Tampilkan postingan dengan label kotak kaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kotak kaca. Tampilkan semua postingan

12/09/2023

Asa yang Kosong

Ada satu pengharapan yang selamanya tak akan pernah tergapai bagaimanapun usaha yang di lakukan.

Bukan hanya sebatas mimpi yang hadir namun keinginan yang terdalam, namun sayangnya hingga di pengujung usia pun tak terwujud.
Impian yang begitu besar untuk anak-anaknya yang selalu menjadi doa di setiap sujudnya.
Harapan dan impian memang selayaknya berjalan beriringan tapi apalah daya bila jalan hidup bukan diri ini yang menentukan. Semua sudah ada jalannya bagaimana pun menepis memang inilah suratan yang telah menjadi pilihan hidup.

Indah untuk di ucap, namun terlalu sulit untuk menggapainya.
Apakah ini akan benar-benar menjadi mimpi... atau suatu saat ada keajaiban yang akan membuka terang untuk secerca harapan bagi mereka.
Entahlah..., semoga saja akan benar adanya bahwa ini bukan hanya mimpi ataupun harapan kosong.
Terang untuk semuanya. (09.12.23)

12/10/2022

Bimbang

Terlalu banyak yang di korbankan hanya untuk pencarian yang pada akhirnya hanya berujung semu. Keindahan yang seperti apa yang terlihat hingga sampai menyilaukan mata dan menganggap itu tujuan terakhir. Kedamaian yang seperti apa sampai-sampai menganggap  semu adalah nyata padahal hanya hembusan angin sesaat. Ketegaran seperti apa yang di janjikan hingga mampu menutup segala kata dan hanya berpusat padanya.


Kedamaian yang tak di dapat, sakit sendiri, dan menutup segala cara untuk bisa melihat apa yang sebenarnya ada di depan mata. Ini suatu kebodohan, namun entah kenapa malah itulah yang dipilih dan menjerumuskan diri sendiri pada kata 'sendiri'. Mampu berpikir namun segera menyangkal dan tetap berpegang bahwa yang dipilih adalah kebaikan untuknya meskipun pada kenyataannya bukan.

Ini tentang hati, hati yang sudah sekarat dengan segala macam keruwetan pikiran, dan 'ingin' yang selalu mampu di bungkus rapi dalam wadah ketidak pastian. Cepatlah sadar dan lihat pada kenyataan yang sebenarnya indah meskipun tak kau inginkan. Kembali dan tinggalkan yang tidak hanya menjadi harap semu. (10.12.22)

2/04/2021

11:58


Seperti terasing dan di pinggirkan. Mungkin ini hanya perasaanku saja yang mulai jengah dan tak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi. Sudah berbagai cara mencoba membunuh semua pikiran yang mulai tak setia namun itu tidaklah mudah terlebih ada di dalam belenggu yang teramat keras menjerat.

Mungkin ini bentuk dari satu kebodohan, kemunduran otak yang mempertanyakan tanya yang jelas-jelas jawabnya ya tanya itu sendiri. Buatku ini tak mudah untuk di jalani. Tak jarang pikiran kotor menyelinap membujuk naluri untuk 'mengakhiri' semuanya. Terlalu lelah bertahan sendiri, walau bagaimanapun ku coba untuk mengerti tetap saja diri tak bisa menerimanya. Hingga perlahan memilih untuk mundur sampai pada akhirnya malah terjebak di dunia yang lebih tak kumengerti. (04/02/21)

Backsound Cinta yang diam by Difki ft ariel noah

2/03/2021

11:16


Dalam jerat kepedihan, asa sarat menjadi titik cerah untuk mengakhiri.
Hilang yang tak pernah singgah namun terus saja menjadi bayang dalam perjalanan.
Ini adalah pekat, yang tak tersentuh dan terus saja mengendap menjadi hitam dan suram.
Bagaimana menghentikan...? Entah, sang waktu pun tak mampu untuk menjawabnya.
Mungkin hanya debu yang mengerti arti dari 'sirna' di hadirkan tanpa di harapkan.
Terang hanya menjadi misteri dalam kegelapan.
Seperti hidup oleh belenggu yang terus berputar tanpa henti. (03/02/21)

