9/15/2015

Y ~ Untuk Maaf


Dua hari yang lalu kita mulai saling diam, bahkan hari ini pun tidak ada saling sapa seperti biasanya. Sepi, namun untuk memulai aku masih belum berani terlebih ketika yongsa mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu untuk diriku itu membuatku semakin takut untuk menyapamu.


Ya kamu benar yo aku kehilangan diriku sendiri, merasa kosong dan tak mengerti apa yang harus dilakukan terlebih yang sedang terjadi pun aku sama sekali tak paham. Namun aku ga bisa hanya melihatmu, menghadirkan sosokmu saja, aku tak bisa yo.


Berkali-kali aku melihat dan membaca ulang percakapan yang kita lakukan jauh-jauh hari yang begitu akrab dan tampak menawan menurutku. Apakah ini hanya aku yang mengalami kegelisahan yang tak bisa meeyapamu atau kamu juga mengalami hal yang sama sepertiku sekarang yo. Aku takut, takut jika perlahan kita akan diam seperti kejadian waktu itu yang membuat kita saling diam dan merasa asing. Meskipun saling sapa namun ketakutan dari rasa tidak kuat untuk menerima penolakan lah yang membuatku mengurungkan niatku. Aku yang tak bisa lepas denganmu saat ini, aku yang mulai terbiasa lagi dan hampir sepanjang hariku selama mata ini berkedip selalu berintaraksi denganmu.

[19:25] Y: Yoo. Aku minta maap.
[19:49] A: Dalem. Maap buat apa yo
[20:10] Y: Untuk menjelaskan dan menjabarkan semua kesalahanku, mungkin semaleman ndak kelar.
Aku menyadari kesalahan itu, sepertinya kamu juga tau akan kesalahanku ini. Aku yakin kamu sempat merasa kecewa / bahkan sakit hati.
Jadi masihkan kamu ingin aku bercerita tentang kesalahanku itu?
Aku rasa kamu ndak akan tega melihatku sedih ketika aku membuka kesalahan ku itu.
Aku benar-benar minta maap.
Ya, memang terasa aneh, meminta maap tapi tidak menjelaskan kesalahan ini.
Sekali lagi aku minta maap.
[20:12] A: Beneran yo aku ga ngerti salahmu dimana
Kalau obrolan terakhir itu aku cuma tau kalau kamu udah merasa frustasi ga bisa nembus ruang hitam
Ya mungkin kamu benar karena rasa takut udah begitu menguasai sampe aku sendiri merasa seperti pecundang

[20:17] Y: Banyak, banyak banget. Salah 1 nya aku ninggalin kamu disaat kamu butuh, yaa dihari sabtu kemarin. Aku pernah berkata aku akan ada dan temanimu.
Nyata nya aku ndak bisa.
[20:21] A: Seingatku sabtu kamu ga ada janji apa-apa. Itu semua hanya perasaanmu aja yo
[20:23] Y: Sebelum hari sabtu. Kalau ndak salah hari rabu, yang aku bilang waktu nya hari sabtu, tenang saja , aku akan temani kamu. ~ gitu.
Dan ternyata dihari sabtunya aku malah ndak ada.
Intinya aku minta maap. Apapun keputusanmu ya aku terima.

[20:26] A: Ga inget
[20:27] Y: Ya sudah ndak apa-apa.
[20:27] A: Setauku selama ini kmu udah coba nemeni, bahkan kemaren-kemaren juga kamu udah brusaha datang tapi emang ada sesuatu yang seperti membayangi
Ya memang sabtu itu aku marah itu karena kamu seperti ga percaya kalau aku ga inget apa yang terjadi pas tidur. Tapi itu beneran aku ga inget yo bahkan sampai aku coba berkali-kali tiap bangun tidur mengapa tidur di tempat ibuk malah badanku sakit banget tapi tetep ga ketemu
[20:31] Y: Hmzz.
Ternyata memang sulit ya untuk menebus kata maap. :)
[20:32] A: Kamu jangan bikin aku tanbah bingung yo
Oke kalau kamu hanya ingin maap aku maap kan walaupun aku ga ngerti untuk apa
[20:34] Y: Terimakasih yo
[20:35] A: Iya


Dan tidak ada lagi percakapa. Kita kembali menjadi diam, memilih untuk mendekat kepada sepi di kelamnya malam.
Harus bagaimana lagi cara untuk menjelaskan, hanya air mata yang menjadi penerjemah dari segala gejolak yang terjadi di malam ini. Tak bisakah sedikit kau mengerti tentang ku saat ini, bukankah setiap apa pun yang terjadi biasa kubagi denganmu tapi bila aku sendiri tak bisa mengingat semuanya apa itu juga kesalahanku apakah harus aku membongkar isi kepala biar bisa tau tersangkut dimana gerangan mimpi-mimpi itu, sungguh saat ini kau tak bisa aku mengerti.



Apa sebenarnya yang kamu inginkan, aku sakit yo dengan caramu seperti ini. Apakah hanya maaf yang kamu inginkan, tak adakah niat sedikitpun untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Wahai hujan di sudut mata, mengapa engkau juga tak bisa berkompromi, mengapa tak bisa kau (air mata) simpan semua kesakitanmu untuk beberapa saat saja, aku tak ingin menangis di malam ini tapi mengapa ada hujan di sudut mataku yang seakan tak bisa berhenti. Mengapa selalu kau perlihatkan lukamu pada saat itu juga, bisakah kau biarkan pelangi ketika luka itu datang wahai kesedihan. Aku tak ingin terlihat rapuh dimata siapa pun, aku hanya ingin memberikan pelangi kepada semua orang jangan kau perlihatkan hatimu yang membiru. Jangan lagi ada tangis setelah malam ini untuk jiwa yang kesakitan.


Ingin melihat apa yang ada di otakmu, apa yang sedang kau rasakan di dalam hatimu apakah sama dengan yang aku rasakan terhadapmu yo...?! Aku menangkap ke jengkelan dalam dirimu, entah karena aku atau karena selama ini kamu sudah berulang-ulang mencoba namun tetap saja ga bisa menembis sekat yang membatasi kehadiranmu di tempahku. Aku tak melakukan apa-apa untuk menghalangimu datang karena aku juga tak bisa bebas menengokmu sesuka hati

Masih dengan air mata yang tak bisa berhenti aku mainkan jemari ini di barisan aksara untuk menyuarakan hati yang berontak 'aku tidak begitu yo' terus saja kata keluar dengan cepatnya seperti emosi yang meluap dan menghalau segala pakem menghalangi. Tak peduli, terus saja bersuara sampai di tanda titik di penghujung kalimat namun itu juga belum bisa menenangkan hati ini sehingga aku coba sekali lagi menorehkan barisan kata di note ped yang ada di telepon genggamku. Entah apa yang menjadi kegusaran hatiku apakah karena aku merasakan mood yongsa yang saat ini juga lagi meninggi atau kata maaf yang di ucapkannya bisa juga karena aku yang tak bisa mengenali diriku sendiri. Ya memang ga seharusnya aku menyalahkan yongsa bila alasan terakhirlah yang benar, namun jika alasan lain pun yang benar tak seharusnya juga aku menyalahkan orang lain atas air mata yang keluar karena segala yang terjadi padaku adalah sepenuhnya tanggung jawabku bukan orang lain. (14/09)