti yang aku bilang tadi kerika membaca stattus teman ada emosi yang muncul. Anggap saja lagi menebus obat flu, antrian sangat panjang bukannya si orang yang sakit juga akan lebih lama meminum obatnya...., bila obat langsung di dapat, obat bisa langsung di minum rehat dan ketika bangun badan sudah mulai enakan. Bisa juga orang yang antri masih banyak pekerjaan yang di tinggal makanya buru-buru, kata 'aja' yang digunakan buatku memiliki arti yang berbeda (meremehkan).

Hmmmmm...., mungkin aku yang terlalu sensi sampai-sampai meributkan hal kecil kaya gini. (19/06/17)

5/09/2017

Tak bisa dimengerti

Bertanya pada yang tidak seharuanya menjawab
Semua ini membuatku berpikir, bagaimana jika yang seharusnya memiliki kewenangan dan hak malah mempertanyakan kepada orang yang tidak berkepentingan, bukan bertanya langsung kepada yang menjalankan atau subjeknya sendiri.

Bingung..., bagaimana orang yang tidak bersangkutan bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikannya dan kenapa malah seakan mempersalahkam orang tersebut karena sama sekali tidak tau menau dengan subjek yang maksud. Mengapa tidak ingin bertanya langsung kepada subjek, mengapa tidak mencari informasi tentang semua yang menjadi tanya itu kepada sumbernya, ini malah bertanya kepada orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya terhadap subjek.

Sungguh membingungkan. Lalu mengapa juga harus orang lain yang mencari info dengan segala macam yang ada sangkut pautnya dengan subjek yang di maksud.

Cobalah lebih mengenal subjek, beri pendekatan dan bertanyalah langsung untuk segala macam yang menjadi ganjalan selama ini agar lebih mudah mencerna dan benar-benar paham untuk penjelasan dari yang menjadi pertanyaan. (08/05/17)

☆ell

10/19/2016

Perbedaan #1

Sebenarnya aku ga berani menulis ini, namun berhubung keinginan untuk menulisnya sudah beberapa kali datang maka kali ini aku beranikan diri untuk menguraikan apa yang aku tau, hanya sebagai catatan pengingat saja.

Dari jaman sekolah dulu ibu berpesan jika nanti aku memilih suami keinginannya tidak macam-macam hanya ingin yang seiman itu saja. Lalu aku coba berpikir mengapa harus seiman...??? Aku berpikir mungkin agar saat ibadah bisa bersama-sama, agar nantinya jika sudah memuiliki keturunan tidak ribet saat mengarahkan si anak tentang agama yang akan di anut atau bisa jadi agar anak tidak binging mendapat dua ajaran agama yang berbeda dari orang tuanya.

Lalu semakin kesini sering aku membaca tentang larangan agama untuk menikah dengan penganut agama yang berbeda dan negara juga tidak mengijinkan pernikahan lintas agama hingga saat ini. Apa alasannya..., sebagai orang awam yang tak mengerti secara mendalam tentang agama aku cari sendiri jawabnya yang bisa diterima oleh nalarku. Dan jawaban seperti yang aku tuliskan di atas sudah cukup mampu meredamnya.

Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman perlahan pikiranku mulau terbuka mengikuti perkembangan di era modern sekarang ini. Ada umpan balik dari pikiran, apa salahnya menikah dengan beda agama, bukankah pada dasarnya yang dituju itu sama berdoa kepada Tuhan hanya caranya saja yang berbeda-beda. Semua agama juga mengajarkan tentang kebaikan, mengasihi sesama dan bersyukur. Tentang kadar iman setiap orang itu tergantung individu masing masing karena itu sudah menyangkut urusan pribadinya dengan Tuhan.
Itu hak mereka yang mau menikah jika ingin menikah dengan beda agama..., begitu banyak penyangkalan yang secara awam aku lontarkan kepada diriku sendiri untuk mematahkan argumen ibu jika menikah haruslah yang seagama. Waktu itu aku berpikiran jika menikah dengan agama yang berbeda itu tak masalah selama ada toleransi antar keduanya.

Dan sekarang aku mulai paham mengapa ada pertentangan untuk menikah dengan keyakinan berbeda. Menikah tujuannya untuk apa seh...??? Apakah hanya kebutuhan dan status, atau karena ibadah semata-mata karena Allah saja...coba di pikirkan.

Kita hidup tidak hanya disaat sekarang namun pikirkan juga dikehidupan mendatang (setelah kita meninggal), jika pernikahan itu beda agama;
* Sama seperti satu kapal yang mempunyai dua peta yang berbeda, akan menuju kemana terkadang membuat bingung yang lainnya meskipun ada toleransi antar keduanya yang begitu besar. Namun tujuan yang berbeda tidak dapat membuat kebersamaan seperti yang diharapkan (bersama di kehidupan ini dan nanti)
* Lalu bagaimana sang suami bisa menjadi seorang pemimpin jika yang di pimpin tidak ada. Seperti berjalan dengan satu kaki, yang tidak seimbang.
* Jika nantinya memiliki keturunan (anak) dan anak itu mengikuti agama yang di anut ibu atau bapaknya, tidak ada yang mengikuti agamanya lalu siapa yang akan mendoakan saat orang tua sudah meninggal.

Iya benar ga masalah walaupun di doakan keturunannya yang agamanya berbeda itu tidak salah, namun tahukah jika doanya itu tidak sampai kepada yang di tuju, jadi percuma saja kan tidak bisa membantu memberikan jalan terang kepada orang tuanya menuju ke surga. Ibaratnya sudah berbeda jalan, walaupun setiap hari di doakan namun tetap saja tidak akan sampai, berbeda jika yang mendoakan adalah yang seagama siapapun itu maka doa itu akan sampai kepada yang di tuju. Hal semacam ini aku dengar tidak hanya dari satu orang saja dan mereka pada intinya memberikan penjelasan yang sama, bahwa doa yang di panjatkan kepada orang yang sudah meninggal tidak sampai kepada yang di tuju jika dari keyakinan yang berbeda.