1/31/2021

12:05


Biarkan semuanya berubah ; rasa, emosi, pikir, dan juga jiwa. Memang semestinya seperti itu karena bagaimana pun kita menolaknya namun kemyataannya penolakan itu juga ikut berubah, hanya perlu berada di dalam perubahan itu untuk bisa bertahan. Biarkan perubahan sedikit mengikis luka, kebencian dan sakit hati yang seraya di jaga oleh waktu.

Biarkan perubahan mengikis luka untuk di hias agar tak terlihat hingga benar-benar terlupakan. Kecewa..., sebaiknya tak perlu, anggap semuanya sirna, kembali seperti dulu yang tak pernah saling menyapa dan tak tau siapa gerangan ia. Aku tak mengenal dan tak kenal. Sebenarnya ini sebuah kebodohan, cara konyol mengalihkan luka untuk tak merasakan perih, namun mampu menjadi obat untuk pengendali emosi dan menjaga kestabilan hati.

Bukan perkara mudah agar tetap bisa tenang, lebih pahit dari empedu dan teramat menyakitkan bila sudah bersinggungan dengan 'kecewa'. Mungkin bila marah masih bisa dimaafkan tapi tidak untuk kecewa, bagaimanapun meminta maaf kepingan yang sudah berantakan itu tak akan bisa lagi disatukan ataupun menjadi seperti semula, menjadi sesuatu yang unik ataupun baru pun sepertinya tak mungkin.

Kecewa. Aku tak lagi percaya dengan siapapun termasuk diri sendiri. Dan biarlah kini ku coba mengembalikan kepercayaan itu, meskipun nantinya hanya terlihat setitik tak masalah, selama diriku belum melupakanku. Itu saja. (31/01/21)

3/30/2020

Terlupakan

Yang diabaikan ada di depan mata selalu melindungi dan mencurahkan segala perhatian juga kasih sayangnya, sementara yang di rindukannya perlahan menjauh hingga kini tak terlihat dari segala sudut pandangnya.

Apakah mencintai sesakit ini....???
Tidakkah ada keinginan untuk sekedar memperjuangkan seseorang yang ada di hatinya, atau malah sesungguhnya tak ada bayangan kekasihnya di dalam pikirannya sehingga dia tanpa sungkan pergi berlalu meninggalkan seseorang yang masih berdiri di tempat semula menunggu kedatangannya.

Apakah untuk memahami itu terlalu sulit buatmu...???
Tidakkah waktu yang sudah dilewati bersama sedikit banyak membuat beberapa potongan puzzle kenangan yang tersimpan di lubuk hatimu untuk bisa kau ingat disaat mengingat waktu yang terus saja berputar. Segala kenangan baik indah ataupun menyakitkan apakah tak memiliki arti hingga dengan mudahnya kau hempaskan dan berlalu tersapu angin.

Terlalu indah untuk di kenang namun terlalu sakit untuk mengingatnya. Tak bisakah kau menoleh ke belakang untuk melihatku yang mengisyaratkanmu agar segera kembali di hadapanku. Tak bisakah sejenak merenungkan segala janji yang telah kita sepakati untuk cinta yang akan selalu ada selamanya, bukankah itu indah (menurutku, entah denganmu).

Kau terlalu tinggi untuk di jangkau kini, terlalu berat untuk di rindukan dan terlalu indah hingga selalu memujamu. Namun tujuku di kamu apakah masih boleh..., karena hingga saat ini kamu adalah alasan untukku bertahan. Hidup yang ku usahakan untuk bahagia, semara-mata karena ada kamu di dalam mimpiku.

