10/25/2014

Jatuh...

Aku duduk di dekat jendela kamar, sesekali memandangi lampu jalan yang memecah kegelapan malam, mengobrol dengan teman yang menginap di rumah dan tiba-tiba temanku itu mengucapkan namamu. Singkat. Aku beku sejenak. Aku hancur.

“Aku harus memulai dari awal lagi.”

Hancur karena ingat bagaimana apa yang sudah bertunas dalam sekejap harus mengakhiri segalanya sebelum aku memulainya denganmu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya. Terkadang, mengakhiri tidak harus memiliki caranya, ia berakhir begitu saja, kadang pun, tanpa alasan. Belumku punya keberanian untuk membicarakan apa yang selama ini meletup-letup namun kini mendengar bahwa kau mencintai orang lain, itu sakit.



Pagi ini, sehabis aku terbangun dari mimpi burukku, aku meraih telepon genggamku, mencari-cari namamu dalam akun kicauanmu yang beberapa hari tak ku rambah, membaca setiap kata-kata yang kamu tuliskan. Kamu tetap saja sama, berkoar-koar hal yang sama tentang sepotong rasa seperti yang aku lakukan dulu tapi sekarang sudah tidak lagi. Lalu, aku menggeser layarku sekali lagi menurut setiap kicauanmu, ada satu kalimat dimana kamu menyertakan nama itu. Sebuah nama yang membuatku pusing serasa berada dalam kegelapan dan mengingatkanku untuk mengakhiri segalanya sebelum aku terjatuh lebih dalam.