A : "Knapa murung terus seh"
I : "Adek kok tau"
A : "Kalau mau nyapa mas'e sungkan kayanya masih banyak pikiran butuh waktu sendiri"
I : "Yaa kadang kalau lagi suntuk mas banyak bengong. Paling-paling maenan game COC "
A : "Awas keseringan bengong hilang konsentrasi lho. Kenapa ga mas buat corat coret aja kan tulisan mas bagus"
I : 'Maksud coretan itu tulisanku yaa. Padahal tulisanku gak kebaca"
A : "Iya. Bagus lho pemilihan katanya. Aku pernah baca di fb. Ya kan mas bisa curhat lewat tulisan biar ga puyeng terus"
I : "Bukan wall-ku mungkin"
A : "Benar yo"
Ada saat- saat tertentu kita membutuhkan media untuk berbagi, sedikit menghilangkan pengat yang serasa mengganjal dan menjadi pikiran. Ada kalanya orang lebih suka berbagi dengan orang yang mereka percaya namun ada juga orang-orang yang memilih untuk menyimpan semuanya untuk dirrnya sendiri. Jika itu terjadi lama-lama pikiran akan semakin bertambah berat sampai menyesakkan dada, dan untuk membebaskan himpitan beban itulah kita harus mengeluarkannya entah untuk berbagi dengan orangblain, membuat sebuah tulisan di buku harian atau bisa juga berkomunikasi atau curhat dengan Tuhan.
I : "Kan aku bilang, aku gak mau kalau teman deket/kumpul itu tau masalahku. Aku lebih senang share sama temen yang gak deket, atau bahkan kenal disosmed"
A : "Kan corat coret ga harus di fb to. Kalau itu malah jangan, malah kaya cari simpati doank. Ya asal nulis aja di kertas, di blog apa dimana gtu. Kan ga harus cerita gamblang mas bisa pake bahasa kiasan.
Iya mas udah pernah bilang kok"
I : "Bener gimana adek. Makanya aku jarang FBan sekarang maah"
A : "Bener kalau tulisan mas bagus. Fb ku malah udah aku non aktif in yang asli"
I : "Apa karena mau ninggalin jejak aja, yaaa bisa dibilang move on gitu dari sesuatu. Lhoo emang adek punya FB berapa"
A : "Maksudnya binggalin jejak gimana. Ya dulu punya fb yang ga buat jualan tapi sudah aku non aktif in"
I : "Ya mau meninggalkan sesuatu gituu lhoo, mungkin jaman dulu ada kenangan dan itu gak mau buat liatnya"
A : "Jangan coba mengusir/membuang kenangan itu sangat sulit
Turuti saja apa maunya. Dalam artian apa yang mas rasain dinikmati tar lama-lama kalau sudah bosan juga hilang sendiri. Kalau ga sholat malam, curhat sama Allah. Mumpung puasa sebelum sahur kan bisa tu tahajut dulu. Biar pikiran mas plong.
Tidur dulu ya mas, gobrolnya lanjut bsok aja ya. Met rehat mas, dah pikiran di los in aja jangan di kekang"
I : "Adek dilanjutin pas sahur aja yuuk, nanti adek gk istirahat malahan"
Suara denting dari barisan angka seakan menyadarkan bahwa sudah saatnya percakapan ini harus diakhiri karena lelah memaksa kita untuk rebah. Menyapa mimpi yang sudah menanti untuk memberikan kesempatan kepada malam agar tetap sunyi dalam keremangan lampu kamar.
A : "Cukup bebaskan pikiran dan diliatin aja. Kaya menggembala kambing gtu lho. Udah ga usah sedih terus dijalani, dinikmati, disyukuri . Anggap smuanya baik-baik saja biar cepet baikan sendiri. Ini hanya proses kok ga butuh waktu lama hanya perlu sedikit kesabaran lebih dari sebelumnya =-) "
I : "Yuupss . Makasih adek yaa. Semoga mas bisa sabar menghadapi semua ini.....Amiin"
A : "Ya harus bisa lah mas. Cuma nambah dikit aja kok sabarnya, masa sudah mau nyampe finis malah nyerah seh"
I : "Hehehe iya siih. Gak tau cobaan apalagi yang mau datang niih"
A : "Kalau cobaan sudah ada porsinya masing-masing, mas ga perlu hawatir selalu ada tangan Tuhan yang membantu"
I : "Amiin"
Aku ga tau apa yanh menjadi pikirannya karena hanya bisa merasakan sedikit kesedihan dan kebimbangan hatinya saja. Aku juga ga memaksanyabuntuk cerita, jika dia butuh teman berbagi pastinya akan cerita dengan sendirinya tak perlu dipaksa.
A : "Udah ga usah banyak pikiran, nikmati saja baik itu senang susah, sedih .
Jangan nunggu hujan untuk melihat pelangi tapi alangkah baiknya kita ciptakan pelangi sendiri (25/06)