Tampilkan postingan dengan label bahasa kalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa kalbu. Tampilkan semua postingan

12/25/2023

Redup

Dalam kegelisahan hati terbesit tanya "masihkah ada kau disana" tak pernah pasti untuk memahami apa yang sebenarnya kau mau. Bukan, bukan lagi tentang tanya namun kepada "apakah kau masih memegang teguh kata yang pernah tersemat untuk menjadi kita...?!"

Kini tidak lagi hitungan detik yang berdenting tak lagi waktu tentang hangatnya sang surya yang hilir mudik ke peraduan namun tentang purnama yang tak kunjung usai menunggu untuk ujung penantian.

Perlahan hati mulai terkikis oleh asa yang semakin meredup. Entah sampai kapan hati ini benar-benar akan berhenti dan membungkus kenangan yang tak usai meskipun kini ikrar untuk beranjak pergi berkali-kali berkumandang namun langkah pelan dan sesekali masih melihat ke belakang berharap kau kembali ada disana untukku.

Kiasan tak lagi indah di dengar, mata tak lagi memancarkan binarnya, dan hati perlahan kering oleh kasih dan peluk yang senan tiasa datang ketika ku membutuhkan, semuanya tak lagi ada. Tersisa kenangan, juga cerita yang hanya bisa dikenang oleh diri. Indah meski sesaat, setidaknya aku pernah punya mimpi, punya tujuan dan mengerti arti cinta dan kasih yang sesungguhnya darimu. Terlebih tahu bagaimana bahagia tanpa harus membentengi diri meskipun hanya sesaat. (25.12.23)



12/05/2023

Tal Lagi Sama

Ada kalanya lelah ini memaksa untuk menyerah. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya....

Namun melihat wajah mereka dan mengingat tanggung jawab yang masih ada tak ayal langkah akan terus ter ayun.
Bagaimana dengan diri yang serasa terbelenggu, terkekang, dan terhimpit hingga untuk bernafas pun membutuhkan perjuangan. Aku lelah...

Adakah tempatku untuk bersandar....
Adakah belaian kelembutan dan pelukan hangat kembali lagi ku rasakan....
Adakah sepenggal kata yang kembali bisa menenangkan jiwa...
Aku merindukan semuanya.

Ketika berkali-kali tanya terlontar "kenapa tak pernah tertawa..., Apakah kau tertawa...., bagaimana cara agar kau bisa tertawa....?
Dan ketika wajah lucu itu akan melihat dengan seksama ketika terdengar lirih suara tawa dari orang yang di harapkan. Itu senyum bahagia yang akan menular pada dirinya untuk lebih menyuarakan tawa yang begitu renyah dan membahana.

Namun itu hanya sesaat, untuk berpura-pura baik pun sangatlah susah.
Hati ini terlalu lelah..., sangat teramat lelah dan otak ini pun tak lagi bisa berpikir dengan normal semua di hadapkan oleh jalan buntu dan lelah.

Cobalah rengkuh aku kembali, aku merindukan dirimu.
Kembali, aku ingin mendengar semua cerita, dan segala ocehanmu.
Aku menginginkan itu, terlebih aku membutuhkanmu untuk saat ini dan seterusnya.
Terlalu terpaku dengan apa yang terjadi, hingga perlahan menyerah dengan keadaan menerima kemana arus akan membawa entah bermuara di lautan atau hanya akan terdampar di sungai yang tak berpenghuni.
Asa yang perlahan meredup seiring tak kembali terlihat potongan puzzle tentang lembaran cerita dihari nanti.
Entah apakah cerita ini sudah berakhir sampai di sini dengan akhir yang tak jelas, atau akan ada cerita baru yang akan di mulai..., aku tak tau dan hanya akan menerima semuanya sebaik yang di berikan-NYA. (05.12.23)

2/14/2021

Vio


Setiap rindu itu datang dada ini rasanya sakit. Hati serasa teriris perih. Ini bukan sesuatu yang mudah, memendam sendiri tanpa bisa di ceritakan bahkan tak ada tempat untuk pelampiasan untuk bisa melegakan hati.