Aku yang tak pernah lelah untuk bisa meyakinkan diri bahwa kamu adalah yang terindah dan satu-satunya yang ku inginkan. Hal yang membuatku besar untuk terus bermetamorfosis agar bisa menyetarakan dan terlihat baik dimatamu. Itu saja.

Aku yang tak pernah bisa lepas dari bayangmu di pikiranku.
Aku selalu mendambamu, karena kamu seseorang yang sempurna di mataku. Aku yang berharap untuk dapat memilikimu seutuhnya, apakah kamu bisa memberikannya padaku mimpi itu....???? (29/03/20)

1/24/2020

Belajar Tersenyum Untukmu

Pergilah bersama mimpi bila itu membuatmu bahagia. Aku sadar mimpi-mimpi yang pernah ada hanyalah sekedar bunga tidur yang hanga akan di ingat samar-samar ke esokan harinya, lalu menghilang. Aku tahu posisiku dan dimana harus bersikap, karena aku bukanlah pemeran utama atau pun pendamping, aku hangalah pemeran pembamtu yang hadir sekilas itu pun tak diperbolehkan terlihat secara gamblang.

Merelakanmu pergi bukan berarti janji terlupakan, itu tidak benar, karena janji itulah kini kurelakan kau pergi walau di dalam hati tak rela dan merasa sakit. Aku rela jika itu membuatmu bahagia. Aku tak ingin menjadi bebanmu, menjadi penghalang, dan jadi alasan kesedihanmu. Tak perlu kau pikirkanku. Sungguh ku ijinkan, gapailah semua impian dan ambisimu, aku disini hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu.

Pergilah cinta.
Cintaku tak seegois apa yang terlihat. Merelakanmu jangan beranggapan cintaku telah sirna. Sungguh, dari lubuk hati ku cinta ini masib tumbuh subur, namun demi kebahagiaanmu pergilah dan cari seseorang yang benar-benar menjadi tambatan hatimu, untuk pelabuhan hatimu, cintamu gak akan sia-sia. Akan tetap terjaga walaupun pada akhirnya nanti akan terbungkus oleh waktu, namun yakinlah hatiku tulus saat melepaskanmu. (23/01/20)

1/23/2020

Terpaku dalam diam

Ini bukan tentang cinta tak terbalas, bukan tentang penghianatan, ataupun tentang akhir cinta, melainkan tentang 'diam'.

Sesak yang terasa di dalam hati ini, hingga pikiran yang tak jarang meronta memberontak dengan ketidak berdayaan. Bagaimana cara untuk memulai, memperjuangkan apa yang sudah ada untuk bisa kembali pada jalur yang semestinya ; tak ada, sama sejali tak menemukam keberanian terlebih rasa frustasi dari himpitan beban dari setiap permasalahan kehidupan membuat semuanya semakin lengkap menjadi satu paket 'sendiri'.

Aku menginginkanmu, namun ada beberapa hal yang membuatku tak berani untuk kembali mendekat. Bisa jadi ini adalah ketololan dari ego yang sekarang berada di puncak, dimana ingin menjadi seseorang yang benar-benar di perjuangkan (seperti mimpi di siang bolong) tak merubah apapun dari pikiran yang menggelayut yang selalu saja demo untuk menyuarakan hati yang perlahan menjadi sepi, entah sekarang apakah sudah menjadi batu bahkan terkesan sedingin di kutub utara.

Diam..., dari mana semua bermula akupun tak tau, yang pasti seketika itu juga menjadi tenang tanpa suara. Perlahan-lahan dan hingga akhirnya benar-benar sunyi senyap bahkan sama sekali tak terjamah. Mungkin saja sudah di tinggalkan penghuninya, aku tak tau.

