Tampilkan postingan dengan label potongan puzzle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potongan puzzle. Tampilkan semua postingan

11/12/2019

Egois ; terluka untuk melukai


"Yem, kamu apa in sampai kaya gini...?!"
"Apa, aku ga apa-apain kok"
"Kenapa ga mau sama kamu".
.
.
.
"Kamu apa in, sampai sama kamu kaya musuh ki".
"Ga aku apa-apain...."
"Lha kok sampai kaya gini"
"Sama kamu benar-benar ga mau sama sekali"
"Ya ga tau...."
"Biasanya aku sampai ga kepake kok ini kamu deketi sama sekali ga mau. Ada apa...
.
.
.
"Lagi musuhan...."
"Sama kamu busa kaya musuh, kamu apa in?"

***

Sekelumit obrolan yang masih aku ingat dengan jelas dari kejadian dimana dede sama sekali ga mau aku gendong terlebih bila aku dekatipun sudah teriak dan menolak. Sebenarnya mereka sudah berusaha untuk mencoba mendekatkanku dengan dede tapi usaha itu ga berbuah manis, dede masih saja tidak nyaman berada di dekatku. "Ada apa sebenarnya...???!" Pertanyaan semacam ini sempat beberapa kali terlintas di pikiranku namu hanya sekedar melintas, aku sama sekali tidak mencari jawaban dan pokok permasalahannya dimana.

Suatu ketika diwaktu pikiranku lagi iseng mengingat, mengurutkan, dan mengkelompokkan kejadian-kejadian yang telah lalu cuplikan kalimat itupun ikut andil menjadi bagian di dalamnya dan malam itu topik inilah yang menjadi pembahasan otakku. Mengingat kembali sejak kapan dede mulai menjauh dariku, dan mencari inti masalahnya mengapa bisa seekstrim ini padahal dulu nempel sampai ibuk hanya sedikit mengambil peran tapi sekarang aku sama sekali tidak ada akses untuk bisa mendekatinya.

Memang anak kecil itu sensitif dan tau bagaimana orang-orang yang ingin mendekatinya apakah baik dan tulus ataukah sebalinya, apa lagi dede termasuk anak yang sensitif. Aku ingat kembali apa saja yang sudah membuat dede tidak suka, aku tak pernah membentak dan berbuat kasar tapi kenapa ga suka....? Pertanyaan yang menohok kan....

Aku cari-cari dan mengingat semua kejadian yang sudah berlalu dan ketemulah titik permasalahannya. Semuanya bukan tanpa disengaja tapi sepertinya memang perasaanlah dari dua belah pihaklah yang berperan. Sejak aku kenal manga (komik) perlahan dede pun ikut berubah. Disaat bersama dede manga ada diantara kami, ketika dede dengan ibuk seketika hp sudah ada di tanganku dan membuka aplikasi manga padahal sebelumnya sehari-hari hp sama sekali tak terpegang seluruh waktu untuk dede tapi kini waktu terbagi bahkan dede mulai tersisih. Ya sepertinya itulah sedikit faktor pemicunya.

Aku pernah beberapa kali mendapati dede melihat ke arahku ketika membaca manga, tatapan tajam dan entahlah apa yang menjadi pikiran anak sekecil itu yang jelas mata imut itu seperti memperlihatkan protes. Aku tau itu namun tidak mengindahkannya, kembali asik dengan cerita yang sedang kubaca.

Semua ini terjadi karena aku perlahan telah menarik diri. Ketika seseorang telah mulai mendekat dan nyaman beraamaku maka perlahan aku akan mencoba menjauh. Itulah kunci dari pokok permasalahannya. Seharusnya meskipun aku asik dengan manga tapi jika aku masih mempertahankan untuk bisa terus bermain dan menghabiskan waktu dengan dede maka tak akan terjadi seperti ini. Ya itulah yang terjadi. Dari dulu aku tak pernah membiarkan orang lain untuk nyaman berada di sisiku walaupun aku sadar jika aku bisa membuat orang-orang itu nyaman namun aku tak mau mereka berada disisiku.

Jika mereka mendekat aku akan tetap ditempat namun jika mereka merasakan nyaman maka akulah yang mulai tak nyaman dan perlaham akan membuat jarak hingga radius tertentu agar tak menyakiti. Namun jika mereka tetap ditempatnya tanpa mempersempit jarak maka akupun akan tetap berada di tempat semula, yang siap memberikan dan membantu ketika dibutuhkan. Aneh ya..., tapi mungkin inilah caraku bertahan jadi, jangan aneh jika aku sama sekali tak memiliki teman dekat. Hanya orang yang hebat dan patut di acungi jempol lah yang bisa bertahan dengan kelakuan busukku ini. Mungkin pertahananku akan goyah jika mereka gigih untuk terus bertahan dan terus mendesak untuk tetap dekat. 

Jika aku nyaman, maka tamatlah aku. Aku akan mengikutinya, namun jika ia mulai tak nyaman akupun akan menyiksa diriku untuk perlahan menjauhinya. Aku hanya tidak ingin melukai orang lain, biarkan aku saja yang runtuh tak mengapa. Pasti bisa mengatasinya karena sudah biasa. (11/11/19)

5/29/2018

Laba-laba dan kura-kura

Sebenarnya sudah beberapa kali kita (aku dan yongsa) membahas perihal tentang kehidupan setelah kematian dan reinkarnasi namun belum menemukan titik terang dari argumen-argumen dari setiap pertanyaan yang datang bertubi-tubi pertanyaan yang dijawab menjadi pertanyaan baru. Memang susah untuk menjabarkan apakah reinkarnasi itu ada atau tidak, dan kehidupan setelah mati itu seperti apa. Dan karena tidak ada jawaban dalam argumen yang saling terlontar ini maka kita akhiri saja karena semakin panjang malah semakin ngambang jawaban yang didapat dan bukan selesai malah bikin kepala seketika migran.

Aku pernah berhayal dan berbincang dengan dirisendiri, ya lucu-lucuan saja sebenarnya. Begini ketika mengingat dan mencari penjelasan kenapa yongsa selalu saja memberikan respon tidak suka ketika aku mengusir atau tanpa sengaja membunuh laba-laba yang bersarang di dalam rumah. Laba-laba yang tanpa permisi membuat sarang di langit-langit rumah ataupun di tempat-tempat yang dianggapnya pas lah ya untuk dijadikan hunian. Dan entah apa alasannya aku yang suka dengan kura-kura walaupun ga memelihara dan tidak mengkoleksi benda yang berbentuk kura-kura namun senang saja ketika melihat kura-kura.