Inilah konsekuensi dari pilihan yang harus di tanggung yang sebenarnya hanyalah sebuah kebodohan, ya bukankah hanya orang bodoh yang akan menyiksa diri sendiri, membiarkan diri remuk dengan sendirinya. Ini lah kebodohan paket komplit sudah tau sakit masih saja di simpan, sudah tau ingin namun tak mau berjuang. BERJUANG, benarkan tak mau berjuang..., ini juga bentuk perjuangan hanya saja karena lelah memperjuangkan dan begitu banyaknya tekanan maka memilih untuk meredam, meskipun akibatnya akan merusak dan menyakiti diri sendiri buatku itu lebih baik dibanding harus 'mengemis' pada keadaan yang tak pernah berpihak.

Sendiri berjuang. Mencoba menulikan pendengaran dari kata-kata yang ga mengenakkan, menyangkal dan menguatkan hati bahwa keyakinan ini benar meskipun kenyataannya pun berkata lain. Mereka benar, namun tetap saja menutup semua dan tetap meyakini bila ceritaku akan berujung. Walaupun pada nyatanya semua hancur, bahkan hati ini pun sudah tak berbentuk, air mata pun sudah mengering sejak hari itu. (14/02/21)

:: backsound : one day _arash ft helena

1/02/2020

Hope

Boleh ga seh kalau aku bergumam menyuarakan rindu...???
Boleh ga seh untuk kembali berangan-angan dan kembali mempercayai hari esok itu ada untukku...???
Boleh ga seh melihat rahasia yang tersembunyi di depan sana...???
Boleh ga seh bila mempertanyakan perbedaan waktu antara yang dilihat dan yang terlihat...???
Boleh ga seh bersandar dan memohon agar tak menghilang...???
Boleh ga seh menempatkan bejana kosong di depan dan berharap terisi penuh dengan keajaiban...???
Boleh ga seh untuk mengharap dan melihat kenyataan yang indah...???

Dan semua itu diperbolehkan dengan persyaratan yang tak mudah namun juga tak mengikat. (01/01/20)

11/13/2019

Kidung sendu

Berkali-kali tangan ini mencari tapi tak menemukan apapun disana.
Hanya hampa, hembusan angin dingin yang menembus pori-pori.
Untuk apa sebenarnya semua ini aku lakukan...
Satu-persatu semuanya pergi. Haaai..., tak adakah satupun yang sudi tinggal sebentar lagi?!
Tak apalah, mungkin memang harus seperti ini dan bisa jadi inilah yang benar.
Jaga pandangan matamu, jangan biarkan seorangpun menyadari sendu dimatamu.
Meski tangan ini kosong, namun tetap saja terasa berat dan semakin berat saja.

Hangat tangan ini setidaknya bisa menghalau angin yang berdesir menyapa tubuh yang mulai lelah.
Ingin rasanya meninggalkan hati di lubang semut lalu menguburnya.
Cantik, tapi tetap tak bisa terjamah oleh pikiran karena cantiknya mimpi hanya sebatas permainan disaat tidur saja.
Aku ingin pulang. Pulang untuk mendapatkan satu pelukan hangat.

Aaaah..., omong kosong. Siapa juga yang bersedia menengok sampah usang ini terlebih memberikan perhatian khusus.
Dibawah guyuran hujan luka ini terasa sangat mengerikan.
Jangan lihat aku bila hanya untuk memperlihatkan senyum palsu.
Namun jika itu membuatmu bahagia boleh lakukan, teruslah mencibir dan memakiku. Tak mengapa, terserah asumsi seperti apa yang diciptakan tak peduli.
Yang tau aku hanyalah diriku, bukan kau, dia, apalagi mereka. Kalian tak punya hak untuk itu terlebih menghakimiku.
Aku bisa sendiri, mungkin itulah yang bisa menjadi penghiburanku saat ini.
Tak kubiarkan air mata ini jatuh lagi. Cukuplah sakit yang kurasa sampai ditempat ini saja.
Aku tetaplah aku (12/11/19)