#
Maaf bila penalaranku ini salah. Semata-mata hanya menulis dari yang aku tau saja, menyuarakan apa yang menjadi kegamangan dari rasa penasaran. Tidak ada maksud untuk menyinggung ataupun membeda-bedakan. Karena tulisan ini sebagai pemikiran dari orang awam. (18/10/16)



☆ el

8/20/2016

Hujan dibalik Jendela



Malam ini begitu dingin, hujan turun dari kemaren tak kunjung berhenti. Melihat hujan dari balik jendela dengan selimut yang ku gunakan untuk menghangatkan tubuhku, namun itu juga belum cukup menghangatkanku. Mungkin segelas teh hangat menjadi alternatif ampuh untuk mengusir dingin yang perlahan merasuki tubuhku.

Uap yang mengepul dari cangkir di tanganku memberikan sessasi hangat ketika menerpa wajahku. Sesapan pertama sedikit aku rasakan lidahku yang terbakar, perlahan tubuh merasakan kehangatannya.

Hujan di luar terlihat indah ketika terkena pancaran cahaya dari lampu jalan. Beberapa kali aku sibuk dengan hp yang aku genggam untuk membuat coretan tentang keindahan hujan, melukiskan alam dengan kata.

Malam belum begitu  namun di luar tak satupun suara kendaraan yang lewat seperti hari biasanya. Sebagian dari rumah-rumah itu menutup rapat pintu dan pagar rumah karena mereka tidak ada rencana untuk keluar rumah, mungkun karena hujan sehingga mereka tidak mau basah dan terkena udara dingin ketika berada di luar untuk itulah mereka memilih menghabiskan waktu dengan menonton televisi ataupun tidur berselimut tebal.

Dari kaca jendela terlihat cipratan air yang mengalir butiran kemudian mengalir membuat jalan untuk menuju ke tanah. Lama aku menikmati hujan ditemani segelas teh hangat yang sudah habis aku teguk. Udara semakin dingin, sepi semakin terasa dan kantukpun mulai datang menyapaku. Malam ini kembali lagi hujan menjadi lagu pengantar tidurku. (20/08/16)

8/22/2015

E.T ~ Air Mata Ibu

Sepertinya benar apa kata orang jika suami istri itu mirip. Sering orang mengatakan jika wajahnya mirip mereka berjodoh, ya mungkin itu benar tapi hanya kecil kemungkinan namun jika mereka mengatakan suami istri sedikit banyak memiliki sifat yang sama, mungkin itu sebabnya mereka bisa klop dalam menjalankan rumah tangganya.

Rumah tangga yang dijalani Kak Pon bersama Kak Uri kini sudah dikaruniai buah hati perempuan hidup mereka bahagia, namun begitu hubungan mereka dengan orang tua juga sodara-sodaranya tak berjalan baik. Meskipun mereka rumahnya bersebelahan namun sudah seperti orang asing. Anak yang melupakan orang tuanya, ketika Kak Uri memiliki rejeki lebih tak pernah memberi atau pun berbagi dengan orang tuanya bahkan selalu menutup-nutupi apa yang mereka punya. Ketika membeli makanan di luar atau masak enak pun tak pernah ia ingat meberikan sedikit kepada orang tuanya, tak pernah sedikitpun orang tuanya mendapat kesempatan mencicipi masakan yang dimasaknya sehari-hari.

Anak yang di dilahirkannya, dirawat dan dibanggakannya kini melebihi orang lain yang tak dikenalnya padahal jelas-jelas terlihat dan tinggal di sebelah rumah yang juga masih menempati tanah orang tuanya namun mereka ga pernah berpikir kesana. Mereka berpikir sudah kewajiban orang tua memberikan kehidupan dan tempat yang layak untuk anaknya, jadi kewajiban yang ga boleh menuntut haknya. Suami istri memiliki sifat sama, ga pernah memikirkan orang tua. Ketika mereka memiliki rejeki lebih tak mengingat orang tua atau sodaranya yang lain, namun ketika orang tuanya mendapat rejeki lebih selalu meminta bagian. Dalam artian apa yang ia punya ya miliknya namun apa yang orang lain punya ia juga punya andil disana.

Air mata itu lama di tahan namun pertahannya runtuh dan tumpahlah air mata membasahi pipi yang mulai keriput dengan banyak garis-garis deiring usia yang kini tak muda lagi. Mungkin jika kak Uri tinggal jauh dari sana ga ada masalah untuk orang tuanya, setidaknya ia tidak melihat dan tak akan mengusik segala kelakuan anaknya namun ini kak Uri tinggal bersebelahan sehingga pada saat kak uri beli ataupun memasak sesuatu ibunya akan tau, itu juga ga ada keinginan untuk memberikan sedikit yang dimakannya kepada orangtuanya. Bahkan sekedar menawari makan saja tidak pernah kak Uri lakukan. Bagaimana bisa anak yang dibanggakan melakukan hal itu, padahal tetangga saja terkadang mengirimkan makanan sekedar berbagi rejeki tapi mengapa anak kandungnya yang harus bertaruh nyawa pada saat melahirkannya ga pernah melakukan hal itu.

Air mata kesedihan, ia merasa seperti di buang oleh anaknya. "Meskipun ia anak kandung tapi anggap saja ia seperti orang lain yang mengontrak di samping rumah. Ga perlu di pikir, anggap kehilangan anak satu ga ada masalah masih ada anak-anak lain yang lebih peduli". Mungkin orang-orang akan menyarankan seperti itu tapi bagaimana bisa menutup mata pada anggota keluarga, jika ga lihat jelas bisa saja tapi ini terlihat dengan jelas, dengan jarak yang sangat dekat bahkan malah seperti mengejek dan dengan sengaja memperlihatkan apa saja yang ia miliki namun ketika disapa perihal barang yang sedang dibawa bukan penjelasan halus atau tanggapan yang menyejukkan malah sebuah kata-kata dengan penekanan dan dengan nada yang meninggi. Semakin hancur saja hati ibu mendengarnya, dan kejadian seperti bukan saja terjadi dengan sang ibu tetapi juga dengan anggota keluarga yang lain. Keluarga kak Uri termasuk suami dan anaknya selalu tak pernah bisa baik dengan anggota keluarga besar mereka yang masih satu atap meskipun terpisah tembok.