Inilah hidup yang penuh dinamika, sarat dengan pencobaan yang seakan tak pernah berhenti bahkan sesekali datang bersamaan ataupun silih berganti. Dari sinilah bisa dilihat bagaimana kokohnya pertahanan hingga nyaris tak tergoyahkan, tapi itu bukanlah aku. Tak ada ketenangan, bahkan berkali-kali menyuarakan keinginan untuk menyerah hingga akhirnya terjelembab dan terpuruk di dasar yang terdalam.

Suatu pencobaan yang tak pernah mendewasakan, atau bisa dibilang menolak untuk dewasa. Hanya sekedar ingin bersandar tapi apalah daya tak ada tempat untuk menghela nafas. Aku berfikir apakah sedemikian kompleksnya hidup ini...., perlahan mencoba kembali mengingat semua yang sudah terjadi ketika kecil hingga kini dan tersadar bahwa sampai detik ini pun tak ada kepercayaan untuk apa yang sudah terjadi.

Apa yang terjadi adalah akibat dari ku. Ulah arogan, hingga menjadi orang pang kejam dan paling jahat. Tanpa ku sadari inilah aku yang sebenarnya. Seorang yang memuakkan dan kejam, itulah aku penghianat yang lelah namun terus saja membantai jiwa yang rapuh. (22/01/20)

1/07/2020

21:23

21:23
Apakah cinta sebegini rumitnya untuk bisa dipahami...
Apakah rindu sebegini perihnya hingga menyesakkan dada...
Apakah perjalanan menuju seseorang begitu jauhnya hingga tak pernah bisa melihat jalan di depan yang berliku...
Apakah masih ada aku untukmu...
Apakah masih ada lembaran kosong untuk cinta...

Aku ingin bersandar dari lelah yang menghimpit jiwaku
Aku ingin sebuah pelukan dari lelah yang tak sanggup lagi menjadi bebanku
Aku ingin suatu genggaman dari tangan yang hangat untuk lebih meyakinkanku bahwa aku masih berpijak di bumi

Aku bukanlah sebuah persinggahan, jadikan suatu tujuan hidupmu
Aku adalah jiwa yang terus berkelana hingga terkadang lupa raga
Aku ingin melihat tatap keteduhan untuk meyakini masih ada hari esok yang lebih cerah
Aku adalah aku, yang tak jarang bisa memahami diri
Aku adalah keegoisan yang hakiki. Rupa dari dimensi ruang tak terjamah oleh waktu.
Aku menjadi penjelajah abadi walaupun sejatinya tak menginginkan seperti itu, karena aku adalah jari kanan yang tak bisa ditawar dan di ubah bagaimanapun juga. (05/01/20)

12/29/2019

Tak memihak

CUKUP...
Tolong, jangan lagi mendesakku untuk mengumpat. Terlebih dengan hal-hal yang sebenarnya tak perlu di ungkit dan sudah tersimpan rapat. Aku sudah menerima semua yang terjadi dan meyakini inilah yang terbaik, jadi jangan lagi memprovokasi agar ku mengingat semua yang sudah berlalu.
Walaupun sebenarnya semua itu menyakitkan tapi bisakah untuk membungkam agar tak bertanya dan jangan lagi mencoba untuk memancing. Kalau kau tidak suka lebih baik diam jangan ikut campur yang bukan wewenangmu. Semarah apapun dan bagaimanapun kau tidak suka tolong dengan teramat sangat kumohon bisakah DIAM. Jangan lagi memperkeruh suasana hatiku.

Biarkan saja seperti ini. Kalaupun aku terpuruk, biarlah kusendiri memikul penderitaan, kalaupun aku terjelembab dan terasingkan bahkan menjadi fosil biarkan saja jangan sekali-kali ikut campur ataupun mencoba menasehati. Karena apa yang kau katakan bukan menenangkan malah semakin menyulut emosi dan parahnya tak kau biarkan sebelum benar-benar berkobar sampai memporak porandakan otakku yang sebenarnya sudah kacau.