Karena hal itulah ketika duduk diam sendiri aku gunakan untuk berbincang dengan diri sendiri. Dan diceritakanlah kenapa yongsa begitu menyukai laba-laba itu dikarenakan di kehidupan sebelumnya yongsa pernah hidup menjadi laba-laba dan aku menjadi kura-kura. Dan kenapa yongsa lahir belakangan itu karena yongsa nakalnya kelamaan sehingga butuh waktu yang lebih lama dariku untuk sampai di kehidupan yang sekarang. Iseng aku tanya sebelum sekarang pernah hidup jadi apa saja, wah ternyata banyak banget yang sudah dilewati dari menjadi hewan juga menjadi tanaman dan menjadi apa aku sebelumnya itu semua tergantung dari amal perbuatan kita dikehidupan sebelumnya. Jadi jika menjadi orang nakal hidupnya ga bener ya akan semakin lama berubah menjadi sempurna.

Di akhir hayalan teringat dengan film kerasakti, hahahahaahha.... menghayal ternyata kadang-kadang bisa aneh juga ya. (28/05/18)


6/10/2017

Sendiri

Kata orang bila mimpi sebelum jam 3 pagi itu dinamakan bunga tidur, setelah jam 3 pagi mimpi bisa menjadi pertanda dan kebanyakan mimpi itu menjadi nyata. Lalu kalau mimpi kisaran jam 5 selepas subuh masuk kategori yang mana.....???!

Tadi pagi aku mimpi, entah tepatnya jam berapa yang pasti selepas subuh. Saat itu aku berada diantara rombongan yang sedang berada di suatu tempat. Entah dimana aku ga ngerti seingatku ada di sebuah rumah di suatu desa. Desa itu tenang dan rapi tapi sepertinya desa itu memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata, enggak menangkap itu tempat wisata alam atau wisata religi yang pasti serombongan itu yang aku kenal hanya yongsa. Diantara rombongan aku merasa terasing, tak dipedulikan (ga dianggap) bahkan sepertinya aku hanya pelengkap saja tidak masuk daftar hitungan dalam rombongan.

Beristirahat di sebuah rumah, yang lain pada sibuk sendiri-sendiri ada yang ngobrol, beristirahat, termasuk yongsa yang lagi duduk di teras aku dekati dan aku ajak bicara tapi diacuhkan hanya jawaban singkat padat malah langsung mengajak ngobrol orang lain, seperti menghindariku dan enggan berbicara denganku. Rasanya sakit, aku ga mengerti ada apa denganya. Lalu ada salah seorang pria datang dan mengatakan bila ingin melihat-lihat sekitar dipersilahkan. Ada beberapa orang yang mulai berjalan-jalan disekitar pondok (tempat yang kami buat istirahat) termasuk yongsa, aku ngikut seperti anak bebek yang takut kehilangan induknya tapi setiap aku ajak ngobrol ataupun aku bertanya tentang tempat yang kami lewati tidak ada jawaban, yongsa hanya diam bahkan menolehpun enggak. Karena tak mendapat jawaban aku hanya diam melihat sekeliling mengikuti yongsa dari belakang dan mulai jaga jarak untuk tidak terlalu dekat dengan yongsa. Yongsa sepertinya tidak mau bila aku ikuti karena ia terus berbalik arah dan bergabung  ke kelompok orang yang berjalan berlawanan arah denganku. Aku terdiam, memandang kepergiannya tanpa bisa berkata apa-apa. Mulutku sepertinya terkunci rapat hanya memandang punggungnya yang mulai menjauh. Sedih, terasing dan sendiri.

Aku ambil nafas panjang untuk membuang sesak di dada. Mungkin aku tak di inginkan. Aku pun melanjutkan langkahku seorang diri menyusuri jalan pedesaan yang sudah teraspal dan tertata rapi diantara deretan rumah yang sepi (seperti rumah di sekitar taman sari jogja) tiba-tiba saja di samping kanan aku melihat jalan setapak menanjak yang masih berupa tanah merah. Jalannya kecil dan entah bagaimana caranya untuk naik karena tanahnya begitu kering dan tidak ada anak tangga ataupun pegangan untuk ke atas, benar-benar atas usaha sendiri. Mungkin bila tidak hati-hati bisa terpeleset oleh tanah dan kerikil. Di sana aku melihat ada 3 orang pria yang berjaga-jaga. "apakah disana itu makam atau tempat wisata alam...." tapi fellingku itu makam seseorang yang dihormati dan hebat. Aku melihat ke arah jalan setapak yang menanjak itu , ingin naik tapi baru berpikir kearah sana terdengar panggilan untuk berkumpul. Tanpa menunggu lama aku kembali untuk berkumpul dan mengabaikan pikiranku tentang jalan setapak yang aku lihat.

Bergabung dengan rombongan yang berkumpul di jalan samping pondok yang kebetulan sebelah kanan pondok itu ada rumah yang pelatarannya luas, disanalah tempat panitia berada. Aku berdiri di dekat yongsa yang sibuk mengamati orang-orang disana, antusias bercerita yang aku lihat tadi kepada yongsa tapi ga ada tanggapan, bahkan yongsa sama sekali ga meliahat ke arahku. Malah salah seorang panitia yang menjawab dan tiba-tiba saja aku baru ngeh jika di dekat kami berkumpul ada juga jalan setapak yang menanjak setelah salah satu panitia itu menjelaskan dan menunjuk ke arah jalan menanjak tapi ini sudah rapi, hanya sekilas saja aku melihat. Masih kepikiran bukit dari jalan menanjak yang aku lihat pertama kali.

Aku bertanya apakah disana (jalan yang aku lihat tadi) di atas adalah makam tapi belum dijawab, salah seorang panitia mempersilahkan kepada kami untuk sholat karena sudah adzan kami pun menunju rumah seperti aula, seperti sebelumnya aku ga dianggap. Berada di paling belakang berjalan sendiri dibelakang yongsa.

Sampai di sebuah rumah tepatnya di depan pondok ya lumayan jauh juga. Disana semua orang mulai berwudhu, dan anehnya mereka menunggu yang lain tapi tidak menungguku, bahkan sepertinya mereka membuat aku agar tidak dapat ikut sholat berjamaah dengan berlama-lama berwudhu hingga menghabiskan air tak menyisakan untuk ku berwudhu. Aku mencari kran tapi ga ada yang keluar air, sampai ada seorang pria menunjukkan padaku kran yang bentuknya unik. Ada beberapa pipa yang tingginya tak sama dijadikan satu, disuruhnya aku menggunakan kran itu saja tapi menggunakan gayung untuk mendapatkan air.