3/27/2019

Ragu


Cinta, apa yang menjadi pikiranmu sekarang...?
Tak perlu cemaskan, risau, dan takut dengan apa yang akan terjadi, semua sudah ada dalam skenario yang harus dijalani.
Cinta, mengapa kau murung...?
Ini hanya masalah waktu yang masih mengajarkan tentang kesabaran dan arti menunggu.
Cinta, jangan goyahkan apa yang sudah menjadi maumu. Karena sama saja mematikan mimpi dan meredupkan hidupmu.
Cinta, mendekatlah. Jangan hiraukan bujuk yang meminta untuk berhenti dan berpaling teguhkan apa yang menjadi keyakinan sedari awal.
Cinta, bernego dengan kenyataan yang tak ingin dilihat. Terlalu lelah untuk berpetualang, sedikit rapuh untuk bergegas, hingga hanya menunggu kepastian yang tak pasti datangnya.
Cinta, sirna dan singkirkan segala gemuruh di pikiran yang akan menjaruhkan dan membuat gusar.
Cinta..., tetaplah ada untuk ketulusan dari hati putih. (26/03/19)

11/01/2018

09:12

Begini rasanya jika mendengar lagu lawas era 70an. Menyayat dan seketika menyeretku ke masa yang belum pernah aku datangi, mungkin malah masa saat aku belum lahir, karena yang aku lihat hanya potret hitam putih. Suatu lingkungan yang sepi namun asri dengan banyaknya pepohonan di sekitar rumah dan di sepanjang jalan. Tidak ada pagar pembatas antara jalan dan rumah teyangga, kemana-mana berjalan kaki, modal transportasi yang paling waah pada masanya hanya sepeda 'kebo' ontel.

Suara sapi, asap sampah dari daun yang di bakar ketika pagi hari, juga bau sampah kering dedaunan masih sangat jelas tercium olehku. "Lalu aku berada dimana...?" Aku hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh ataupun ikut bergabung dengan mereka. Terseret di lorong waktu, namun hanya bisa melihat seluit masalalu yang sangat lekat denganku walaupun kenyataannya aku belum ada disana bahkan bisa jadi orang tuaku pun belum lahir.

Tempat yang rindang dan sejuk, tidak sepanas sekarang dan serumit sekarang. Aku suka dengan suasana seperti itu, sangat sederhana dan meneduhkan, masyarakat yang ramah dengan toleransi kerukunan yang tinggi. Benar-benar suasana yang menjadi idaman.

Apa seh ini namanya, apakah hanya olah dari pikiranku atau memang ada yang menculikku dari alam bawah sadar. Ini nyata atau hanya permainan otak saja? Dan semakin lawas lagunya maka semakin dalam aku terseret di dalamnya. Bahkan bisa sampai membuat perasaanku tak menentu seperti seseorang yang menginginkan sesuatu tapi di satu sisi ada batas kemampuan yang tak bisa ditembus atau bila itu dilawan maka binasalah semuanya aku tak akan kembali di dalam diriku.

Aku butuh penjelasan untuk semua yang sudah kulihat dan kualami. Apakah ada penjelasan dan maksudnya???! (31/10/18)

9/23/2018

Angan

Yang terlihat tak selamanya tampak nyata
Biarkan imaji terbang tinggi hingga ke awan
Gantung harapan dari setiap mimpi untuk pribadi gemilang
Ini bukan tentang bagaimana meraihnya, melainkan untuk pendewasaan
Bahwa apa yang sudah ada di genggaman adalah buah dari kebulatan tekat dan kesungguhan untuk meraihnya
Pijar yang akan terus menyala menjadi pelita dalam setiap detak kehidupan.
Bukan tentang ambisi ataupun kekuasaan, namun untuk cinta yang tak pernah semu dalam mewarnai dunia. (23/09/18)