Dan dari air mata yang menetes itu terucap berbagai macam cacian, kemurkaan seorang ibu terhadap anak yang ga bisa membalas budi, anak yang hanya mementingkan dirinya sendiri juga seorang anak yang lupa darimana ia berasal. Doa ibu adalah segalanya, dengan doa seorang ibu akan meringankan langkah, membukakan pintu rejeki dan memudahkan segala urusan begitu juga sebaliknya tanpa restu ibu perjalanan tak semudah yang dibayangkan.

BERSAMBUNG...

8/18/2015

E.T ~Kuiklaskan Dia Untukmu

Cerita terus saja mengalir, dari matanya aku melihat semburat kesedihan. Air matanya mulai menggelayut di pelupuk mata. Kekecewaan yang teramat sangat dari seorang ibu kepada anak yang dibanggakan diantara sembilan anaknya yang lain. Kehidupan yang sulit dengan sembilan anak membuat mereka harus ekstra keras untuk mendapatkan uang demi bisa makan dan memberikan kehidupan yang layak serta pendidikan sebagai bekal masa depannya karena hanya pendidikan lah yang bisa mereka wariskan meskipun itu tidak sampai perguruan tinggi namun setidaknya dengan pendidikan itu mereka diharapkan bisa bersaing dan mengadu keberuntungan dengan orang-orang di luar sana. Bisa bertahan hidup dan memulai kehidupannya ketika sudah dewasa.

Namanya produk ga semuanya bisa menjadi kualitas unggulan terkadang ada cacatnya (barang ga lolos sortir), telur sekeranjang tidak semuanya bagus, selalu ada yang busuk. Begitu juga dalam keluarga, tak semua buah hati bisa menjadi kebanggaan, selalu salah satu diantara mereka akan menjadi pembelot dalam keluarga. Begitu juga kk uri, ketika belum menikah menjadi anak kesayangan namun ia juga yang setelah dewasa dan berumah tangga bagai malin kundang yang durhaka kepada orang tuanya.

Ketika masih kecil ia selalu di utamakan diantara sorada-sodaranya yang lain namun tetap saja kk Uri masih cemburu dan merasa dianak tirikan, protes dan ga terima selalu ia lontarkan kepada orang tuanya. Kak Uri hanya ingin menjadi yang terbaik diantara semua sodara-sodaranya bahkan ia cenderung sombong yang tak pernah melihat bagaimana perjuangan orang tuanya serta kehidupannya, yang ia lihat hanya atas, melihat kepada orang-orang yang kehidupannya lebih baik darinya namun begitu ia sendiri pun ga mau berusaha mengubah nasipnya agar lebih baik dari yang sekarang.

Ia pernah merebut padar kakaknya (kak etik) padahal dengan wajahnya yang lebih cantik dari kakaknya harusnya ia bisa mendapat lelaki lain. Bahkan ada juga beberapa lelaki yang mendekatinya namun hanya dipandangnya sebelah mata karena ia sudah terpikat cinta lelaki pacar kakaknya. Kak Uri lebih aktif untuk mendekati lelaki ini (kak pon) dan apesnya kak Pon juga memberikan respon yang sama. Hingga secara diam-diam mereka jadian tanpa sepengatuan kak Etik. Mereka menjalin hubungan secara diam-diam, mencari jalan aman agar tidak satu orang pun curiga dan mengendus permainan ini. Ya namanya bangkai bagaimanapun di tutupi suatu saat akan tercium. Permainan petak umpet itu pun kini berakhir karena kak Etik sudah mengetahuinya. Hati siapa yang tidak hancur melihat kekasih yang sangat ia cinta berselingkuh apalagi dengan adik kandungnya sendiri dan itu sudah berjalan lama. Hatinya sangat remuk, kecewa dan entahlah bahasa apa lagi yang bisa mewakili perasaannya.

Sebagai seorang ayah melihat anak gadisnya diperlakukan begitu tentunya tak terima. Hingga suatu hari orang tuanya Pak Di, mengundang pemuda ini dan mempertemukan mereka bertiga menyidang mereka dihadapan anggota keluarga yang lain. Mencari kejelasan tentang kabar yang didengarkan dan meluruskan permasalahan. Kak Pon serta kak Uri ditanya tentang kabar bahwa mereka sudah pacaran dan mereka pun mengakui bahwa mereka selama ini sudah pacaran. Betapa murkanya sang ayah mendengar itu semua. Kebenaran terkadang terdengar lebih menyakitkan, namun nasi sudah menjadi bubur, cinta tak jarang membunuh logika dan menghalalkan segala cara meskipun itu salah. Mau marah seperti apa pun tak ada guna karena cinta sudah menjadi batu yang mengeras menutupi hati nurani, bingung juga ketika harus memutuskan karena apa pun keputusan yang akan diambil putrinya lah yang menjadi korban.

Sudah ga bisa berbuat apa-apa akhirnya sang ayah pun menanyakan kepada Kak Pon tentang perasaannya, dan anehnya Kak Pon masih saja bisa menjawab bila ia mencintai keduanya. Hati siapa yang tak hancur mendengar jawaban seperti itu. Semakin gusar saja Pak Di mendengarnya, ayahnya memberi ultimatum agar kak Pon memilih salah satu dari kedua anak gadisnya atau melepaskan keduanya. Memang keputusan yang sulit terlebih untuk Kak Etik, namun ini akan lebih baik daripada ia mendapat harapan kosong dari Kak Pon. Dan akhirnya Kak Pon pun memilih kak Uri. Entah ini keputusan benar atau salah yang pasti dengan adanya jawaban itu pun semua masalah dianggap selesai.