Pria itu juga menturuhku untuk memilih kran yang akan aku pakai karena kran itulah yang akan mengeluarkan air, aku buka kran yang ada di bawah dan benar saja airnya itu keluar disalah satu pipa, pipa yang tengah, aku menampung air yang keluar dengan gayung deras tapi yang ketampung hanya dikit, mungkin karena airnya menyembur ke atas kali ya. Air yang keluar bukannya menyamping tapi seperti air mancur itu karena peralon yang digunakan memang tidak ada kran sambungan, tapi lama-lama air yang keluar tidak hanya dari 1 pipa tapi pipa di atasnya juga mengeluarkan air. Butuh waktu yang lumayan lama juga mendapatkan air untuk wudhu sampai yang sholat sudah selesai tapi aku masih berkutat dengan air. Yongsa yang melihatku tidak menyapa atukan menghampiri menanyakan yang sedang aku lakukan melainkan hanya melihat sekilas dan pergi. Benar-benar tak peduli.

Mengapa...., apa arti dari semua ini. Di dalam mimpi pun aku terlihat sendiri, tidak ada yang peduli dan bahkan menganggap aku tak ada. Aku melihat jalan menanjak dan itu sepertinya harus aku daki dengan perjuangan dari diriku sendiri, namun selama kesendirian itu ada suara yang mengarahkanku. Aku tak tau itu suara siapa karena aku tak mengkap ada siapapun hanya suara dan sosok di belakangku yang tak pernah aku sadari keberadaannya yang sangat membantuku. Semoga ini adalah hal baik dan mengarah pada kebaikan semua orang khususnya aku sendiri. (10/06/17)

1/07/2017

Melompat dari zona nyaman...

Apakah kamu yakin apa bahwa sekarang kamu berada di zona nyaman..., apakah itu sepenuhnya sebuah kenyamanan..., percaya ini benar zona nyamanmu...., Yakin kah kamu....???!

Sejatinya apa sebenarnya yang dimaksud dengan zona nyaman. Apa yang dinilai bisa dirasakan nyaman oleh kita..., lalu bagaimana mengukur kenyamanan itu sendiri sehingga dikategorikan seseorang itu ada di zona nyamannya ataukah tidak.
Apakah dengan coba menikmati hingga bisa melaluinya sampai waktu yang tak bisa terbatas itu bisa dikategorikan nyaman, atau masih ada unsur-unsur lain yang berperan di dalamnya.

Hmmmm... Jangan mengatakan berada di zona nyaman bila hati masih belum iklas menjalani, masih melihat waktu sebagai sekat, jangan memberi harga atas apa yang dikerjakan. Zona nyaman itu memberi lebih dari sekedar apa yang kamu suka hingga menjalaninya dengan sepenuh hati (iklas), tanpa mempersoalkan apa yang disuka.

Zona nyaman itu seperti kekasih, yang memberikan keleluasaan, kehangatan dan rasa memiliki yang kuat. Lalu apakah kamu sudah seperti itu....???!
.
.
.

Berpikir...
.
.
.
Aku rasa sepenuhnya belum seperti itu. Selama ini menganggap apa yang aku jalani sebuah konsekuensi dari timbal balik, sebuah kewajiban untuk mendapatkan apa yang aku inginkan untuk tuntutan yang mau tidak mau harus aku penuhi.
Ternyata selama ini yang aku anggap zona nyaman bukanlah yang sebenarnya, ini adalah suatu tempat untuk mengadakan. Hanya sebuah alat dari timbal balik saja.

Ternyata aku masih harus terus berjuang, ini adalah arena pertempuran yang tak terlihat dan aku tak boleh menyerah begitu saja, harus berjuang hingga titik penghabisan. Aku yang harus menjadi orang yang terakhir menikmati udara bebas dari tempat pengap ini. Abaikan sekitar, namun fokus pada pencapaian di titik pusat yang sudah aku buat sendiri. (06/01/17)



☆ el

1/06/2017

Rintik

Apakah aku terlalu menjadi beban untuk yang lain...?!
Apakah sedikitpun aku tak punya hak untuk jalan hidupku ini...?!
Terlalu sadis untuk didengar, terlalu sakit untuk dirasa dan terlalu perih pilihan yang diambil.

Aku selalu ingat dan sudah tertanam di dalam otakku hingga mengakar dan tumbuh subur tentang apa arti aku lahir di dunia ini. Namun apakah bisa sedikit saja aku mendapat pengharapan atas apa yang aku mau dan tentang hidupku.

Aku pasrah hidupku mau dibuat gimana dan seperti apa. Karena aku sudah tak ada hak lagi. Tak mengapa semua akan aku jalani, akan aku coba berlapang dada untuk terus melangkah hingga akhir.

Akan aku kunci rapat-rapat harga diri, ego dan harap serta asa. Biarpun pada akhirnya akan mengalami kram otak hingga kaku dan membatu tak akan aku rasa karena yang aku ingin hanya senyum..., senyumnya dan kebahagiaannya saja.

Aku tidak bisa membalas semua jasanya, tak ada yang bisa aku berikan hanya secuil dari menurut apa yang diucapkannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan, hanya itu yang bisa aku berikan untuk ketenangan hati dan senyumnya. Melihat senyum dan senandung darinya itu sudah cukup membuatku bahagia, bahagia yang selalu ingin aku lihat dari raut wajahnya.
Ketenangan dan senyum mereka adalah hal terpenting buatku, jadi abaikan apa yang aku ingin dan segala macam yang berkecamuk di dalam diriku.

Karena aku sejatinya bukanlah diriku.
Karena aku hadir untuk melengkapi bukan untuk dilengkapi.
Karena aku adalah jiwa yang selalu mengembara tanpa henti.
Karena aku....cukupkan titik tanpa tanda baca yang lain.

Coretan bodoh dari air mata dan rasa yang tak dimengerti. (05/01/17)



☆ el

10/21/2016

Kebingungan dengan Dirisendiri

Ga habis pikir mengapa banyak orang mengira aku orang cina (tionghoa) yang identik dengan kulit putih dan mata sipit padahal itu ga sama sekali ada padaku. Aku lahir di jawa, orang tua juga jawa asli dengan kulit coklat ya walau kadang seperti sawo mentah terkadang seperti sawo matang dan mata juga belok. Lalu...., darimana melihatnya hingga bisa mengatakan begitu ??! (20/10/16)

#belum paham hingga sekarang



☆ el

10/18/2016

Coretan UntukNya

Bahkan untuk tidur pun aku merasa takut. Aku tidak ingin ketika terlelap nantinya akan bermimpi sesuatu yang tak ingin aku lihat. Aku terlalu takut, setelah mengetahui apa yang akan terjadi yang baru saja aku dengar.

