11/18/2014

Love - Pertemuan

Senja mulai beranjak ke peraduannya untuk mengucapkan selamat malam kepada gelap yang merayap menggantikan jingga yang merona.
Seorang perempuan yang lagi asik dengan leptopnya, handsat di telinga sedangkan televisi juga menyala yang sesekali mampu mengalihkan pandangan dari layar mungil yang ada di depannya. Beberapa kali mututnya menyuarakan kalimat lirih terdengar, sepertinya ia lagi mendendangkan lagu yang di dengarnya dari handsat tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan tingkahnya sedaritadi.

" Permisi, embun-nya ada..." Sapa seorang pemuda dengan senyum-senyum kecil melihat tingkah perempuan yang ingin di temuinya.
" Ya ..." Perempuan yang lagi asik dengan leptop dan aerphone di telonga itu pun menengok ke arah sumber suara.
Mematung. Seperti tak percaya dengan apa yang di lihatnya, hingga matanya pun lama tak berkedip menatap seorang pemuda yang sudah lama dirindukannya dan kini tiba-tiba berada di hadapannya.
" Boleh masuk... " Suara pemuda itu seketika membuyarkan lamunan Embun yang masih tak percaya dengan yang di lihatnya.
" Silahkan... Silahkan masuk mas..." Embun mencoba berdiri untuk mempersilahkan Bintang masuk,
" Aduh..." Karena kurang hati-hati mengakibatkan kaki Embun terbentur meja ketika akan berdiri.

" Hati-hati, sakit..." Tanya Bintang yang sudah duduk di kursi panjang warna coklat yang ada di samping Embun.
Embun hanya menggeleng meskipun masih mengelus-elus kakinya yang terantuk meja. Melihat senyum Bintang tiba-tiba saja jantung Embun serasa berdetak lebih cepat dari biasanya, Embun salah tingkah dan gak ngerti meski bagai mana memperlakukan tamu istimewanya ini. Sedangkan Bintang meskipun gugup namun sepertinya lebih menguasai keadaan, terlihat tenang dengan senyum yang mengembang.

" Lagi ngapain..."
" Biasa lagi dengerin musik, mas mau minum apa..."
" Ga usah ..."
Sebentar ya, Embun pun beranjak meninggalkan Bintang sendiri. Pandangan Bintang mengitari ruangan bernuansa hijau yang ga begitu luas itu, tak terkecuali dengan hiasan, leptop dan handphone yang tergeletak di meja. Senyumnya sesekali mengembang, entah apa yang ada dalam pikiran Bintang saat itu.

Di dapur Embun masih mencoba untuk menenangkan degup jantungnya yang sedang bersuka ria, seperti kembang api yang meledak memancarkan keindahan dengan aneka warna yang ditimbulkannya. Beberapa kali Embun mengambil napas panjang sambil memegangi dadanya agar tak berdetak semakin kencang. Mencubit tangannya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi, dia pria yang sudah lama dirindukannya kini hadir begitu dekat  dengannya.

Tak berapa lama Embun datang membawa segelas teh hangat beserta cemilan untuk Bintang. Bintang yang melihat kemunculan Embun dari balik tirai tak henti-hentinya memandangi Embun hingga membuat Embun salah tingkah, untung saja minuman yang dibawanya ga tumpah karena sempat goyah karena "grogi" daritadi pria di hadapannya itu memandanginya tanpa berkedip entah apa yang ada dalam pikirannya.

" Silahkan di minum mas..." Sambil malu-malu Embun mempersilahkan Bintang meminum teh buatannya.
Bintang pun segera meraih cangkir teh yang ada di meja dan meneguknya dengan pandangan yang masih terarah pada wanita di sampingnya sementara yang di lihat hanya bisa tertunduk malu.
Untuk menutupi ke-grogiannya Embun membereskan leptop dan kertas-kertasnya yang ada di atas meja.

" Nulis apa kali ini... " Bintang bertanya kepada Embun yang masih sibuk memberekan barang-barangnya di atas meja.
" Enggak ada, cuma browsing aja lihat-lihat gambar "
" Sepertinya sudah lama enggak ada coretan terbaru ya, kenapa..., sudah bosan atau gimana " mendengar ucapan Bintang serentak Embun menghentikan aktifitasnya dan memandang Bintang penuh lekat.
" Mas kok tau kalau sudah lama ga ada coretan yang tayang..."
Bintang hanya tersenyum sambil menatap lekat Embun, sedangkan yang di pandang malah semakin salah tingkah dengan pandangan tajam Bintang
"Mas selalu mengikuti coretan kamu, hampir tiap hari mas mampir ke blog"
"Beneran.... "
Embun yang mendengar pengakuan dari Bintang tersipu-sipu tidak tau lagi ingin berkata apa deg deg-an dan rasa senang masih belum bisa membuatnya percaya bahwa orang yang selama ini di rindukan sekarang berada di dekatnya, berada di sampingnya dan ia lihat dengan dekat.
"Hahahahaa.... "
"Kenapa mas tertawa..." Tanya Embun yang melihat Bintang tertawa, sungguh senyum dan pancaran mata itu membuat Embun terkesima. Manis dan menyejukkan inilah salah satu hal yang membuat Embun mengagumi dan menambatkan hatinya pada pria yang sudah 2 tahun lalu dipacarinya.
"Ga ada, say sehat kan... Sekarang agak kurusan kelihatannya diet ya"
"Enggak, mana mungkin kan mas tau sendiri dari dulu cuma bisa bilang diet tapi ga pernah terealisasi"
"Iya, mas ingat. Ga usah diet kurangi ngemilnya saja. Yang penting sehat"
"Makasih mas"

Pertemuan yang tak pernah di duga Embun, dia yang sudah lama tak ada kabar dan tak terlihat kini berada bersamanya sangat dekat bahkan tak berjarak. Tak percaya dia datang, apakah aku bermimpi..., bila benar jangan bangunkan aku, biarkan aku menikmati momen kebersamaan yang sangat indah ini selamanya. Aku ingin menuntaskan cerita hingga sampai akhir hingga nafas ini tak lagi ada, Biarkan aku menuntaskan rindu dalam diam yang selama ini hanya bisa dikatakan angin malam kepada bintang di langit. Pertemuan yang sudah sejak lama di impi-impikannya.