Kak Etik merasa ini ga adil, ia yang terlebih dulu kenal dan menjalin hubungan namun mengapa adiknya yang mendapatkan. Ia merasa orang tuanya memihak kepada adiknya, sakit hati juga kecewa dengan kepurusan mereka namun tak ada yang bisa dilakukannya, hanya bisa menerima nasip dan pasrah dengan keadaan yang ada di depannya. Kejadian ini membuat kak Etik menjadi pendiam dan banyak murung di dalam kamar. Bahkan ia sekarang lebih sering kerja lembur, mungkin itu salah satu cara untuk mengenangkan hatinya yang kecewa atas keputusan yang sama sekali tak berpihak untuknya.

Tak lama setelah sidang itu, kak Uri pun dilamar Kak Pon dan mereka menikah. Bayangkan bagaimana perasaan kak Eik melihat orang yang dicintainya duduk bersanding di pelaminan dengan adiknya sendiri. Rasanya ingin kabur dan bersembunyi di tempat yang tak seorangpun bisa menemukannya. Hancur hati yang tak bisa ia sembunyikan, di tengah keramaian ia memilih duduk jauh dari anggota keluarga yang lain. Berbaur diantara tamu undangan agar tak seorangpun bisa menemukannya. Apakah nasip baik sekali pun tak ada dalam perjalanan hidupku. Sangat susah menahan air mata ini agar tidak tumpa, namun begitu hati ini sudah dibanjiri air mata dari kemaren-kemaren. Begitu tega adiknya sendiri, padahal selama ini ia juga sudah banyak mengalah hanya untuk adiknya namun mengapa masih saja kak Uri seakan tak pernah rela bila ia merasakan kebahagiaan. Kak uri selalu merampas kebahagiaan, dan kak Pon juga sepertinya hanya mempermainkannya, cintanya ga sekuat yang dibayangkannya. Semua kata yang pernah di ucapkannya hanya rayuan gombal, cintanya hanya seulas bedak di muka.

Sejak hari itu dunia kak Etik seakan hancur, tak ada lagi tempat yang bisa membuatnya bernafas lega. Setelah menikah kak Uri dan kak Pon tinggal di rumah, membuat rumah kecil di samping rumah orang tuanya. Sementara luka, kecewa, sakit hati kak Etik belum sempat mengering malah sekarang ia harus melihat mereka setiap hari, separuh dari sisa harinya. Besar kesabaran kak Etik menerima semua ini, tak ada benci kepada adiknya walaupun ia masih merasakan sakit hati.

Perlahan kak Etik mencoba untuk iklas menerima kenyataan bahwa kak Pon bukanlah jodohnya, ia kini hanya fokus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Tak dihiraukan lagi sakit hatinya meskipun kak Etik belum bisa membuka hati untuk pria lain yang mencoba mendekatinya.


BERSAMBUNG

8/17/2015

Cinta yang Tak Perlu Diperjuangkan

Aku pernah melihat tatapan itu. Pandangan mata tajam, lama ga berkedip, entah apa yang dipikirkannya tapi mengapa melihat itu hati menjadi berbunga-bunga rasanya seperti terbang dan ingin ia lebih lama lagi memandangiku. Ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam hati, deg degan. Sorot mata itu teduh namun seperti ingin memenjarakanku di dalamnya, tak ingin melepas walau sedetik. Aaah melayang melihat tatapan itu andai punya keberanian untuk menghambur mendekatinya "cihuiiii" sekali dan mungkin itu akan menjadi peristiwa bersejarah yang ga akan pernah terlupakan sepanjang hidupku.

***

Kau diam-diam mengambil fotoku yang seakan lagi memfoto kami rame-rame yang lagi kumpul makan bersama namun aku tau fokusnya ke aku, iya kan kakak.
Apakah potretku akan selalu kau bingkai indah di hatimu kak...

Kakak andai kau tau bila dari kecil aku mengidolakanmu, menyayangimu lebih dari sodara dan aku yakin jika kamu juga merasakan hal yang sama namun pertalian darah ini seperti tembok yang kokoh berdiri membatasi diantara kita berdiri. Meskipun dalam kultur kita diperbolehkan namun sepertinya tak mungkin untuk di lakukan. Kita akan tetap seperti ini, menjadi adik dan kakak dalam pertalian sodara. Engkau kakak sepupuku juga menjadi sosok pangeran yang menjadi dambaan sebagai pendamping hidup yang sempurna bagiku.

Sejak kecil, ketika teman sebaya masih meributkan mainan  dan asik bermain sementara aku sudah memiliki rasa suka terhadap lawan jenis. Cinta monyetku terlalu dini dimulai dan orang yang beruntung menjadi pangeran kodok itu kamu kakak. Bahkan setelah menginjak dewasa rasa sayang, kagumku padamu ga pernah sedikitpun berkurang atau tergantikan dengan yang lain, selalu menjadi pembanding bila ada seorang laki-laki yang mendekatiku. Dia harus sepertimu namun tak ada yang sama sepertimu kak. Engkau masih yang terbaik diantara mereka dalam pandanganku, engkau masih selalu menjadi teratas menduduki tahta dalam hatiku.

Namun kini aku harus merelakanmu untuk wanita lain yang kau pilih menjadi pendamping hidupmu. Aku cemburu bahkan sempat juga berdoa agar kalian putus, ga rela saja melihat kakak bersama wanita lain. Wanita itu ga cocok untuk kakak. Melihat foto wanita itu mengapit manja tubuhmu dengan mesra sungguhku tak rela. Ingin rasanya menjambak dan menariknya dari potret itu, bahkan mencakar kulit mulusnya hingga dia jera dan pergi dari sampingmu, terldengar begitu sadis ya tapi aku benar ga rela kamu mendapatkan dia.
Tiba-tiba saja teringat beberapa tahun yang lalu ketika kau memandangku dengan lekat tanpa berkedip. Di waktu sore kau lagi duduk santai bermain gitar di depan tv, dan aku yang lagi ada acara sekolah masih sibuk dandan ya walau hanya merapikan rambut dan memakai bedak karena ga mungkin juga anak kecil menggunakan riasan wajah lengkap malah nanti bisa menjadi omongan teman-teman juga guru. Penasaran dengan tayangan yang ada di tv aku pun melihat dari kamar namun karena kurang jelas aku pun berdiri di depan pintu sambil memakai hand body polesan terakhir dari dandanan sore itu.