Tuhan peluk aku, katakan bila apa yang mereka katakan itu salah, yang dikatakannya itu sama sekali tidak benar. Jangan hilangkan yang ada di dalam hatiku, biarkan aku kali ini tetap berada di area nyamanku karena hanya hatiku yang selama ini hadir menemaniku disaat susah maupun senang.

Eyang bantu aku, katakan padaNya tentang hatiku. Bukankah perjalanan yang sudah aku lalui hingga sekarang juga karena bimbingan eyang semuanya.

Perjalananku tidaklah mudah untuk sampai disini, biarkan kali ini aku memilih apa yang aku mau. Biarkan aku tetap memiliki hatiku untuk selamanya. itu saja. Aamiin (17/10/16)



☆ el

10/17/2016

Kado Istimewa

Entah harus senang atau sedih ketika mendengar berita perihal tentangku. Disatu sisi ada harapan yang sebentar lagi akan menjadi nyata, namun disisi yang lainnya sepertinya aku tak sanggup membayangkan bila harapan serta langkah yang sudah aku jalani bukanlah yang sebenarnya.

Aku takut, sungguh takut bila ini benar. Tuhan, peluk aku di dalam dekapmu. Bisikkan padaku tentang apa yang akan terjadi, dan arah langkah yang harus aku ayunkan. Bukan maksud aku menolak kado terindah darimu, namun aku tak tau cara untuk menerimanya dan menggenggamnya.

Boleh ga jika kali ini aku memilih sendiri kadoku. Tak mengapa bila tak supres karena aku sudah mengetahuinya terlebih dahulu namun aku menyukai dan menginginkannya secara utuh. Aku berjanji akan berusaha menjaganya dengan baik melebihi menjaga diriku sendiri. (16/10/16)



☆ el

9/11/2016

Blank...

Apa yang terjadi di dalam diriku saat ini..., aku sama sekali ga mengenalinya, bahkan emosi semakin menjadi dan berubah-ubah tak menentu.
Tidak hanya ingin berteriak, namun juga ingin menyakiti seseorang tapi bila itu aku lakukan apakah bisa membuat emosi kembali slow done.

Aku tidak paham, selerti ada negosiasi yang sedang berlangsung. Mungkin mereka lagi membuat rencana besar yang sangat indah (semoga saja... aamiin) namun mengapa ada emosi, kenapa tidak ada kerendahan hati mendiskusikan dengan menampung dan melihat dari berbagai sisi setiap pendapat, menambahkan dan sedikit mengubah agar cerita terlihat indah dan berkesan juga manis. (11/09/16)



☆ el

Mimpi yang tak kumengerti

Kata orang mimpi adalah bunga tidur yang habis ketika kita bangun. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa aku jarang bisa bermimpi secara utuh. Namu  kali ini terkecuali karena bangun tidur disela mengumpulkan kesadaran aku mencoba untuk mengingat kembali mimpi yang baru saja aku lihat.

Aku melakukan perjalanan pulang mengendarai motor dari sebuah kota yang aku sendiri ga tau itu dimana dengan mengendarai motor. Jalan aspal yang datar yang bagus sehingga aku bisa melaju kencang, namun ditengah perjalanan aku melihat langit berwarna abu-abu dan sesekali aku merasakan titik-titik hujan mengenai jaket tebal yang aku kenakan.

Hujan belum sempat datang namun rasa lelah yang aku rasakan seakan menyuruhku untuk singgah di sebuah bangunan yang berada di samping jalan. Bangunan berwarna kuning yang ternyata itu adalah sebuah pos penjagaan. Aku parkir motor di dekat pos, yang ternyata banyak juga motor yang terparkir disana, "sebenarnya ini tempat apa, kenapa begitu banyak motor disini..." timbul pertanyaan untuk diriku sendiri.

Seperti mata yang baru saja terbuka, satu persatu semua mulai terlihat, aku pendarkan pandangan kesekeliling tempat itu dan  ternyata disamping aku memarkirkan motor ada bangunan semi permanen yang digunakan untuk menjual tiket. Di belakang bangunan itu aku melihat lembah yang hijau dipenuhi pepohonan dan semak belukar, aku melihat beberapa orang yang ada di sebuah ruangan dari kaca seperti life, samar aku membaca tulisan "Lembah Nura" , selepas membaca tulisan itu seketika saja ada cahaya merah yang muncul dan menyulaukan mata mengaburkan tulisan dan tempat di lembah yang aku lihat.

Pandanganku beralih kembali ke tempat penjualan karcis dimana ada beberapa orang disana. Ternyata jalan yang ada di depan dan pos keamanan itu adalah jalan sebuah desa, eh entah desa atau tempat wisata dengan jalan beraspal lurus menuju perbukitan. Aku bergeser melongok ke dalam penjualan tiket, penasaran karena ada beberapa orang yang keluar dari sana dan ternyata di dalam gelap, namun disana ada lorong yang menuju ke bawah, mungkin itu jalan menuju ke lembah. Dan dari tempat aku berdiri aku melihat hamparan kaki peguningan yang ditanami padi yang sudah mulai menguning dan beberapa jenis bunga. Ada juga pepohonan yang mengelilinginya.

Aku ambil hp di dalam tas serempang untuk mengambil pemandangan yang baru aku lihat. Beberapa gambar aku ambil, termasuk jalan menuju ke atas dimana disana hanya terlihat bukit hijau yang subur dan terjaga.

Ternyata di depan penjualan tiket ada berjajar warung sederhana. Ada seorang pria yang memperailahkan aku untuk mencicipi dan melihat-lihat tempat itu, tanpa menunggu aku pun beranjak ke warung. Ada seorang ibu dengan badan sedikit gemuk sedang sibuk memasak pesanan pelangga. Warung itu terlihat gelap, namun ramai. Aku terkejut saat melihat pohon bambu yang ada di dalam warung, tak hanya satu pohon bambu mmmm.... sepertinya ada tiga pohon bambu yanh berderet menyamping. Eeeeh tunggu dulu itu pohon bambu atau bukan ya, bila dilihat memang ada ruas dan memang batang bambu namun saat melihat agak ke atas kenapa bercabang....???! Bukannya pohon bambu hanya punya satu ruas saja, namun ini bercabang. Di bagian bawah tidak menggembung tidak begitu besar juga, normal seperti pohon bambu pada umumnya namun bercabang. Aku ingin mengambil gambar pohon bambu itu namun karena tempatnya yang gelap aku ga yakin bisa mendapat gambar yang bagus aku urungkan untuk mengambil gambar.

