Kangen lagi, lagi lagi kangen... saat ini aku lagi dilingkupi rasa kangen oleh masa lalu, juga dari hal yang baru akhir-akhir ini terjadi.. Tapi ada satu hal yang teramat sangat membuatku kangen. Masa yang sulit banget dimana tak bisa untuk diulang. Bahkan bisa jadi itu semua tak mungkin mengulangnya. Sesuatu yang hanya bisa terjadi sekali saja. Takkan bisa terjadi lagi.
Aku ingin merasakannya sekali lagi.. Ya, sekali saja. Kurasa cukup satu hari untukku bisa merasakan apa yang hingga kini menjadi kenangan, itu sudah lebih dari cukup buatku. Setelah itu mungkin aku bisa lega dan akan aku mengucapkan terimakasih pada kesempatan dan mulai berhenti mengejar asa pada kenangan yang tertinggal. Membiarkannya bersembunyi di kotak pendora dan meletakkannya di sudut hati yang terdalam bersama tumpukan kenangan yang lain.
Aku bukan tipe orang yang bisa mengutarakan apa yang aku inginkan. Mengutarakan bahwa aku ingin mengulang setiap detik yang telah terlewati yang memberi kesan mendalam padaku. Aku termasuk orang dengan tipe pemendam. Walau bila berbicara asal nyablak, ceplas-ceplos sepontan mengutarakan apa yang ada di pikiran, tapi aku bukanlah orang yang blak-blakan bila sudah menyangkut masalah perasaan, masalah keinginan. Merkipun sekilas terlihat sombong dengan sedikit songong namun sebenarnya aku adalah salah satu yang mendapat predikat aneh dari orang-orang. Mood yang mudah dibaca oleh siapapun dari raut mukaku, bisa dibilang cerewet namun begitu tetap saja aku tak bisa berbagi bila sudah membicarakan rasa. Ya, mereka benar. Aku memang pribadi yang unik. Yang lebih suka mendengarkan daripada bercerita hal pribadi.
Aku paling tidak bisa mengungkapkan isi hati ku secara lisan. Sepertinya otak dan mulut ini memang terprogram selalu tidak sinkron. Karena itulah, aku hanya bisa menyimpan berbagai kenangan di dasar hati yang sesekali akan memberi sinyal ke otak ketika muncul ke permukaan, hanya bisa mengenang tanpa bisa memintanya terulang lagi. Tak pernah bisa menterjemahkan rasa dengan lisan, walau pun sudah di ujung lidah, takkan pernah bisa keluar.
Mungkin salah satu alasan aku menjadi tipe pemendam ini karena aku selalu merasa jika aku bicara dan meminta hanya akan menyulitkan orang lain. Sesulit apa pun memilih memecahkan segala kebimbangan itu sendiri, diam dan mengendapkan permohonan itu hanya sebagai sinyal ke dalam pikiran saja. Meskipun tak jarang ketika aku tidak berbicara, justru kejadiannya akan lebih menyulitkan lagi. Tapi tetap saja aku masih tak bisa berbicara, bercerita dengan renyahnya apa yang menjadi buah pikiran, seperti mereka meskipun terkadang ada dorongan untuk berbagi namun tetap tak bisa. Setiap kata yang sudah berbaris rapi tiba-tiba tersangkut di tenggorokan dan terbang bersama helaan nafas.
Jujur aku sangat sering merasakan sakit, dilema, gundah gulana karena aku tidak pernah bisa mengutarakan apa yang aku rasakan. Aku sangat menginginkan sesuatu, tapi aku tidak mampu mengutarakan bahwa aku inginkan itu. Aku hanya bisa berbicara dalam hati atau hanya mengkhayalkannya. Berandai-andai mendapatkannya atau mencoba mendapatkannya sendiri. Memupuk pimpi meskipun tak jarang menghempaskannya kembali menjadi kepingan yang tak berbentuk.
Seperti akhir-akhir ini. Aku kangen dengan satu hal, tapi aku tak berani untuk mengutarakan. Menyimpannya saja sendiri.
Wahai teman-teman yang mengenalku cobalah ingat kapan terakhir kali aku membicarakan perasaan dengan kalian... "ga pernah". Mungkin ada yang berpikir, kalau aku tidak bisa mengutarakan satu permemintaan apa yang aku inginkan, kenapa aku bisa curhat dengan tulisan? Ya begitulah. Aku tidak bisa mengungkapkannya secara lisan dengan mulut namun sama sekali tak mengalami kesulitan untuk mengungkapkan lewat tulisan. Otakku sepertinya sepaham, seirama dan hanya sinkron dengan jari-jari tangan.
Dan bagaimana pun inginnya untuk bisa mengungkapkan sesuatu yang menjadi keinginanku. Namun setidaknya aku masih bisa menyampaikan keinginanku kepada orang lain itu dengan tulisan, meskipun itu hanya menjadi angan-angan permainan pikiran saja tanpa bisa terwujud. Yaah, mungkin aku ga bisa meminta karena takut kecewa, takut apa yang sudah aku ucapkan tak bisa diwujudkannya. Seperti seorang pecundang yang kalah sebelum berperang, hanya mampu memupuk kenangan dengan asa dalam imajinasiku. Andai kau tau itu....
★Ell