10/25/2014

helaan nafas

Aku sangat tergantung sama dia dari sebelum jadian pun aku sudah terbiasa bercerita apa saja dengannya bahkan sampai pacar dan segala problematikanya aku cerita. Kita kenal dan menjalin persahabatan, persahabatan anatara pria dan wanita. Dia punya kekasih aku pun ada tambatan hati, saling menghargai prifasi dan mendukung satu dengan yang lainnya. Kedekatan ini terjalin dengan baik, tak ada konflik yang terjadi baik masalah dengan pasangan ataupun dengan dia kita seakan memahami pribadi masing-masing hingga akhirnya setelah kita pisah dengan pasangan masing-masing itu pun juga bukan karena kedekatan kita karena ada satu hal sudah tidak dapat disatukan lagi setelahnya dia mengungkapkan perasaannya. Aku takut, sebenarnya aku ingin namun jarak yang begitu jauhlah yang menjadi pertimbanganku.

Tak menyerah, dengan sabarnya dia menyakinkan bahwa jarak bukanlah kendala dalam sebuah hubungan selama keduanya bisa menjaga kepercayaan dan menghargai komitmen menjalin kasih untuk selalu jujur. Selama komunikasi terjalin dengan baik tak akan ada masalah dengan jarak. Jangankan yang terpisah jarak yang masih bisa berjumpa setiap hari saja bila komunikasi tak terjalin dengan baik dan tak saling menjaga kepercayaan serta kejujuran juga tidak bisa menjamin semua bisa berjalan dengan baik.

Ya, aku akui bilasanya sebuah komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan, karena dengan komunikasi inilah kita bisa memahami dan mengerti pribadi pasangan kita.

Karena melihat ketulusan dan kesabaran serta usaha yang dia lakukan dan mengingat aku juga menyayanginya mungkin jauh sebelum dia mengungkapkan perasaannya hingga aku memberanikan untuk mengatakan "IYA" kita jadian. Tapi disaat hati ini merasakan bunga-bunga cinta yang baru bermekaran memadu kasih meskipun jarak memisahkan namun tiba-tiba dia menghilang, karena satu hal yang hanya dia sendiri yang tau alasannya. Aku mencoba bertanya kepada teman, menyelusuri jejak-jejak yang tertinggal mencari tau keberadaannya namun tak ada hasil yang aku dapat.

Selama ga ada dia inilah aku jadi timpang aku ingin cerita segalanya sama dia, aku ingin melihat dia, mendengar candaannya, bahkan terkadang masalah seberat apa pun bila sudah melihat dia langsung hilang, intinya semacam itu lah. Dia pergi tidak hanya hitungan hari ataupun minggu namun sudah hitungan bulan bahkan tahun, namun hingga kini aku masih mengharap dia kembali.

"Tuhan memberi apa yang kita butuhkan.. bukan yang kita inginkan.." Mungkin ini juga salah satu ujian yang diberikan Tuhan untukku agar aku bisa sedikit mandiri dan menerima, mengenal orang-orang baru yang hadir dalam kehidupanku untuk memberi pembelajaran, kenangan dan proses dalam pendewasaan.

Trus aku harus bagaimana mas...
Selama ini aku ga punya siapa-siapa untuk berbagi hanya padanyalah aku bisa melepas segala ganjalan hati, bahkan tak ada hal sekecil apa pun bisa aku sembunyikan darinya, ia selalu tau bila ada sesuatu padaku dan dia juga selalu bisa membuat aku cerita tanpa memaksaku karena tau aku paling ga suka dipaksa-paksa

Aku merindukannya, sangat merindu hingga gemuruh yang bergejolak di dalam dada seakan mendesak dan semakin hari semakin bertambah tak jarang membuatku sesak napas.