9/02/2018

Dunia baru ; sendiri

Mungkin aku orang yang paling egois di dunia. Entah sejak kapan bisa berubah menjadi seperti ini. Hanya memikirkan diri sendiri, hidup di duniaku tanpa mempedulikan apa saja yang ada di sekitarku. Sampai-sampai pohon di depan rumag sudah mulai berbuahpun aku sama sekali tak tahu. Sungguh terlalu dan kelewat batas. Padahal aku merasa sekarang yang terjadi padaku masih terbilang wajar, hanya sedikit menarik diri untuk hidup di duniaku sendiri tapi kenyataannya sudah mengabaikan segala hal, lantas bagaimana bila aku masuk lebih dalam hingga benar-benar menutup untuk dunia luar.

Apakah akan lebih primitif dibandinhkan manusia purba?
Apakah akan nyaman, untuk hal semacam itu?!
Apakah aku sudah matirasa dan kehilangan kewarasanku???! 
Aaah, kalau bicara waras sepertinya itu sudah jauh dariku sejak dulu.

Nyamannya duniaku sudah menyakiti banyak orang tanpa aku sadari, hidup di kultur yang berbeda dimana kebebasan dirasa masih memiliki batas, ruang, dan norma.
Kebebasan dan keadilan sama-sama nilainya patut kupertanyakan, yang tak mutlak sama dengan rasio yang berbeda-beda. (01/09/18)

8/27/2018

Hati yang bergemerutuk

Ini tentang hati yang ingin dimengerti, namun tak mampu untuk menceritakan apa yang dirasakannya. Aneh, sungguh aneh bagaimana bisa berharap orang lain paham bila tak bercerita...?
Mereka bukan dewa yang bisa tau dan paham apa yang hati rasakan dan harapkan.

Demi penghapusan kata 'lelah' dengan segala yang sudah terjadi apakah ini kisah yang berjalan dari kebisuan atau kisah dari pengorbanan untuk yang lain hingga tak mempedulikan hati yang terbungkam.

"Bila ingin dimengerti maka cobalah untuk mengerti orang lain terlebih dahulu" Apakah hal ini masih berlaku pada hati yang dirasa sunyi?!
Kesunyian... sesekali kosong dan blank.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan... sebuah pengakuan pengertian, perhatian atau apa..., janganlah berharap terlalu dalam karena lebih baik untuk belajar ".
Untuk mengatur hati, menjaga dan mengontrol dari segala rasa baik yang datang maupun yang hadir. Hati-hati dalam menjaga hati, pesan dari jiwa untuk hati yang merajuk meminta di mengerti. (26/08/17)


5/13/2018

Lelah

Aku lelah.
Adakah cukup ruang untukku sejenak merebahkan raga ini.
Bisakah sejenak biarkanku menghela napas untuk sesak yang menghimpit.
Bebaskanku sedetik saja dari segala macam kata yang terus menyudutkan dan memekatkan otak.
Jujur aku sangat teramat lelah.
Mencoba untuk berbuat seperti yang mereka mau, namun tetap saja tak pernah bisa membuat bangga.
Segala cara dan upaya hanya menjadi bahan cibiran, bahkan untuk melirikpun tak sudi mereka lakukan.

Aku lelah.
Otak sudah tak mampu lagi untuk menampung segala kalimat yang terlontar.
Pertahanan inipun perlahan runtuh, hingga tangis saja yang bisa untuk sedikit menenangkan gejolak di dalam hati.
Sesak napas, dan hati bagai teriris menjadikan semakin rapuh.