Saat memasukkan kembali hp ke tas, di trotoar samping warung aku melihat pohon bambu yang sama, orang yang tadi mempersilahkanku ke warung itu sepertinya mengerti dengan apa yang aku pikirkan dan aku lihat, beliau pun mengatakan jika pohon itu banyak tumbuh di tempat ini. Dan benar saja aku melihat di dekat jalan raya juga ada beberapa pohon bambu yang bercabang. Dalam pikirku nanti saja mengambil gambar pohon bambu bercabang yang ada di sepanjang jalan raya saja yang lebih terang. Saat itu posisi aku sedang berdiri di trotoar setelah memindahkan motorku disana.

Tak jauh dari aku berdiri ada beberapa orang duduk di 'lincak' sedang asik ngobrol, sepertinya warga sekitar. Aku ingin melanjutkan perjalanan, lagi memakai jaket namun hujan keburu turun dengan lebatnya itu aku lihat dari jalan raya dan suara riuh hujan, sementara tempatku berdiri terlindung dari hujan padahal hanya daun-daun dari pohon bambu yang menaungi kami.

Ada seorang wanita yang berdiri dekat motor menyarankan untuk mengenakan mantel. Aku buka jok motor yang ada 3 jas hujan dan kantong keresek hitam yang ada di dalam bagasi motor bagian bawah. Aneh, mengapa ada begitu banyak jas hujan di motorku..., jas hujanku berbentuk celana biru dongker, jas hujan biru dan jas hujan warna krem yang ada di atas tempat pengisian bensin. Sempat aku berpikir, kenapa bisa ditutup bahkan seperti ga ada apa-apanya padahal di atas tengki bensin ada jas hujan yang pastinya akan ngeganjal dan susah di tutup bila dinalar.

Aku ambil jas hujan warna krem yang ternyata jas hujan itu berbentuk kelelawar berlengan. Bagaimana memakainya, kalau memakai ini celanaku akan basah, dan wanita yang berdiri di sampingku mengingatkan jika aku sudah mengenakan celana dari jas hujan. Aku agak kebingungan makainya hingga aku temukan lubang untuk memasukkan tangan.

Hujan masih turun sangat lebat sampai-sampai jarak pandang terbatas, dan di jalan raya tak aku lihat satu kendaraan pun yang melintas, namun di tempat ini aku sama sekali tak merasakan tanda-tanda hujan  turun. Orang-orang santai saja berseliweran tanpa mengenakan payung seakan tempat ini terlindungi dari segala macam cuaca. Dan aku menunggu, duduk di atas mitor mengenakan mantel sambil melihat kearah hujan yang sepertinya enggan berhenti, sambil sesekali menyahut pembicaraan dari para pria yang dudum di bangku kayu di depanku.

Satu helaan nafas panjang, mataku terbuka dan ternyata matahari sudah memancar terang. Dari balik jendela tak kulihat semburat keemasan dari ufuk timur. (11/09/16)



☆ el

9/06/2016

Mencoba menjabarkan

Ketika mandi, saat mainan air dari kran kamar mandi tak sengaja membiarkan pikiran berkelana hingga terantuk dengan cincin yang aku pakai. Dulu pernah meminta pendapat kepada yongsa tengang cincin yang aku pakai sejak lama namun tidak ada pembahasan sampai tuntas. Dan tadi aku lihat secara seksama cincin di jari tengahku ini, aku merasa ada sesuatu namun belum ketemu tentang arti atau maksud dari model cincin yang aku pakai ini.

Rasa penasaranku mengontak kebiasaan berpikir untuk mencari tau, ya seenggaknya menjabarkan secara nalarku saja agar mendapat jawaban yang bisa diterima oleh akal sehingga pembahasan dan menjabaran berhenti.

Ada dua garis yang berbeda satu garis polos yang satu bergerat warna silfer. Dari dua sisi yang berlawanan garis yang bergerat bertemu disatu titik dan melengkung membentuk lingkaran dimana dalam melingkar itu menyentuh garis polos dan ujung garis gerat yang melingkar, garis polos dan titik tengah dipersatukan dengan sebuah mainan bening. Sementara garis polos membentuk sebuah garis dimana terlihat masuk di dalam lingkaran dari garis gerat dan berakhir di garis gerat di sisi sebalinya. Begitu juga sisi yang sebaliknya.

Antara kedua garis yang berbeda seperti bercabang namun letak dari garis di kedua sisi berbeda. Dua garis yang berbeda berhadapan  di satu titik dan masing-masing berpasangan seperti kanan-kiri.

Tak sama namun bisa berjalan beriringan, saling melindungi hingga saling bertemu. Di dalam perjalan untuk menuju tujuannya melibatkan beberapa pihak hingga sampai di tujuannya yaitu permata yang berkilau, cantik, indah dan menyempurnakan penampilan.

Dalam penalaranku seperti dua kepribadian berbeda yang berjalan bersama, yang lebih kuat melindungi yang lemah sementara yang lemah membantu menopang untuk mencapai puncak. Saat mencapai puncak itu tidak melupakan hal-hal yang membuatknya sampai ke puncak.


(21/08/16)


8/30/2016

Tatapan Mata Tajam

Semalam tak sengaja aku melihat diriku sendiri di dalam cermin. Sorot mata itu tak aku kenal namun sering muncul disaat-saat tertentu.
Tatapan mata tajam dan menakutkan, aku sendiripun takut untuk melihatnya.
Ada ketegasan, sedikit amarah dan sendu.
Siapa pemilik sorot mata itu..., aku sama sekali tak mengenali karena yang aku tau itu sorot mata milik wanita kuat, tegas dan tak kenal menyerah.

Dan dipagi hari samar masih aku lihat sorot mata yang sama walaupun tak setajam dan segarang semalam namun masih mampu menakutkanku. Lelah yang tak durasa namun ada kesenduan yang tak bisa ditutupi dari apa pun. (30/08/16)


8/29/2016

Ingin Pelukan Kasih dariMu

Kembali lagi dada ini terasa sakit. Sakit yang begitu menyayat dan menyiksa.
Entah apa sebab dari sakit yang datang secara tiba-tiba ini namum yang pasti ini adalah luapan emosi.
Mungkin saja kamu yang saat ini tengah emosi, yang tak bisa membendung dengan rapat sehingga sampai kepadaku.
Mungkin juga aku yang tak lagi bisa menahan diam dari segala tanya yang tak terjawab.
Atau bisa juga karena emosi yang ada di dalam diriku sehingga sedikit banyak juga melukaiku.