Namun aku merada ada seseorang yang sedari tadi memperhatikanku, dan ketika menengok kakak sedang memperhatikanku. Entah pandangan kagum atau kaget karena baru kali ini aku melihat kakak memandangku seperti itu. Antara bangga, malu dan senang sebuah perasaan yang aneh seketika muncul dari hati seakan dada bergemuruh dan sekujur tubuh menjadi merinding. Kakak, kau sudah berhasil membuatku salah tingkah....
Seketika kesadaranku kembali ketika melihat cincin yang melingkar di jari manismu itu. Selama ini aku sudah mencoba menerima kenyataan bila cinta monyetku bukanlah cinta sejati, tapi masih sulit untuk mencari alasan agar aku bisa menjatuhkanmu dimataku. Kakak, taukah bila aku punya banyak mimpi bersamamu di waktu kecil...???! Aku sering membayangkan bisa bermain, jalan-jalan dan melakukan banyak hal denganmu. Berbagi susu dan biskuit di pagi hari, belajar bersama, naik sepeda dan pergi ke tanah lapang untuk bermain layang-layang atau melihatmu bermain bola itu menjadi impian terindahku waktu itu.

Impian anak kecil yang kini sudah tumbuh dewasa namun belum bisa mengubur cerita-cerita imajinasi yang sering hadir dimasa lalunya. Cerita yang sampai sekarang masih tersimpan rapi, cerita tentang cinta monyet yang penuh pengharapan dan hanya sepihak. Cinta..., terkadang ada hal-hal yang mengharuskan kita hanya bisa memandang dan menumbuhkannya dalam hayalan. Ketika dari awal kita tau bahwa semua ini tak mungkin, sehingga tak perlu untuk di perjuangkan maka biarlah cinta hanya menjadi bintang yang berkerlip ketika malam datang. Aku tak perlu berusaha untuk meraihnya, karena bintang akan jauh lebih indah ketika dilihat dari kejauhan bukan disaat ada dalam genggaman.

8/09/2015

Antara Cinta dan Ambisi #3

Sejak aku mengenalnya duniaku berubah, aku sangat mencintainya. Andai jarak ini tak ada tentunya semakin indah dan komplit kebahagiaanku. Kita tak perlu menunggu long weekend untuk bisa bertemu. Terkadang ada rasa was-was dengan berbagai prasangka yang bisa menyudutkan hatiku hingga menjadi sesak untuk bernafas ketika kau tak ada kabar atau terlalu lama membalas pesanku. Aku takut kau tergoda dengan perempuan lain disaat kau jauh dariku. Aku terlalu takut kehilanganmu karena aku sangat mencintaimu. Namun aku mencoba melawan pikiran-pikiran buruk itu meskipun tak mudah dan barulah reda disaat mendengar suaramu ataupun mendapat pesan darimu.

Bimbang yang menjadi-jadi seakan menjadi warna hari-hariku bersama cintamu. Aku tau jika landasan hubungan jarak jauh adalah kepercayaan, aku percaya dengannya namun aku ga percaya dengan lingkungan dimana dia berada. Entah di kantor, di lingkungan dia tinggal bahkan teman-temannya pastinya banyak, dan ada ceweknya lalu bagaimana jika...??! Aaah tak bisa kubayangkan. Semoga saja ini hanya kehawatiran tak mendasar yang muncul sesaat, selama ini dia menghadirkanku dalam setiap aktifitasnya dengan bercerita apa saja yang dia kerjakan dan siapa saja yang di temuinya satu hari penuh, begitu pun aku, ya walaupun tak ada yang penting karena sehari-hari aku hanya bermalas-malasan di depan tv selain membantu pekerjaan rumah ibu yang seabrek. Mungkin ini juga yang membuat kecemburuanku semakin ga terkendali, tak ada kegiatan untuk membunuh waktu yang serasa lambat berputar.

Sebenarnya bosan juga selalu berada di rumah, namun apa boleh dikata surat lamaran pekerjaanku belum satu pun yang mendapat respon dari pihak perusahaan, sedangkan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi juga membutuhkan dana yang ga sedikit lagian aku juga sudah capek untuk berpikir, ya mungkin kapasitas otakku terlalu kecil sehingga bila digunakan untuk menghafal dan berpikir berat mudah panas. Pernah juga mas pacar berkata jika ia sanggup untuk membiayai kuliahku sampai lulus tapi aku tolak, sumpah ya aku benar-benar sudah ga kuat bila harus berlama-lama memandang buku yang penuh dengan tulisan dan angka. Ya memang aku akui jika pendidikan itu penting tapi apa boleh dikata jika otak sudah tak merespon daripada dipaksakan juga hasilnya malah mengecewakan. Lagian bila pun jadi meneruskan ke perguruan tinggi aku tidak tau harus memilih jurusan apa, karena aku sama sekali ga punya keterampilan. Yang aku punya hanya cinta untukmu sayang, ahaaai.... 

Cerita di jam-jam tertentu menjelang malam seakan sudah menjadi rutinitas kita sebelum ngantuk menggelayut di kelopak mata sedikit banyak mampu melumerkan kegelisahan karena kangen ingin bertemu. Cinta... terlalu indah ketika menyapa, susah untuk menjabarkan apa yang sedang dirasakan karena yang aku rasakan hanya bahagia, sukacita, dan senang. Semua terlihat indah ya maklum saja pertalian kasih kami bisa dibilang masih seumur jagung jadi yang kami rasakan hanya rindu dan kangen saja setiap harinya.

BERSAMBUNG...

7/31/2015

Antara Cinta dan Ambisi #2



Kini aku benar-benar tak mempedulikan cinta tulusnya. Di jaman sekarang cinta saja tak cukup. Aku juga ingin seperti teman-temanku yang lain, bisa jalan-jalan ke empat wisata yang indah kemanapun aku mau, makan di restoran mewah, belanja baju dan perlengkapan wanita lain agar teman-temanku ga lagi memandangku sebelah mata.


