Aku tak menyangka. Kita sudah habiskan waktu dengan diam tanpa saling menyapa. Entah sudah berapa musim berganti yang menghanyutkan kita dalam pikiran masing-masing, purnama begitu saja berlalu membawa kisah-kisah tentang penantian sebuah pengharapan datangnya pertemuan. Ya mungkin hingga sekarang hatimu masih ragu. Entah, entah bagaimana dengan hati dan pikiranmu walaupun sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang membuatnya diam tak bergeming.
Aku mencoba untuk berdamai dengan pikiranku, berbasa-basi membunuh semua rasa sepi yang terbentang di antara kita. Aku tak menyukai diam ini seperti halnya kepada tanya yang perlahan memenuhi isi kepalaku. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Ya, tentang segalanya yang terjadi selama sedikit jarak mulai tercipta hingga menjadi kebisuan yang berangsur-angsur menjadi sebuah keberadaan sepi.
Sejujurnya, aku mulai jenuh untuk menjajar kata yang menyuarakan kesepian dari rasa yang tercipta, apapun tentang kita. Kau tahu mengapa? Karena aku hanya ingin bicara, bercerita langsung padamu. Tentang rindu, cinta, kesedihan, resah, penantian, hawatir dan mengulang cerita meskipun dulu pernah aku ceritakan padamu.
Maaf. Aku hanya ingin menghapus keraguanmu yang mungkin masih terselip tentang apa itu cinta. Engkau tak perlu meragukan masalah hati. Engkau juga tak perlu takut bila suatu saat ketika kita memiliki kesempatan untuk bersama akan ada angin kencang yang mencoba menggoyahkan, bila menemukan jalan yang bergelombang dan terjal, hingga harus melawan arus ataupun yang terlihat hanya jurang di depan mata karena semuanya akan bisa kita lewati. Berdua saling menguatkan, menopang dan menghibur satu dengan yang lainnya. Engkau tak perlu ragu pada rasa sayangku yang besar padamu. Karena, bersamaan sepotong hati yang sudah aku berikan untukmu terselip kepercayaan besar, kutemukan kamu yang tetap menjadi motivasi semangat dalam setiap gerakku.
Maukah melangkah lebih jauh lagi denganku?