Dada ini begitu sakit, nyeri dan sesak. Seperti kena pukulan keras tepat di uluhati.
Dan sekarang menjalar ke kepalaku. Semarah apa pun yang ada di dalam diriku tidak akan tega hingga membuatku kesakitan.
Yaaa, saat ini aku kesakitan. Sakit yang teramat sakit hingga untuk bernafaspun susah.

Tuhan peluk aku...., terlalu sakit dada ini hingga membuat nafasku tersengal.
Tuhan peluk aku di dalam dekapmu. Aku ingin pelukan darimu saat ini .
Tuhan berikan kekuatan untukku agar aku bisa menahan sakit yang kurasakan sekarang.
Peluk aku Tuhan. Peluk aku.... Tolong peluk aku Tuhan saat ini.
Karena kuasaMU adalah yang terbaik, karena kasihMU adalah yang terindah. Peluk aku... (29/08/16)


8/28/2016

Pelangi dan Taman Bunga Akan Segera Datang

Dari sore langit sudah terlihat mendung, bukan awan gelap yang terlihat melainkan langit abu-abu. Tumben-tumbenan listrik mati, biasanya hujan lebat pun listrik di daerahku tidak mati namun ini belum juga hujan listrik sudah mati. Seisi rumah gelap karena tidak ada penerangan yang dinyalakan, biasanya kami jika lampu mati mengandalkan cahaya dari lampu darurat yang tidak begitu terang.

Sesekali menikmati suasana gelap tanpa lampu seperti pada masa kecil dulu. Aku duduk di kursi panjang ruang tamu masih terlibat sedikit pembicaraan dengan bapak. Dan tiba-tiba aku melihat cahaya seperti petir dua kali di kamar kosong samping kamar ibuk. Ternyata bapak juga melihat dan kami pun saling tanya tentang kilatan cahaya yang kami lihat barusan.

Bapak tidak lihat pastinya dimana sebab posisi bapak yang berdiri menghadap kearahku membelakangi kamar. Bapak mengira cahaya putih berasal dari atas, mungkin saja adek perempuanku atau temannya yang masih di rumah sedang menyalakan lampu untuk mandi karena tak lama setelahnya terdengar suara kran air dari kamar mandi atas. Jelas itu tidak mungkin jika cahaya dari atas karena di atas masih terang karena ada jendela besar yang memungkinkan cahaya dari luar masuk. Aku mengita itu ibu yang menyalakan senter sebab sempat melihat kamar mandi tertutup mungkin saja ibu sudah selesai mandi dan ingin menaruh handuk di samping trus menyalakan lampu tapi itu juga sepertinya ga mungkin karena samping terlihat juga terang sedangkan cahaya yang aku lihat terlihat sangat terang di ruangan gelap. Ya aku melihatnya di kamar kosong.

Bapak langsung mencari senter dan kebelakang sementara aku mengikuti di belakang, penasaran juga cahaya seperti kilat itu barusan apa...
Di dapur aku melihat kamar mandi masih tertutup itu tandanya ibu belum selesai. Aku meyakinkan bapak bahawa cahaya itu berasal dari kamar lalu bapak pun ke kamar dan menerangi seisi ruangam namun ga ada yang aneh. Yang terlihat hanya barang-barang yang menumpuk disana.

Sempat aku berpikir bahwa cahaya itu adalah sinar yang datang membawa kebaikan. Karena aku pernah melihat cahaya putih seperti itu yang seperti kilat dan seper sekian detik saja terlihat. Kali ini aku melihatnya dua kali, apakah itu..... hmmmmm, sepertinya apa yang aku pikirkan, aku duga benar kali ini.

Perubahan besar ke arah yang lebih baik akan segera terjadi. Bab baru sudai mulai ditulis dan saatnya bersiap-siap menerima melihat keindahan selepas hujan datang. (28/08/16)


7/04/2016

Ingin Mudik

Perasaan yang timbul namun tak bisa aku pahami, sebuah rasa untuk berkumpul anak dan cucu di hari lebaran sangatlah di inginkan. Sebagai orang tua ingin di jenguk sekedar berkumpul mengingat masa-masa kecil dan melihat perkembangan mereka yang kini sudah menjadi orang tua bahkan sudah memiliki cucu.

Sebelum puasa yang biasanya anak-anak pada berkumpul menjenguk pusaran orang tua, namun di tahun ini tidak semua anak datang. Ya aku tau bagaimana kondisi mereka, dan aku tak marah ataupun mempertanyakan ketidak hadirannya. Aku ingin melihat mereka, merindukan kedatangannya di pusaran.

Rasa kangen untuk bisa bertemu, menyatu dan berinteraksi dengan mereka, namun mengapa tidak datang apakah sudah melupakan tradisi atau ada sebab lain.... Dan di hari lebaran nanti aku ingin anak, menantu, cucu serta cicit bisa datang.

Apakah di hari lebaran nanti bisa melihat mereka.....???

Mendengar perbincangan salah seorang anakku yang belum pasti bisa datang itu membuatku sedih, aku ingin mereka datang, melihat anak-anakku kumpul, menjengukku itu saja. (04/07/16)


★Ell

3/16/2016

Potongan Mimpi

Bisa kamu ceritakan tentang sesuatu yang kamu alami selama ini.
~ Maksudnya yang aku alami gimana yo

Ya yang sedang kamu rasa yo, saat ini
~ Ya cuma kangen yo, pengen kmu di sini itu aja yo.

~ Beberapa hari lalu aku mimpi entah ini bener mimpi apa cuma imajinasiku karena aku tidur merem tapi sadar dengan cerita dalam mimpiku. Seperti benar-benar melihatnya dengan nyata