Bila kau memang peduli, aku mohon. Tolonglah diam dan biarkan seperti ini adanya. Maaf, bukan bermaksud mengabaikan tapi mengertilah. Aku suka kau peduli dan memberi nasehat namun berikan yang benar jangan malah membuat semuanya semakin kacau. Aku hanya sendiri, kalau memang benar peduli cukup tetap berada di sampingku dan jangan katakan apapun kalau hanya itu akan semakin menambah down.

Aku tau dimana yang salah dan seperti apa seharusnya namun aku belum siap untuk bertindak. Aku masih sangat lelah, belum benar-benar bisa menerima kenyataan yang aku alami bahkan percaya ini semua terjadipun tak mampu aku memikirkannya. Ini teramat sadis dan menyakitkanku, maka dari itu tolonglah.... kalau tidak benar-benar peduli diam, jika ingin menolong maka bantu aku berdiri. Ingatkan tentang hari esok yang indah, berikan cerita yang sedukit membuaiku dengan sindiran tajam namun tak melukai egoku. Itu lebih baik dan aku berterima kasih kau peduli. (28/12/19)

12/19/2019

Seperti di hantam batu (dikepala)

Terasa semakin menyesakkan dan semakin perih.
Sementara air mata tak lagi ada, telah mengering sudah
Apakah benar-benar air mata tak seteteapun tersisa...
Lalu bagaimana cara untuk menuntaskan beban yang menyesakkan dada ini...

Yang ada di pikiran selalu saja ingin mengakhiri nafas sampai disini agar tak lagi menyusahkan dan tak lagi ada kecewa olehku.
Atau nyawaku pun sudah tak bisa menjadi jaminan dan tak berharga...
Aku ingin bebas...
Aku frustasi oleh hidupku...
Aku yang tercampakkan, untuk itulah perlahan menarik diri dari semua orang
Tempatku bukan lagi di sini. 

Perih dari dalam hati, masih bisa terasa ke sekujur tubuh hingga ke tulang.
Aku lelah yang teramat lelah, ingin menyudahi semuanya, karena bersandarpun tak lagi ada sementara kedua kaki tak memiliki arah. (18/12/19)

11/11/2019

Sepatah kata yang hilang

Aku tak bisa menggenggam dengan benar hingga membuat yang ada di dalam kepalan tanganku jatuh entah dimana tak kusadari jika itu terlepas dari tanganku. Bingung juga ketika mau di genggam erat takut malah akan meremukkannya namun ketika genggaman dirasakan pas pun tetap saja tak ada di tangan waktu ku sadar.

Sepanjang jalan tercecer sedikit demi sedikit dan perlahan mungkin itu juga yang membuat longgar genggamanku. Tak lihai dan tak terbiasa menggenggam sampai-sampai berbuat ceroboh menghilangkan yang sudah di genggaman. Apakah perlu di letakkan dalam plastik sebelum digenggam...???! Tapi bukankah itu malah berasa menyedihkan dan hanya memberikan ruang kecil dengan sedikit oksigen juga sedikit gerak di dalamnya apakah itu tidak membuatnya tersiksa.....

Lalu harus bagaimana seharusnya memperlakukan dengan benar tanpa melukai objek dan tidak membuat waswas sang subjek. Ini adalah salah satu bentuk keterampilan, namun berhubung aku ga terampil malah bisa dibilang ceroboh, teledor maka tak sepantasnya mendapatkan kesempatan untuk sibuk dengan genggaman itu. Ya begitulah.... kini yang ku maupun tak sepatutnya kudapatkan karena itu tak ada (hanya mimpi semu) (10/11/19)