Jika di bandingkan kamu tak ada apa-apanya dengan cowokku yang sekarang, udah tampan, badannya kekar ga kerempeng seperti orang kurang gizi sepertimu, dia juga menghujaniku dengan kasih sayang dan perhatian melebihi yang kamu berikan padaku bahkan dia juga selalu menuruti apa yang aku minta. Lalu kurangnya dimana...??! Maaf bila aku memilih dia dan mengabaikanmu, aku bosan hidup miskin, yang hanya bisa melihat orang lain bersenang-senang dan melakukan apa yang mereka suka. Aku juga ingin seperti mereka dan dia memberikan cinta dan semua yang aku butuhkan.


Aku sekarang bukan cewek cupu seperti yang kau kenal dulu, sudahlah jangan kau ganggu hidupku biarkan aku hidup seperti mauku dan kamu carilah wanita lain, di luar sana masih banyak perempuan yang mengagungkan cinta, pasti mereka mau denganmu. Kita sudah putus, jadi jangan usik lagi kebahagiaanku anggaplah kita ga pernah saling kenal dan jangan lagi berharap untuk kembali padaku karena dari sekarang aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah memilihnya dan aku sangat mencintainya, jadi bila benar kau mencintaiku pergilah dari kehidupanku mulai dari sekarang.


Jangan pernah datang lagi kerumah atau pun menemuiku karena keputusanku tak akan pernah berubah, bagaimana pun kamu meminta aku ga akan pernah kembali padamu. Meskipun kau akan mengiba, bersimpuh atau dengan menggunakan berbagai cara untuk membuatku simpati dan kasihan padamu lalu menerimamu kembali itu mustahil. Aku sudah tidak suka dan sudah tidak ada sedikitpun tersisa cinta di dalam diriku untukmu. Semua cinta sudah aku berikan hanya untuknya.



BERSAMBUNG



★Ell

3/24/2015

Perjumpaan ~ Menyisihkan Waktu

Di salah satu meja yang ada di ujung dekat jendela kaca di sebuah resyoran di tengah kota terlihat sepasang anak muda sedang menikmati segelas minuman dingin sebagai penawar dahaga dari panas yang tak kenal ampun di luat sana. Mereka berdua terlihat begitu mesra, sesekali saling pandang dengan mata yang berbinar penuh cinta, sepertinya obrolan ringan yang tak jarang di jumbuhi dengan tawa dan gerakan-gerakan manja dari keduanya. Begitulah cinta, ketika sudah membuai dan merasuk kedalam sanubari tak ada yang bisa mencegah, segalanya terlihat indah dan hingga terkadang mengacuhkan kehadiran orang-orang yanh ada di sekeliling mereka.

Andra: Say sabtu besok jalan-jalan yo, refresing cari udara segar otakku lagi butuh penyegaran ni. 
Rara : ayo, tapi mau jalan kemana kita... 
Andra : ya asal jalan dulu saja say nanti juga ketemu sendiri tujuannya. Kamu mau kemana... 
Rara : ga punya tujuan. oke lah, kalau cuma buat jalan-jalan kemanapun jadi deh. Apa lagi sama yayang pacar.
Sambil tersipu malu Rara mengalihkan pandangannya dari wajah yang ada di hadapannya kepada jus strowberry yang gelasnya sudah mulai dipenuhi butiran-butiran air di seluruh permukaan bagian luarnya. 
Mengaduk-aduk jus dengan sedotan sebelum meminumnya perlahan. Sedikit ada penyesalan setelah Rara mengucapkan kata-kata itu, ini pastinya akan menjadi senjata ampuh buat Andra untuk menggodanya. Rara sudah paham benar tabiat kekasihnya yang suka menghodanya.

Andra: kenapa kamu say mukanya jadi merah gitu...?
Melihat pacarnya malu tak urung membuat Andra semakin semangat meluncurkan keusilnya dan terang saja dengan sekejab wajah Rara berubah semakin merah hingga tak ada satu pun kalimat yang mampu diucapkannya.
Rara semakin tertunduk dengan ulah Andra yang terus terusan menggodanya. Meskipun sudah cukup lama pacaran namun Rata masih suka malu-malu bila di goda oleh Andra dan itu membuat Andra semakin gemas melihat perempuan yang ada di depannya itu.

Rara : udah donk mas jangan ngeledek terus, malu tau... 
Andra : yeeee..., siapa yang ngeledek seh cinta.
Dan suara tawa Andra pun seketika menggema Namun itu tak berapa lama berubah menjadi lengkingan kesakitan 

Andra : aduh aduh aduuuuh..... Sakit sayang.
Karena kesal menjadi bahan ledekan oleh kekasihnya Rara yang tadinya asik dengan jus strowberry tiba-tiba saja mendaratkan cubitan ke lengan Andra yang menjulur di dekat gelasnya

Rara : makanya jangan usil, sukanya ngeledek seh sekatang rasakan pembalasannya 
Andra : sakit sayang...., kamu tu kalau lagi malu-malu gitu malah ngegemesin sayang. 
Rara : mulai lagi ni... Sambil bersungut-sungut
Rara bersiap memberikan cubitan lanjutan untuk kekasihnya ini, tentu saja cubitan tak serius katena mana bisa Rara menyakiti orang yang sangat spesial dalam kehidupannya sekarang.

Andra : iya ampun... Ampun enggak lagi. Punya pacar galak amat ya... Harusnya kan disayang-sayang dimanjain gitu ini malah di cubit.
Rara : mas yang mulai... Makanya jangan suka usil.

Melihat wajah pacarnya yang sedikit manyun sambil mengusap-usap lengan yang menjadi sasaran cubitannya membuat Rara ingin tertawa namun ia berusaha menahan tawanya untuk meyakinkan ektingnya yang lagi jutek.