Emang apa yg km lihat yo?
~ Tepatnya jam berapa ga tau tapi sepertinya menjelang pagi. Waktu itu aku mimpi jalan sepertinya di kampung, jalan masih tanah, masih banyak tanah kosong kanan kiri ditumbuhi pohon besar juga ilalang.
Sepertinya aku mencari rumah seseorang, di tengah jalan aku ketemu orang yang lagi jemur pakaian hanya ada rumah itu saja rumah lainnya itu jauh lalu aku disapa ama perempuan ini, sepertinya aku kenal tapi yang aku ingat kok mba wid (tmn ktr) sedikit ngobrol, aku tetep di jalan dia tetep sibuk dengan cuciannya. Sekedar bertanya ingin kemana dan dia juga menjelaskan kalau ini rumah terakhir selebihnya tidak ada rumah lagi, namun aku masih penasaran, aku pamitan mau nyari rumah teman kembali. Berjalan lurus di kanan kiri hanya ilalang yang tumbuh liar juga pohon yang tinggi. Lama jalan ga melihat ada tanda-tanda rumah laen akhirnya aku balik lagi dan ditehur lagi juga dipersilahkan untuk mampir sebentar di rumahnya.
Aku mampir ke rumahnya itu, letak jalannya untuk menuju pelataran rumahnya agak naik ga tau juga ada jalannya apa enggak seingalku aku lompat untuk ke rumahnya.
Aku dipersilahkaa duduk sementara dia masuk ke dalam untuk mandi trus aku duduk di kursi tamu panjang warna coklat tanah dari kain beludru ada motifnya. Disana banyak kursi ada kursi yang ada busanya komplit  (kursi r tamu yang bagus) sebelah kanannya ada lagi 1 set tapi agak jelek trus deket pintu juga ada lalu di samping kiri deket kursi juga ada kursi yang kaki satu seperti kursi bar tapi ada senderannya kecil dari besi bahan dudukan dari beludru juga warna warni, yang aku inget warna hijau dan biru tapi disana meskipun banyak warna semuanya warna cerah. Lalu aku bilang oow kursi ini to yang dibuat foto.
Sempet juga liat lantainya udah ada ubinnya tapi yang model dulu, ubin yang sejengkal namun kali ini motifnya bukan bunga melainkan polis warna krem sepertinya udah lama banget dan ada yg udah retak, gumpil dan ubinnya terlihat kusam. Aku hanya liat belum sempat mengamati semua ada ornk datang dan bilang 'tumbas' sedikit bingung disini emang jualan tapi saat aku lihat sekeliling dimana warung barang jualannya ga kelihatannya hanya di samping kursi warna warni seperti ada difet menghadap ke dalam yang digunakan sebagai penyekat ruangan warna kayu jati dan sudah terluhat lusuh.
Yang punya rumah kan di dalam semua ornk yang aku ajak ngobrol meninggalkanku di ruang tamu sementara dia masuk ke dalam, dari dalam seketika seperti ada sautan 'apa' untuk menjawab orang yang bilang 'tumbas' tapi setelahnya kok ada suara obrolan di dalam.
Lalu dari dalam keluar 2 ornk wanita yang satu muda yang aku ajak ngobrol tadi trus satunya udah tua (ibunya) trus mereka ngajak aku pergi. Ya aku cuma ikut aja ama mereka, tapi ga tau mau kemana.
Di perjalanan aku jalan di samping ibu tua itu sedangkan anaknya berjalan di depan bersebelahan dengan ornk yang bilang tumbas tadi. Sebenarnya ingin ikut ngobrol dengan mereka namun tak mungkin secara kasih dengan ni ibu di sampingku dan juga sudah tidak ada tempat biat aku karena jalan yang semput dan mereka berdua jalannya terlalu dekat sehingga tidak ada celah untuk menerobosnya
Melewati reruntuhan rumah, rumah yang ga terawat juga dan di sana itu sepi. Di persimpangan ada seorang pria menyapa si ibu dan beliau pun menjawab namun aku ga mengerti apa yang mereka bicarakan sementara dua orang di depanku juga asik ngobrol sendiri. Ibu di sampingku ini banyak cerita banyak hal yang aku tak mengerti sedang menceritakan apa, ya khasnya orang tua kalau cerita sampai kemana-mana terlebih baru kali ini aku bertemu beliau, aku coba dengarkan secara seksama karena suara yang kecil dan sesekali menanggapi dengan kalimat singkat ibu itu terus saja bercerita. Yang sedimit bikin kaget ketika aku dengan sang ibu yang berjalan di samping kiriku ini melihatku dan secara bersamaan kami saling berpandangan aku amat amati ternyata ibu tua yang ada di sapingku ini keturunan cina (maaf bukan maksud membeda-bedakan, mengkotak-kotak atau menghina). Ibu yang sudah paruh baya, badannya kecil tingginya mungkin sepundakku dengan rambut potong pendek sebahu model cowok. Dia ngajak ngobrol dan cerita beberapa hal aku hanya mendengarkan dan menjawab singkat karena bingung dan ga begitu jelas dia ngomong ama suaranya pelan. Selebihnya ya udah aku kebangun
Udah gtu ceritanya dan aku ga tau maksud dari mimpiku. saat itu aku sempet berpikir 'cina lagi....' tp ga ngerti artinya apa

Pakaiannya ada jawa apa ada cina?
Mungkin ini sebagai penanda untuk mengenal garis keturunanmu sampai leluhur.
Tapi ndak tau juga.
~ Kita berempat hanya jalan biasa ik. Oh ya sempet di jalan gang gtu si ibu di sampingku disapa ama ornk tapi aku ga tau mereka ngobrol apa. Gtu ya
Oh ya di rmh tadi aku jg sempet melihat kursi dari besi

Bisa jadi seperti itu.
~ Kenapa kamu berpikir gtu

Entah kebetulan atau gimana, kemarin pas kamu bilang nonton liputan dokumentasi tentang rokok kretek, aku mau nanya ama kamu yo. gini ~> benda apa yg ada disekitaranmu/rumah yg mengingatkanmu tentang keadaan jaman dulu.
Gitu.
~ Di rumah ga ada benda yang bisa mengingatkanku tentang keadaan masa lalu. Hanya saja ketika pagi menjelang, saat matahari terbit dengam pancaran yang sempurna, ketika melihat keluar jendela ada asap bakar sampah khas kehidupan di desa, langit biru awan yang menggumpal serta pepohonan yang hijau ya sudah langsung seperti terseret ke masa lampau.
 

2/21/2016

Menanti Dalam Kesederhanaan

Hentikan menyelam karena terlalu sering dan terlalu banyak pikiran yang aku jelajahi, kini sejenak beristirahat. Tak hanya menghentikan penyelaman namun sejenak mengistirahatkan pikiran. Biarkan otak diam di tempatnya, tidak untuk berkeliaran ataupun melakukan perjalanan namun mengajak pikiran untuk duduk manis di tempatnya, tanpa melakukan apa-apa. Biarkan pikiran tenang dan mencoba untuk kembali fokus, konsentrasi dengan apa yang akan di dapatnya nanti (tak lama lagi). Karena akan ada banyak kejutan, akan banyak ada perjalanan dan akan banyak hal yang harus di pecahkan untuk mendapatkan simbul dari tali yang sekian lama disusuri untuk mencari apa sebenarnya yang dicari dari makna yang terdapat dari semua yang sudah dilewati dan didapat.

