Planet tempatku berpijak tiada berhenti menangis sejak pagi, di luar sepi, tiada bunyi gaduh seperti hari-hari biasanya. Mungkin pikiranku dengan kebanyakan orang di pagi ini sama memilih meringkuk di bawah kain beludru merah di atas ranjang memandang ke luar dari jendela yang tirainya masih terikat rapi dari kemaren. Sepertinya semalam aku tertidur lebih dulu sebelum sempat menutup horden, berarti dari semalam hujan membuaiku sekaligus mengintip mimpiku ketika terlelap.
Hujan sepertinya enggan mengecilkan volume rintiknya sejak petang, membuatku malas untuk bertemu dengan dunia. Selimut yang melilit tubuh ini tak mampu menghalau dingin yang masuk dari jendela. Udara dingin membuatku terdorong beranjak dari ranjang untuk menyeduh segelas teh hangat sebagai penawar dingin di badan. Segelas teh hangat di dalam cangkir putih bergambar mickey yang sudah beberapa tahun ini setiap hari rutin aku gunakan sedikit menyuguhkan kehangatan yang aku butuhkan sebelum memulai aktifitas pagi.
Segelas black tea bercampur sebongkah kecil gula batu, tak sabar menyecapnya, satu tegukan pertama aku rasakan hambar namun terasa hangat, nikmat dan menenangkan. Hujan memang waktu yang tepat bagi sebagian orang pecinta hujan untuk melanjutkan cerita merangkai kata atau hanya menikmatinya dari balik bilik kecil yang menjadi tempat favorit diantara ruang-ruang lain di rumah, mungkin begitu pula denganku yang sedang berdiri di balik jendela mengamati rintik air yang berjatuhan dari langit dan diantaranya mengenai kaca jendela membuat butiran-butiran bening sebelum akhirnya meluncur ke bawah. Sepertinya begitu, sedangkan sebagian lagi memilih melanjutkan mimpinya dan yang lain membenci hujan karena sudah mengacaukan kegiatan ataupun janji mereka hari ini.
Kali ini tak ada coretan yang aku buat di buku yang mulai susah dibuka akibat banyaknya kata yang berjubel berada di dalamnya. Aku aduk gelas berisi teh hangat ini untuk mencampur gula yang mulai larut terkena panas, sama halnya dengan hujan yang mengaduk-aduk pikiranku ke suatu tempat imajinasiku, membuka kembali cerita yang sebenarnya sudah lama tertutup bahkan hal yang tak lagi aku ingat. Ku buka setiap lembar kenangan meskipun sebenarnya tak aku suka, namun apa salahnya sesekali mengingat setiap perjalanan yang sudah mengantarkanku sampai ke tempat ini.
Hujan di hari minggu, menurutku ini adalah saat yang sangat sempurna menjadi satu alasan untuk menghabiskan waktu dengan bermalas-malas memanjakan diri dari rutinitas yang seminggu terakhir ini menguras tenaga dan pikiranku. Hujan sudah membuat beberapa orang menggerutu karena janji yang sudah terjadwal harus batal. Siapa juga yang mau menerobos hujan bila memang bisa ditunda hari lainnya, sepertinya mereka akan memilih berada di kamar menghangatkan diri ditemani segelas minuman hangat dan beberapa cemilan yang kebetulan masih tersisa.
Apa yang di pikirkan langit hingga menurunkan hujan tanpa jeda, barangkali ini satu hadiah bagi para pejuang cinta untuk menyampaikan perasaannya yang tak bisa dikatakannya. Bagi sebagian orang di dalam hujan mereka dapat melihat wajah kekasihnya, bisa merasakan apa yang sedang ia pikirkan. Buatku hujan adalah hal romantis karena hujanlah yang mengerti tentang rindu yang tak satu pun tersampaikan. Hujan menemaniku menyuarakan suatu bentuk emosional dari sebuah tanya yang tak terjawab satupun.
Hujan menyuarakan rindu yang tak tersampaikan dari pemilik jiwa yang rapuh oleh cinta.