11/10/2019

Sakit yang kembali

Kenapa ini kembali lagi. Dada ini rasanya sakit banget seperti tergores benda tajam hingga terkadang sampai sesak napas. Mengapa ini terjadi lagi ???! Ada apa sebenarnya....
Dulu waktu masih kecil dari SD sampai SMP aku sering banget mengalami ini, terutama ketika masih SD sesak napas yang ga ketulungan sakitnya (bukan asma) sampai membuat jari-jari kram yang cukup lama dan benar-benar sakit tapi menginjak dewasa berangsur menghilang bahkan sama sekali tak pernah lagi merasakan. Tapi beberapa minggu ini mengapa perasaan seperti ini kembali datang. Sakitnya seperti teriris dan terbakar. Beberapa hari lalu di waktu malam kambuh, rasanya weeeeeh sangat sakit uluhati seperti mau di copot paksa beneran sakit ga ketulungan sampai berpikir apakah aku mau mati.... apakah ini sisa nafas terakhirku....?! (09/11/19)

11/05/2018

Bimbang


Dari beberapa hari lalu muncul kebingungan mau pulang kapan? Ada rencana sebelum pulang ke rumah ingin ketemu yongsa dulu sehari baru pulang semarang, tapi hingga saat ini pun belum bisa menentukan kapan mau pulang. Pikiran mulai bercabang, di satu sisi ingin bertemu yongsa disisi lain ada bapak yang sudah ga sabar ingin aku pulang.

Kebingungan ini pun berlanjut dari hari-kehari sampai hari ini aku coba putuskan untuk pulang besok minggu. Belum ada yang tau tentang rencana kepulanganku pastinya karena sejauh ini aku mengundur kepulangan untuk membantu berlangsungnya acara misa namun karena acara di undur hampir 2 mingguan makanya secepatnya harus pulang karena disinipun ga ada yang bisa aku kerjakan. Pada intinya sudah ga nyaman berada disini.

Dan akhirnya ketika kembali lagi bapak bertanya mau pulang kapan, dengan sedikit ragu namun mantap aku jawab "minggu". Namun untuk berpamitan ada sedikit rasa canggung. Sampai pada hari H pun aku belum berpamitan bila akan pulang. Masih menyimpan asa untuk bisa bertemu yongsa tapi...., aku ga mau berharap banyak karena mengingat sudah setengah bulan lebih aku meninggalkan rumah dan saat memutuskan untuk tinggalpun sepertinya bapak enggan melepaskan namun berhubung situasi dan keadaan dengan sedikit penjelasan akhirnya bapak setuju untuk membiarkanku tetap tinggal.

Dalam hati masih berharap punya keberanian esok pagi ijin ke bapak untuk dibolehkan main sehari ke Jogja. Memikirkan itupun rasanya sudah degdegan, bagaimana cara bilang ke bapak?! Semakin dipikir kepalaku malah pusing, kalau tidak di pikir tidak menemukan alasan yang pas. Dilihat saja esok akhirnya bagaimana. Semoga ada keberanian untuk ijin ke bapak dan di bolehlan, karena aku tidak suka mendapat jawaban yang tidak seperti yang aku inginkan, itu mengecewakan terlebih ketika sudah berharap banyak dengan mendapat jawaban yang baik. Aku tidak siap sakit hati. (04/11/18)

10/14/2018

Luka

Perasaan yang ditimbulkan tak sebanding dengan rasa sakit yang di alaminya.
Sesal sekerika menumbuhkan rasa yang dirawatnya selama ini.
Benci menggerakkan emosi untuk terus mencaci.
Perasaan yang hancur sekerika hati mematikan nalar dan logika terlebih hati.
Terjelembab dan sekerika dunia menjadi hitam kelam tak berpenghuni.
Dunia yang kubangun seketika runtuh dan aku teramat sangat membencimu.