Masih bisakah kusembunyikan luka ini untukku sendiri?!
Lelah yang teramat sangat sesekali membawa pikiran untuk menyudahi semuanya.
Membebaskan jiwa untuk terbang ke nirwana.
Bebas... bebaskan aku.
Ada penolakan, namun hanya sebatas kalimat puitis untuk penghibur hati luka.
Sesaat perdebatan batin dan logika.
Terserah saja, aku tak peduli.
Karena sejatinya hanya raga ini yang ada disini, sementara jiwa sudah lama mengembara entah kemana.
Yang pasti aku lelah. Lelah sejadi-jadinya. (12/05/18)


5/05/2018

Melewatkan Waktu

Ingi rasanya merasakan tidur yang berkualitas. Selama ini tidurku jauh dari kata berkualitas. Jam tidurku pun sudah seperti anjuran orang-orang yaitu 8 jam sehari, bahka  bisa lebih kalau di hitung-hiting tapi bukan itu yang aku maksud disini, melainkan tidur yang sehat. Ingin rasanya merasakan bahwa kegiatan tidur adalah hal yang sangat berharga.

Ya bukan maksud ingin sibuk sampai gak ada waktu untuk istirahat, tapi aku ingin mendapatkan waktu sehingga setiap detiknya ada hal yang aku lakukan untuk hal yang bermanfaat atau berguna. Karena aku merasa sampai detik ini pun masih banyak kelonggaran. Banyak waktu senggang yang hanya terbuang sia-sia. Setiap hari hanya bersantai, memandangi layar sambil sekedar ngeteh juga ngemil cantik tanpa ada tindakan yang menurutku bermanfaat.
Bosan. Aku ingin mengubah malas yang sudah mengakar di dalam diriku tapi bagaimana caranya ya....??? (04/05/17)


4/24/2018

19:46

Bagaimana cara membongkar isi otak dari ide-ide yang terus menerus bermunculan. Ada kebingungan yang mengubah semua rasa dan membangun kekerdilan dalam bertindak.
Bagaimana indah bisa tercipta dari hal-hal yang simple seperti yang biasa dirasa dan terjalin beriringan dari angan dan cinta.
Hal mudahpun saat ini tak bisa aku pikirkan, meragu..., kebingungan pada diri sendiri.
Seperti berada di dalam lingkaran, tangan yang terkenal dan kaki tarpasung. Tak ada yang bisa dilakukan walau sebenatnya ingin berontak.
Ya, aku terpenjara dalam diriku sendiri.
Menggelikan kedengarannya namun ya seperti inilah kenyataannya seperti lebah yang tak punya ratu, hanya berputar-putar tak tentu arah mencari pegangan untuk meyakinkan bahwa aku ini hidup, bukan sepotong kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Tolong..., Ingatkan aku tentang hembusan angin yang tak pernah lelah menyapa.
Ingatkan aku akan rintik hujan yang memberi kesejukan.
Ingatkam aku dari perjuangan daun yang berkorban untuk induknya tetap bisa tumbuh. Dan
Ingatkan aku tentang perjuangan hidup yang tak pernah mudah.
Aku lelah dengan pemikiranku. (24/04/18)

4/07/2018

15:33

Tak ada secuil keberanian yang tersisa. Semua tentang ketakutan, cemas, dan perasaan minder yang terus dan terus saja berputar membayangi. Terlampau jauh aku terperangkap dalam ketakutan, ketidak percayaan diri oleh semua tindakan yang akan aku lakukan walaupun sebenarnya keinginan untuk memulai dan menuangkan ide yang terus menerus bermunculan itu selalu ada, namun kembali lagi ketakutanlah yang kembali membalik semua ide di dalam pikiran dengan suatu pertanyaan dengan 'perandaian' itu membutuhkan penjelasan yang sangat panjang namun oleh tanya itulah yang membuat perlahan kepercayaan diri memudar. Keyakinan yang tertanam mulai terkikis dan ujung-ujungnya kembali lagi pada sikap pesimis dari semua pikiran dan tindakan.

Untuk mendatangkan ide itu tidak mudah, tapi untuk menjalankan ternyata jauh lebih rumit. Sudah kucoba membulatkan tekat, menata ulang setiap ide yang bermunculan dan memilirkannya secara mendalam setiap langkahnya agar terlihat mudah pada saat eksekusi, namun tetap saja ada rasa takut yang terus membayanginnya.

