Sore itu, dibangku tua dibawah pohon taman yang berada di tengah kota. Bunga, angin yang membawa aroma wangi penjual makanan yang tak jauh dari tempatku duduk. Langit terlihat abu-abu dengan awan gelap yang berarak mengikuti arah angin berhembus. Aku datang disaat yang salah, di atas sana tak aku temukan gumpalan awan yang membentuk karakter seperti yang sering muncul dalam imajinasiku.
Popcorn yang ada dalam pangkuanku masih terlihat penuh, tak tersentuh. Aku terlalu asik dengan pikiranku hingga tak disengaja mataku terjutu pada sosok yang duduk dibangku lain di salah satu surut taman. Tawa itu... terlalu indah hingga tak bisa ku berpaling dari pemandangan yang ada di depanku. Kebebasan, tawa yang lepas. Entah apa yang terlihat lucu hingga membuat gurat senyum yang melumerkan dan menggetarkan hatiku.
Pertama kali aku bertemu pria itu ketika cuaca mendung. Sepertinya aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Ketika melihat senyumnya, ketika melihat keteduhan dalam wajahnya. Aku tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, tapi mengapa melihatnya detak jantungku tiba-tiba ritme detaknya lebih cepat hingga aku bisa mendengarnya, mataku pun tak bisa lepas melihatnya meskipun dari kejauhan.
Namun, ketika rintik hujan mulai turun dia pun berlalu, berlari dengan mendekap tas dan beberapa buku di tangannya menghindari gerimis. Perlahan dia pun menghilang mataku kehilangan jejaknya di belokan diantara deretan warung penjual makanan.
Rasanya cintaku berakhir terlalu cepat, dimana tiada awal apalagi akhir karena memang tidak ada kisah yang bisa diceritakan. Dan aku harus mengucapkan selamat tinggal terlalu cepat untuk pria mendung dibangku taman. Langit abu-abu di taman kala itu. Segala sesuatu dalam hidup sudah ditakdirkan, perjumpaan sesaat, bukan tepatnya pandanganku yang menangkap sosoknya. Cinta pertama yang singkat, terasa menyakitkan dan cinta tak terbalas, hanya sepihak itu menyayat hati. (17/06)
★Ell