Dia...
Dia yang sudah mengambil paksa hatiku, namun seketika melemparkannya kedalam kubangan.
Membusuklah kau di dalam dunia kelammu.
Hingga cacing-cacing akan menelan habis ragamu tak tersisa.
Kau hanya sampah di dalam comberan.
Terkutuklah kau penganiaya hati. (13/10/18)

Kembali luka

Bertahan dalam kesendirian mengenang luka yang kau goreskan.
Sudah hitungan tahun peristiwa itu berlalu, namun masih saja terlintas dengan jelas segala amarah dan sumpah serapahmu itu.
Tuduhanmu membawaku pada perasaan bersalah yang mendalam.
Hatiku luka, hancur seketika itu dan sampai sekarang sepertinya masih berantakan (13/10/18)

Menembus Batas Wajar

Dia hadir tidak serta merta kau pedulikan.
Segala macam sinyal yang diberikan tak kau mengerti bahkan kau indahkan.
Kemudahan yang terbungkus debu tak terlihat dimatamu.
Namun, seiring waktu pelangi itupun datang mengubah pandanganmu, merubah cara pandangmu dan pola pikirmu.
Keindahan yang kau rasakan begitu hangat hingga kau terbuai dan tak ingin melepaskan.
Disanalah seharusnya kamu berada, di dalam pelukan yang sudah lama kamu impikan.
Keindahan yang tiada batas waktu. (13/10/18)

Tentang Cinta

Mereka hadir karena cinta
Mereka ada atas dasar cinta
Mereka bersama cinta yang menyatukan.
Mereka pergi dan berpisah dengan alasan cinta.
Cinta menjadi dilematika kehidupan. (13/10/18)

10/09/2018

Gulita

Berapa lama lagi keadaan seperti ini akan berakhir. Benarkah tidak ada lagi setitik cahaya tersisa untukku? Tak kusangka perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan hingga terkadang membuatku sulit bernafas. Masih adakah jalan yang bisa kulaui, masih adakah persimpangan yang bisa kupilih, karena yang kulihat kini hanya abu-abu.

Aku frustasi menghadapi semua ini, sudah tak ada lagi yang tersisa terkecuali nyawa dan raga ini. Ternyata memperjuangkan itu sulut bahkan teramat sulit untukku saat ini.

Ingin rasanya lari menghindar, namun sudah tak ada tempat untukku bersembunyi. Kucoba yakinkan diri untuk bertahan sebentar lagi tapi waktu tak mau berkompromi. Aku lelah hingga ingin mengakhiri semuanya. tapi apa daya tak ada lagi keberanian yang tersisa untuk itu.

Harus bagaimana lagi untukku menjalani hidup bila pandangankupun sudah kabur dan perlahan mati rasa. Apakah masih ada yang tersisa?
Apakah masih ada harapan untuk kujadikan pegangan?
Apakah bisa dengan sekedip mata semua perlahan membaik?
Sepertinya hanya keajaiban dari Tangan Tuhan yang bisa merubahnya menjadu tawa bahagia, semoga keajaiban itu cepat datang dan nyata untukku. (08/10/18)

9/29/2018

Makna dibalik tanya

Terkadang sering muncul pertanyaan menggelitik setelah mendengar pertanyaan dari bapak
"Bank ga lungo?"
"Enggak"
"Dolan mall opo ngendi kono" kadang memberi info di tempat-tempat yang mengadakan acara
"Neng mall ngopo?"
"Tuku opo kono seng disenengi, dolan neng endi to?"
"Emoh"
"Neng omah yo nopo?
"Neng mall yo nopo, mending neng omah?"

Mengapa malah pertanyaan semacam itu yang datang??? Bila dipikir-pikir aneh juga, secara yang lain kena marah karena jarang di rumah atau main ga kenal waktu tapi.... ini malah disuruh main, bahkan sampai mau dibayari pula.

Walaupun pertanyaan itu dari dulu sering ku dengar namun akhir-akhir ini lebih sering banget datang. Apakah aku memang sudah banyak berubah,... hingga ada kehawatiran berlebihan.

Izinkan aku menyatu dengan alam hingga aku bosan. (29/09/18)