Rara : gimana mas kerjaannya, lancar... 
Andra : ya biasa lah say, kerjaan lancar jaya meskipun kadang ada masalah-masalah kecil tapi masih bisa diatasi.
Rara : lalu ini penyegaran buat apa kalau ga ada masalah.
Andra : kamu tu bener-bener ngegemesin ya, sudah tau itu cuma alasan biar bisa jalan sama kamu masih saja nanya.
Rara : ooooh begutu ya, ya lagian ngapain juga mas jawab kan hanya ngetes. 
Weeeeek... Rara menjulurkan lidahnya tanda kemenangan sudah bisa membalas ulah usil pacarnya. 
Andra : hahahahaha.... Sudah pinter ngeles rupanya sekang.
Andra pun tersenyum dan kembali menghirup jus melon yang sudah mau habis.

Mereka pun masih asik mengobrol sengan asiknya, sementara ruangan di cafe itu pun perlahan mulai ramai dengan pengunjung. Mungkin sebagian dari mereka mampir untuk menghilangkan haus setelah terpapar matahari di luar sana yang sangat terik atau juga mereka memang menyempatkan datang kesini, janjian ataupun untuk sekedar mencari makan dan menunggu kemacetan sedikit terurai.

Mengingat hari yang sudah beranjak malam Rara dan Andra pun beranjak meninggalkan cafe, untuk segera pulang ke rumah, dalam perjalanan keluar pun tak henti-hentinya mereka ngobrol sambil sesekali tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan yang pasti kebersamaan lah yang membuat semuanya terasa jauh lebih indah.

3/02/2015

Antara Cinta dan Ambisi

Disatu sisi aku mengharap cinta dari seseorang yang sama besar seperti aku mencintainya meskipun aku sendiri hingga sekarang tak yakin apakah dia benar-benar sungguh mencintaiku dengan segenap hatinya, namun disisi lain ada seseorang yang selama ini dengan setia memberikan apa yang aku butuhkan termasuk memberikan seluruh perhatian dan kasih sayang yang tulus kepadaku namun tak pernah aku anggap.

Penyesalan selalu datang belakangan.... 

Dia laki-laki yang baik, mencintaiku dan berani berkomitmen bahkan beberapa kali dia ingin membawa ibunya ke rumah karena ahahnya sudah tiada untuk bertemu dengan kedua orang tuaku namun niatan itu selalu saja aku cegah dengan beribu alasan agar dia mengurungkan niatnya untuk datang kerumah bersama ibundanya.

Jika boleh jujur aku tidak benar-benar mencintainya, hanya saja karena perhatian yang diberikannya begitu membiusku terlebih lagi dia mengerti, tak pernah mencoba mengatur dan melarangku dalam hal apa saja juga memberikan apa yang aku butuhkan inilah yang membuat aku masih betah jalan dengannya hingga dua tahun lamanya.

Aku sadar sifat egoisku yang sering menyulut kemarahan hingga ada pertengkaran-pertengkaran kecil yang sebenarnya tak perlu namun begitu dia selalu mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu meskipun sebenarnya akulah yang salah. Apa pun kesalahan yang aku perbuat tak pernah sedikitpun dia marah bahkan dia selalu menuruti apa keinginanku dan menomor sekiankan kepentingannya bahkan keluarganya.


Bersambung

1/12/2015

Mencintai dan Dicintai ~ Perkenalan

Awal kenalan waktu itu gara-gara salah tiket kereta. Dari rumah habis lebaran pas balik ke kos di kota pelajar dimana aku sedang menyelesaikan kuliah di kota yang kental dengan budaya Jawa ini. Dari rumah di bawain macam-macam sama ibu ada mie instan, beras, kopi, gula, cemilan, komplit deh. 

Ransel di punggung sambil menenteng kardus berisi sembako yang dibawakan ibu, dengan wajah sedikit kucel dan pakaian hanya mengenakan kaos, celana pendek dan sendal jepit aku mencari tempat duduk yang sesuai dengan yang tercetak di tiket. Mendapati tempat dudukku yang ada di dekat jendela sudah di duduki seorang perempuan yang sebaya denganku, baiklah aku duduk di tempatnya saja meskipun tak senyaman seperti di samping jendela, karena orang-orang yang berseliweran hingga kadang membuatku yang tadinya rencana awal ingin tidur menjadi terganggu selain juga tidak bisa menikmati pemandangan alam di sepanjang jalan kereta ini melaju.

"Permisi mba..." Nampak seorang ibu-ibu setengah baya menghampiri tempat dudukku
"Iya, ada apa bu..."
"Ibu bisa minta tolong untuk bertukar kursi, tempat duduk ibu ada di gerbong sebelah. Biar ibu bisa duduk di samping anak ibu"
"Ooh iya bu silahkan"
"Terima kasih ya mba"
"Iya bu..."

Aku pun berdiri dari tempat duduk yang sudah PW (posisi Wuenak) sebenarnya malu juga dilihati orang-orang, kembali menenteng barang bawaan yang sudah seperti orang pindahan menuju gerbong depan ke kursi tempat duduk ibu yang entah siapa namanya karena belum sempat kenalan dan si ibu tadi juga tidak ada inisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum meminta tolong. Meskipun dengan sedikit malu dengan bawaan di tangan yang begitu banyak tapi cuek saja terus jalan.

Di kursi yang aku tuju sudah duduk dengan manis seorang pemuda yang usianya aku perkirakan tak beda jauh denganku. Melihatku yang ribet dengan barang-barang bawaan yang ingin aku taruh di bagasi yang ada di atas yang sedikit kesusahan karena kardusnya terlalu besar sehingga susah untuk masuk. Mungkin karena kasihan dan merasa terusik cowok yang tadinya duduk manis itu pun berdiri untuk membantu. Namun memang dasar kardus tidak bisa masuk, akhirnya cowok itu pun menawarkan diri untuk berpindah tempat duduk. Aku yang tadinya mendapat kursi dekat jalan namun dengan rasa iba cowok itu memberikan kursinya yang berada di dekat jendela untukku. Ini agar kardus tang berisi barang jarahan dari rumah aman tidak terkena tendangan orang-orang yang lewat di sampingku.

Seperti ritual sebelum-sebelumnya duduk manis dan memejamkan mata, ini menjadi senjataku agar tidak diajak ngobrol penumpang di sampingku. Namun ketenanganku tiba-tiba terusik dengan senggolan cowok itu untuk memberikan air minum, salah satu servis dari pihak kereta api yang aku naiki. Dari sanalah mulai terjadi percakapan.