Saatnya berbincang dengan Beliau, untuk mengenal lebih dalam. Seingatku sudah lama aku tak berbincang dengan diriku sendiri, dan sudah lama pula aku tak mendengar nasehat, cerita ataupun sekedar melakukan perdebatan dengan suara hatiku. Ingin lebih mengenal suara-suara itu agar lebih memahami dan lebih bisa menyatu untuk suatu kebaikan, baik untuk diriku sendiri, orang-orang yang ada di sekitarku juga untuk orang-orang yang berinteraksi denganku.

Sampai sekarang pun aku belum tahu apa yang harus aku kerjakan, akan seperti apa nantinya dan menjadi bagaimana. Semoga segera bisa mengerti, terlebih bisa memahami maksud dari semua ini agar bisa menyempurnakan yang sudah Tuhan berikan kepadaku dan bisa bermanfaat untuk diriku juga untuk orang lain.

Mengumpulkan potongan puzzle dan merangkainya satu persatu, mencari tiap kepingan yang tercecer agar bisa menyelesaikan game hingga akhir. Maka barulah bisa mengetahui keseluruhan gambar indah yang selam ini masih menjadi teka-teki berantai dalam kepingan puzzle yang harus di kumpulkan dengan kesabaran dalam waktu yang ga sebentar. Belajar menanti untuk sesuatu yang pasti, waktunya ga bakal lama lagi dan semua akan menjadi indah. Ya indah dan penuh makna, akan menyambut hari itu dengan suka cita. Bahagia untuk kesederhanaan yang abadi. (21/02/16)



★Ell

2/16/2016

Y ~ Angan dan Mimpi

[12:09] Y: Mau mengenal alam lebih dlm bersamamu yo
[12:15] A: Saat ada waktu berpetualang ke alam, trus ntar anak-anak jg dr kecil di kenalin ama alam. Biar kotor"an gpp biar sehat terus
Di rmh sebisa mungkin minim mainan hp terutama di depan ank
[12:17] Y: Hu'um yo, sedini mungkin mengenal alam, agar bisa melihat betapa luasnya. Bisa belajar melalui alam jg
[12:18] A: Iya, biar kenal alam dan perhatian dgn alam. Ga hanya mall meluu
[12:19] Y: Iya yo.
Kl, dirumah pan gk perlu hp lg yo.
Pan udah ada km, jd aktipitas hp berkurang banyak.
Kl pun pegang hp itu sesuatu yg penting, kl bs menjauh dr anak".
Lagian aku jg gk terlalu suka dngn game
Hu'um yo. Biar mencintai alam, bukan hanya bs menikmati saja.
[12:20] A: Iya. Biarkan hp menjadi barang mahal klo di rmh.
mending main ama anak aja
[12:23] Y: Tp jangan menjadikan anak yg gaptek juga.
Ada saat diusia berapa mengenalkan anak dngn dunia internet.
[12:24] A: Iya. Kan udah ada umurnya yo kapan waktunya dikenalkan ama teknologi

Sekelumit skenario tentang masa yang akan datang. Tentang mimpi yang masih menjadi angan, keluarga kecil yang belajar memaknai arti kebersamaan, bertahan pada norma dan tingkah laku untuk mencoba agar tak terseret dengan kemajuan teknologi yang semakin lama seperti memperbudak kehidupan kita. Memaknai kesederhanaan dan mengajarkan arti kebersamaan untuk saling terbuka agar lebih bisa memahami satu dengan yang lainnya. Kehangatan dalam kebersamaan. (16/02/16)



★Ell

2/13/2016

Luka dari Sebuah Kebahagiaan

Senyum kegembiraan yang tersungging dari bibir merahmu begitu renyah. Bahagia yang hadir, yang kau perjuangkan walau dengan mengorbankan perasaan seseorang yang sudah lama menyertaimu disaat-saat sulitmu. Kini ketika kau temukan cinta sejatimu dengan mudahnya kau campakkan sekeping hati yang sudah melekat dan berlabel namamu. Sakit... ya tentu teramat sakit.
Kau tak akan mau tau dan tak mau lagi mengingat masalalu terlebih ikut merasakan secuil kepingan hati yang hancur berantakan karena kini sudah menemukan apa yang kau cari.

Namun apakah kau sadar nona, jika kebahagiaan yang di dapat dengan cara mengorbankan perasaan atau menyakiti orang lain terlebih orang yang sudah banyak berkorban untukmu tak bisa kekal. Seperti membuat pondasi di tanah lempung yang suatu saat akan terkikis oleh air yang merembes dari mata air yang terus saja mengalir dari rasa sakit masa lalumu.

Suatu hari nanti kau akan merasakan bagaimana sakitnya, seperti luka yang kau tinggalkan untuknya, ya suatu saat nanti. Mungkin kau tak menyadari apa yang sudah kau tanam nona sehingga terus saja bisa menyunggingkan senyum bahkan tertawa keras dengan kebahagiaanmu sekarang. (13/02/16)

Hanya mencoba menerjemahkan ketika melihat senyum seorang teman dan perjalanan cintanya.



★Ell

2/10/2016

Kehidupan yang Lalu

Ada sebagian besar orang berpikir "jalani saja hidup ini seperti air mengali", sebagian lagi memilih untuk melihat ke depan tak mau melihat ke belakang, sebagian lagi hiduplah untuk hari ini. Namun semuanya memiliki kesamaan memikirkan masa depan, tetapi ada seper sekian persen orang yang berpikir tak hanya tentang hari ini, masa depan namun juga berpikir tentang apa kita dimasa lalu.

Percayakah dengan adanya kehidupan yang telah lalu, hidup yang terus berulang seperti lingkaran yang suatu saat akan berada di posisi yang sama. Ya benar, dahulu kita itu apa...?! Bagaimana, menjadi apa, dan seperti apa aku ini pertanyaan seperti inilah yang terkadang terbersit di otakku. Dahulu aku menjadi apa dan sudah berapa kehidupan yang aku lewati,...?! Wajar ga seh punya pemikiran seperti itu. Bukan untuk mengungkit tapi sekedar ingin tau bagaimana aku menjalani hidupku, agar sekarang bisa memperbaiki dan bisa hidup lebih baik dari yang dahulu.

Bagaimana dulu aku menjalani hidup hingga bisa sampai dikehidupan seperti saat ini. Hal apa yang sudah aku lalui dan prestasi dalam hidup yang bagaimana yang membentukku sekarang. Tak mudah untuk mendapatkan jawab dari semua tanya ini, karena aku harus melalui puluhan masa ataau bisa juga ribuan masa untuk bisa mendapatkan penggalan cerita dari kehidupanku yang lalu. Dan itu suatu saat bisa aku dapatkan, pasti bisa. (10/02/16)


★Ell