"Nekat". Ya, aku harus coba. Menutup mata dan tak banyak memikirkan lebih jauh dari sebuah tindakan yang akan aku lakukan. Namun kenyataannya itu malah membuatku kebingungan sampai-sampai tak terpikir lagi konsep dan garis besar tindakan tersebut hingga membuat otak blank, tak mampu berpikir dan semakin menambah besar ketakutan yang ditimbulkan.

Ide terus bermunculan, dan itu bukanlah sekedar ide yang terkena tiupan angin yang sekejap menghilang, itu bukanlah ide konyol yang akan menyesatkan bila dijalankan. Ide itu datang dengan sendirinya, lalu perlahan saat memikirkan lebih jauh agar lebih matang dan mendalam secara nalarpun bisa untuk dicoba tapi ya itu tadi di dalam diriku masih tersimpan ketakutan yang begitu besar sampai-sampai menimbulkan kecemasan dan menahan kaki ini untuk melangkah.

Memulai sesuatu yang baru itu membutuhkan keberanian yang besar dan tekat serta kemauan untuk menjalankannya, dan itu belum sempurna ku miliki. Andai ada yang benar-benar paham ingin bahkan sudi memberikan pertolongan untuk suport yang terus menerus memberikan dukungan, pandangan dan masukan tentunya aku akan sangat bersyukur. Aku sadar dan tau yang harus dikerjakan, bahkan sudah berpikir beberapa langkah kedepan, dengan menimbang baik-buruknya namun sampai detik ini semua dari buah pemikiranku belum berjalan dengan baik. Dan sampai kapanpun akan tetap sama sebelum bisa menaklukkan ketakutan di dalam diriku sendiri, sebelum benar-benar bisa mengontrol emosi yang terus saja tak stabil. Aku sadar namun belum bisa benar-benar mengendalikan diriku ini. (07/04/18)

1/25/2018

Jeda

Apa yang menjadikan sesak dalam dada ini. Tiba-tiba tanpa sebab yang aku pahami ada kepedihan yang mendalam.. Hal yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa mengerti maksud, makna, sebab, dan asal muasal bisa seperti ini. Begitu sakit, seperti seseorang yang tiba-tiba sesak napas kambuh.

Harus bagaimana....
Aku berada dimana diwaktu sekarang ini? Sudah begitu lama aku mencoba lebih mengenal diriku semenjak aku sadar bahwa aku sudah mulai berada diantara dua waktu yang berbeda. Namun masih belum bisa mengenal bahkan mengendalikan ke alam sadarku. Sejujurnya aku lelah, bahkan teramat lelah dengan alur cerita yang sudah melenceng jauh. Bagaimana cara agar bisa kembali, kembali ke arah yang seharusnya?

Cerita yang sambung-menyambung tanpa ada penyelesaian di setiap serinya, tidak ada jeda bahka  seperti saling menumpuk cerita acak yang kadang tak ada kaitannya satu dengan yang lainnya. (24/01/18)


1/17/2018

Berkata kasar

Dan pikiranku tak mau lagi berkompromi.
Pikiranku tak lagi patuh seperti halnya hatiku.
Pikiraku tak lagi simple yang hanya melihat apa yang terlihat.
Pikiranku tak lagi sepaham seperti arah yang terus bercabang.
Pikiranku tak lagi sama dengan gerak dari irama yang berdetak.
Kini pikiranku selalu saja berpihak padamu, seperti hatiku yang penuh dengan segala macam tentangmu. (17/01/18)


8/18/2017

Semangkuk sup panas dengan rasa pedas

Mungkin bisa dianggap sebuah keisengan dan menjadi tontonan yang menghibur bagi dirinya ketika melihat sebuah kekonyolan yang dilakukan orang lain untuk menarik simpati orang yang dianggapnya menarik. Ya sebuah hiburan yang bisa menghibur bagi dirinya. Tapi... Apakah kau menyadari jika yang kau lakukan itu tidak dibenarkan?! walaupun itu tidak kau sadari dan tidak disengaja namun apa yang sudah kamu lakukan sudah menyakiti hati. Oh ya bukan hanya hati yang tersakiti namun juga melanggar privasi dari orang lain. 

