4/09/2021

14:12

Bila melihat terpuruk mejadi kebanggaanmu, selamat kau berhasil.
Bila melihatmu terluka adalah tawamu maka lakukanlah itu.
Bila pergi adalah satu-satunya yang kau inginkan, beranjaklah.
Dan bila melupakanku menjadi sepenggal cerita masalalu yang perlu kau hindarkan tutuplah serapat-rapatnya.

Meskipun pedih menahan sakit yang tak bisa di lukiskan, hati ini selalu fasih mengingat wajahmu dan menyuarakan namamu tetap bergema. Selamat..., kau sudah berhasil memporak porandakan hatiku, menghancurkan hidupku, dan menghabisi semua mimpi dan imajinasiku.

Rasa sakit ini biarlah kutanggung sendiri tanpa perlu orang lain tau ataupun kau merasakannya, akan ku usahakan untuk menginci rapat sesak di dada agar tak sampai kepadamu.
Hancurku karna ulahku, dan karena kebodohanku yang mempercayai ketulusan dan cinta yang sejatinya sama sekali tak ku yakini itu ada untukku. Hari yang terus berganti, namun rasa sesak tak mau beranjak perih, sakit di dada seakan menjadi cambuk akan kebodohanku selama ini.
Ini menjadi konsekuensi dari pilihan, sakit karena mencintai.

Apakah memang tak boleh ada cinta di dalam jalan hidupku...???! Dan kini aku pun bingung harus mengabdikan diri pada siapa, meskipun ku tau hidupku bukan milikku namun adakah secuil cerita tentanggu dalam salah satu bab yang telah tersusun rapi..., oh ya aku lupa siapa aku, dan tak sepatutnya mengharap keajaiban untuk seseorang datang dan memberikan kebebasan itu. Maaf, aku tidak terprogram untuk itu. Aku hanya biduk catur yang akan bergeser sesuai aturnya.

Aku ingin bebas dan mengukir ceritaku sendiri. Terasa sesak dan ingin akhir dari segala sesak yang tak hentinya membelit hidupku. (09/04/21)