Awalnya aku merespon dengan ogah-ogahan namun lama kelamaan aku merasa nyaman juga ngobrol dengannya. Lalu kami pun kenalan, ternyata namanya Prio yang kebetulan saat ini naik kereta dari Surabaya karena kerjaan dengan tujuan yang sama denganku, hanya saja jika aku ke kota gudeg untuk kembali ke kos sedangkan dia kembali ke rumah, menurut penuturannya memang mas Prio asli Yogja dan di Surabaya dalam rangka main ke rumah sodaranya sekalian sedikit urusan kerjaan.

Selama perjalanan cerita-cerita bergulir, bahkan sampai-sampai aku mudah saja bercerita tentang keluarga, dan sodara bahkan sempat juga aku menceritakan kakak sepupu perempuanku yang bekerja di valas dan yang demen banget dengan yang namanya petualangan. Bila dilihat dari kacamata orang normal sedikit susah dinalar juga, aku bisa terbuka dengan laki-laki yang baru dikenal, dia pun sempat juga bercerita tentang pekerjaan dan keluarganya. Ngobrol dengannya enjoy, setiap ucapanku sepertinya ia dengarkan dengan seksama.

Tak terasa dengan kereta sampai di stasiun Lempuyangan waktunya kita untuk berpisah. Namun sebelumnya kita sempat bertukar nomor telepon. Bahkan mas Prio (begitu aku memanggilnya karena usianya yang terpaut lumayan banyak diatasku) sempat menawarkan diri untuk bareng dengannya, tapi aku menolaknya yang saat itu di jemput ayahnya di pintu depan stasiun. Dan kita pun berpisah di stasiun Lempuyangan, ini karena aku juga sudah di jemput cowokku di pintu belakang. Tapi aku tidak bilang jika di jemput cowokku. sejak perkenalan itu kami pun sering berbalas pesan sekedar bertanya kabar atau kesibukan masing-masing.


BERSAMBUNG

1/01/2015

Mencintai dan Dicintai ~ Tanya

"Mba ternyata dicinta itu enggak enak ya..."
Di pagi menjelang siang, pembicaraan yang terjadi setelah sarapan di sela-sela kesibukan masing-masing dengan novel yang masih belum selesai di baca mendengar pertanyaan itu pun aku hentikan membaca dan melihat ke arahnya. Yang juga sudah menutup buku yang dibacanya dengan memberi sekat dengan jarinya.
"Emang, baru tau ya. Mencinta ataupun dicinta itu sama-sama menyakitkan"
"Iya benar... Benar..." Sambil manggut-manggut seraya membenarkan apa yang baru aku bicarakan.
"Cinta itu harusnya dari 2 sisi, kalau hanya dari 1 sisi malah akan saling menyakiti. Nanti dulu, ini bahas yang itu apa sudah ada yang baru lagi ni" 
Meskipun tidak dekat, namun sesekali dia pernah cerita masalah pacarnya padaku.
"Baru donk..., yang lama sudah berakhir"
Senyum sumringah terpancar dari bibirnya sambil menunjukkan cengiran kuda dengan kedua tangan membuat simbul dua jari lalu diletakkan di atas kepala seperti tanduk rusa, hahahah...
"Haaaa... Cepet banget dapatnya" menatap lebih lekat ke arahnya.
"Iya donk, ketemunya juga ga sengaja mba. Gara-gara salah ketera pas balik dari rumah"
"Cieee sekarang ceritanya sudah berani naik kereta"

Mengingat adik sepupuku yang selama ini belum pernah naik kereta, katanya takut. Pengalaman naik kereta pertama kali pas aku ajak ke pernikahan teman kerjaku di Solo, naik pramex sekalian dia balik kos setelah sehari sebelumnya main ke tempatku untuk diajak jalan-jalan. Katanya naik kereta ternyata enak dan cepat. Sejak saat itu dia kalau pulang ke rumah selalu naik kereta. Dia di solo kuliah, jadi anak kos sepertiku meskipun di kota berbeda. Padahal sebelum-sebelumnya dia mesti bertarung dengan rasa mual bila pulang kerumah karena mabuk darat jika naik bus, seperti aku kadang parno sendiri jika pergi trus bilang naik bus.

Lalu adik mulai bercerita asal mula kenalan hingga jadian dengan pacarnya yang sekarang.


BERSAMBUNG


11/18/2014

Mencintai dan Dicintai ~ novel

"Dik sudah baca novelnya Tere Liye yang judulnya daun yang jatuh tak pernah membenci angin "
Tanyaku kepada adik sepupuku yang lagi menginap di rumah bersama temannya yang masih asik membaca koleksi novelku
"Bukunya yang gambarnya daun warna hijau ya mba. Sudah, dulu pinjam teman"
"Ceritanya bagus ya, tapi sayang akhir cerita enggak happy ending"
"Iya, aku enggak suka dengan tokoh utamanya"

Sebuah pembicaraan yang bertemakan tentang ketidak sukaan dengan tokoh pria dalam novel yang menuruti gengsi karena menyukai perempuan (Tania) yang usianya jauh lebih muda darinya, terlebih perempuan itu adalah anak kecil yang dulu di tolongnya. Rasanya geregetan, padahal Danar sebagai pria dewasa tentunya sudah paham bila Tania perempuan yang di tolongnya juga menaruh hati padanya. Namun Danar lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam peraasaannya dan parahnya menggunakan Ratna teman kerjanya untuk tameng perasaannya. Danar yang memberikan harapan-harapan kepada Tania, namun lebih memilih ego dan gengsinya yang tinggi.

Andai Danar lebih berani pastinya di akhir cerita tak akan ada yang tersakiti, karena dari semua tokoh hanya mata hati ibu Tania lah yang peka, menyadari bila ada hubungan emosional diantara Danar dan Tania. Mata ibu tak bisa dikelabuhi, bahkan sebelum mereka berdua sadar tentang perasaan mereka masing-masing.