Apakah kau pernah berfikir bahwa yang kau lakukan itu salah...
Apakah kau pernah berfikir hal itu dilakukan oleh pasanganmu apakah kau bisa terima bahwa itu hanya sebuah keisengan saja...
Ternyata masih banyak hal yang tidak terlihat, masih ada yang tidak terlihat.
Bukan bermaksud untuk menuntut menjadi sempurna, namun pernahkah berfikir bahwa apa yang kau lakukan sebaiknya dipertimbangkan terlebih dahulu apakah itu pantas ataukah tidak.

Sebenarnya ingin protes, namun kalimat yang spontan terlontar saja tidak dipedulikan lalu apa guna untuk bisa didengar.
Diam dan membatin. Merasakan sakitnya seorang diri, walaupun berharap ada empati yang melompat untuk bisa kau pahami yang menjadi kegamangan dari perih yang terasakan.
Jangan kau lakukan bila dia tak ingin melakukan hal yang sama. Bukan ajang balas dendam namun untuk membuka mata bahwa dia juga punya hati dan rasa.
Jangan kau langgar batas-batas dari yang tak kau suka, karena itu juga akan menjadi batas dari hal yang tidak disukainya. Itu bisa membuatnya terluka, begitu juga bila dia lakukan hal yang sama tentunya kau juga akan terluka.
Jaga hatinya, jaga rasanya karena itu sama saja kau menjaga dirimu sendiri untuk tidak terluka. (17/08/17)

::menyelam kedasar terdalam

7/31/2017

Hujan di kelopak mata

Ingin rasanya langsung pergi ketempatmu dan menghambur ke pelukanmu. Sesaat, biarkan aku mendekapmu hingga perih di dalam dada ini luntur bersama air mata yang mengalir. Jangan tanyakan ada apa dengan diriku, biarkan hanya pelukan sajalah yang memahami dengan apa yang sudah terjadi.

Membayangkan pelukanmu, tangan kamu yang mencoba menenangkan tangis yang tak hentinya bergemuruh hingga membasahi pundakmu, aku hanya membutuhkan satu pelukan itu saja. Terkadang hanya tangisan yang bisa benar-benar memahami beban yang menyumbat di dalam hati. Aku tak berharap orang lain benar-benar mengerti dan paham dengan apa yang aku rasakan karena itu jelas tak mungkin bisa. Aku yang berperan, aku yang berada diposisi ini sekarang dan seberapa besar hati yang aku miliki juga ikut andil untuk benar-benar bisa merasakan apa yang sedang terjadi.

Aku tidak berharap untuk dipahami ataupun dimengerti dan tidak menginginkan agar orang lain berandai-andai ada di posisiku. Aku hanya berharap ada kekuatan untuk mendorongku agar bisa tegar, aku hanya butuh satu peluk untuk meyakini bahwa aku masih benar-benar berpijak untuk tidak memilih mengakhiri semua menjadi hitam kelam tak tersisa. Jangan menceramahi ataupun menghakimi cukupkan diam dan melihat, bila bisa rasakan kegamangan yang sedang aku alami sekarang itu sudah lebih dari cukup untukku. Karena aku yakin siapapun ga akan benar-benar paham segala yang berkecamuk di pikiranku dan keruwetan yang seakan mengikat erat uluhatiku karen aku akan mencoba menutupinya dengan lembut dan indah. Tersenyum... namun bisakah aku mendapatkan satu pelukan itu darimu... (30/07/17)

7/18/2017

Menghadapinya jauh lebih baik

Tekanan hidup. Bagi sebagian orang yang mampu melalui akan mendapat hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari yang sudah dihadapi, namun tak jarang ada juga yang gagal untuk bisa melewatinya sehingga membuat tekanan batin dan terguncang jiwanya.

Mungkin ini bisa menjadi pelajaran agar kita bisa lebih peka kepada lingkungan, kembali kepada kodratnya sebagai makhluk sosial yang diwajibkan untuk tolong menolong. Bisa juga menjadi bahan untuk pembelajaran kepada diri sendiri bahwa semakin bertambahnya usia semakin beragam permasalahan yang datang silih berganti.

Permasalahan yang datang bukan untuk dihindari, setiap permasalahan selalu ada jalan keluarnya ya walaupun tak jarang harus berpusing-pusing terlebih dahulu. Bila dirasa tidak mampu, serahkan kepada Tuhan agar dibimbing, diberikan pegangan dan dilimpahkan pemikiran untuk bisa mengotak-atik dari persoalan tersebut. Tangan Tuhan akan selalu menjaga, merangkul dan memberikan pelukan untuk setiap sedih yang kau rasa. (17/07/17)

7/07/2017

Hadir Diantara Ego

Bagaimana cara agar dua ego yang berseberangan bisa bersatu. Selalu merasa bahwa apa yang dilakukan sudah dari cukup dari yang seharuanya, padahal yang dilakukannya untuk orang lain tak pernah memandang kata cukup selalu ada bahkan mengada-adakan namun untuknya selalu terbatas dengan kata cukup.
Sementara yang lain lebih memilih untuk diam ketimbang merasakan rasa sakit dari apa yang sudah didapatnya.

Berada diantara mereka dimana tak ada satupun yang mau mengalah. Andaikan mereka mau duduk bersama dan mengutarakan apa yang menjadi pengharapannya dan segala ketidak sukaannya itu tapi aku rasa hal itu ga akan pernah terjadi sampai kapanpun. Itu menyakitkan.
Berada diantara keduanya yang selalu bercerita dan berkeluh kesah tentang apa yang di alami dan menjadi ganjalan bahkan tak jarang harus mendengar sedikit omongan yang tak mengenakan dan sebuah pembelaak.

Aku bisa apa, selain hanya merasakan kesedihan yang tak bisa aku tumpahkan. Apakah mereka tau posisiku saat ini sangatlah tidak mengenakkan.
Aku bisa apa agar bisa untuk bisa melihat mereka tersenyum bersama. Sebuah hal yang sangat mustahil karena jarak yang terbentang teramatlah jauh jaraknya bahkan tak disadari sudah tumbuh begitu banyak tunas dari ketidak pedulian karena sakit hati yang teramat sering dilakukan.

Aku bisa apa bila keberadaanku sama sekali tak didengar. Hanya mendengar tanpa bisa bersuara, selalu dianggapnya membela kanan ataupun yang kiri. Itu menyakitkan.

Andai bisa saling terbuka tentunya bakal mengetahui apa yang sebenarnya menjadi polemik yang berkepanjangan seperti ini. Tapi apakah bisa dipastikan juga ketika apa yang menjadi ganjalan bakal selesai segala permasalahan atau malah akan menjadi babak baru dari ego yang sudah diujung tanduk.

Pemikiran orang dewasa memang sangat membingungkan. Tak mau mendengarkan dari mereka yang dianggapnya masih bau kencur (ingusan). Taukah jika anak ingusan juga memiliki pengharapan dari segala yang melibatkannya. Cerita dan impian untuk sebuah tawa bersama yang menjadikannya sempurna adalah hal yang hanya ada di anga-angan, mustahil untuk bisa ada di dunianya. Itu menyakitkan.

Beruntunglah kalian yang masih bisa tertawa bersama.
Beruntunglah kalian yang selalu melihat senyum dan kekompakan dari team yang baik.
Beruntunglah kalian yang masih bisa merasakan nyata bukan hanya mimpi ataupun imajinasi di awang-awang.
Beruntunglah kalian yang masih didengar dan bisa menyuarakan.
Beruntunglah kalian yang masih memiliki kedamaian dalam sikap dan mengedepankan kebersamaan.
Beruntunglah kalian... beruntunglah, jangan sia-siakan hal langka itu karena tidak semua orang bisa merasakannya. (06/07/17)

::
tak henti untuk menyulam pelangi.