Cerita Sebelumnya klik disini
Sambil menunggu detik-detik jam pulang aku menyapa (C) untuk cerita.
"Ting tong..."
Sambil menunggu detik-detik jam pulang aku menyapa (C) untuk cerita.
"Ting tong..."
"Oink..oink..."
"Mau crita..."
"Mariii merapatt. Kita nyempil dipojokan..."
"Aku ga tau ini benar apa enggak. Tadi malam pas aku balas bbm dia tiba-tiba jendela oobrolan ilang
Katanya hpnya error"
"Haaahhh?"
"Menurut (C) gimana...Ngakunya semua kontak hilang gara-gara simbol bbnya hilang, Padahal sepengetahuanku kalau error gitu batre di lepas udah kembali lagi kan dan kontak juga ga hilang, benar ga...."
BBM pending hingga aku berada di rumahpun belum ada balasan dari (C). Pesan yang di tunggu belum juga datang, namun datanglah pesan dari teman yang lain yang memberi kabar jika kontak (Y) hilang itu memang sengaja di delcon dengan (Y) bukan karena error, itu karena dia memasang DP fotonya dengan (S) ini dia tau ketika tanpa sengaca ngecek bb suaminya (A) dan mendapati foto mereka berdua. Dia juga berjanji untuk mengambilkan foto itu untuk memperlihatkan padaku.
Oooh, jadi begitu sekarang aku semakin yakin dengan keputusanku melepaskannya. Dengan kejadian ini aku anggap (Y) sudah kembali, sudah bisa tersenyum dan tugasku pun selesai. Bukan aku yang melepas melainkan (Y) lah yang memilih untuk pergi. Lagian kenapa juga aku begitu hawatir (Y) bakal ambruk, dia lelaki pastinya bisa bertahan dengan semua ini, aku terlalu menghawatirkannya. Kini aku sadar. dia tak selemah apa yang aku bayangkan.
"Ni tadi aku dikasih tau kenapa aku di delcon, katanya dia pasang DP yang berdua sama (S). Kalau aku ga balas sms angkat telepon dia gapapa ga seh..."
"Hemmmm....Tahu darimana dp-nya dia sama (S) ? Udah dilihat? Berarti saat ga bbm an tapi sms dan telp jalan terus ya?"
"Semalam aku juga dengar cerita dia kenalan sama yang lain trus panggil sayang-sayang juga janjiin sesuatu dan yang barusan aku dengar dia delcon aku sama cewek itu karena dia pasang DP yang sama (S) Belum lihat, Nanti ni aku baru nunggu kiriman, mau di colongin. Kan semalam, dari pagi aku ga hubungi dia kok, cuma tadi siang dia telepon aku pas di kantor ya jam 12an lah. Aku tau aku bikin dia nyaman trus (S) dia pake jilbab itu makane dia ga bisa milih, yang ada di aku ga ada di (S) begitupun sebaliknya aku mikirnya begitu. Lalu menurut (C) aku harus gimana"
"Kamu nyaman dengan hubungan kayak gitu? Kok kayak tarik ulur... Dia dong harus tegas...milih yang mana... Di dunia ini ga ada yang sempurna bro... Yang ada saling melengkapi... Ga bisa kalau kayak gitu... Duh..."
"Kalau dia ga bisa ngasih kejelasan yawes...tinggalin aja...itu menurutku... Sampai bingung mau ngomong apa gue..."
"Awalnya aku hanya ingin membantunya pulih dari trauma dan biar dia bisa ceria lagi tapi setelah semalam ada yang cerita kalau dia juga tebar pesona sama banyak cewek sampe manggil-manggil sayang segala aku jadi berpikir ulang. Entah dia begitu karena balas dendam pernah disakiti atau karna kelamaan di pesantren ga pernah liat cewek atau menjadi playboy tanggung. Dari cerita semalam aku mulai berubah pikiran ternyata dia sakit karena ulahnya sendiri. Daritadi pagi kan aku ga hubungi dia ampe dia yang hubungi aku duluan, dan temanku juga saranin buat ga peduliin dia sms dan telepon ga usah di gubris. Saat ini aku bingung bukan gara-gara dia sayang, aku kangen sama yang di (sebut kota) :'(
"Aku sangat kangen dia. Help...."
"Trus gimana? Coba telp ... Email... Telp kantornya. Hubungi temennya"
"Aku ga punya keberanian buat hubungin dia"
"Kenapa? "
"Ga tau. Aku ga punya cukup keberanian untuk menyapanya sekarang. Dulu hampir tiap hari aku menyapanya lewat YM memang itu media yang sering kita gunakan meskipun ga pernah ada balasan tapi aku ga pernah bosan mengatakan kangen dan mencarinya tapi sekarang ga berani "
"Hemmmm.... Selain ym? Telp? "
"Ga berani"
"Gpp... Coba ditelp tanya kabarnya "
"Aku takut "
"Tanya kejelasan hubungan kalian... Daripada harap-harap cemas, Mending tahu kenyataan "
"Sepertinya di otakku kadang terlintas dia udah punya istri andai itu terjadi aku belum bisa terima"
"Mungkin menyakitkan...tapi yang pasti sudah jelas kan..."
"Membayangkannya saja aku ga berani"
"Jadi dirimu bisa move on...dan ngelupain dia... Bisa ikhlas... Daripada menggantung seperti ini..."
"Entah aku bisa iklas apa enggak"
"Kumpulkan keberanianmu... Pelan pelan untuk ikhlas....ga mudah memang . ...."
"Padahal kalau di pikir-pikir hampir 1 thn dia pergi lagi tapi sedikitpun belum bisa lepasin dia"
"Karena dikau masih berharap..."
"Jujur selama hidupku baru dia yang bisa mengerti aku. Aku baru bisa jujur sama dia doank, bahkan segala hal selalu aku ceritain sama dia tanpa paksaan. Cuma dia yang sampe detik ni bisa melihat celah dalam diriku, kalau liat dia brasa segala masalah yang tadinya menumpuk tiba-tiba hilang"
"Ooohhh...."
"Aku ga bisa terbuka sama ortuku sendiri tapi sama dia bisa. Bahkan dulu aku suka cerita cowok-cowokku sama dia juga"
"Trus gimana dong...."
"Aku ga tau. Aku penƍen cerita semua sama dia"
"Hahahhahahahahhahaa.... Ya ditelp.."
"Ga berani :'(
"Dia bisa buat aku tertawa bahkan saat PMS pun dia hapal"
"Ya udah telp sekarang gih. Kali diangkat"
"Nanti aja ya aku ngumpulin keberanian dulu. (C) transfer keberanian ke aku donk"
"Doaku untukmu... Dimana mbkku yang selama ini nyemangatin aku .... Ayooo...kamu bisa..."
"Apapun jawabannya dia nanti...Diangkat atau engga... Itu urusannanti"
"Aamiin, makasih sayang mau pelukan donk ({})
"Belum berani, besok sabtu aja ya"
"Yang penting berani dulu.. Sampai kapan kau mau menunggu lagi? Mungkin menyakitkan...tapi yang pasti sudah jelas kan..."
Sampai detik ini aku belum berani menelepon dia sayang, maafkan mbamu yang penakut ini ya yang belum berani menerima kenyataan pahit. Mungkin aku terlalu bodoh menganggap dia segalanya namun itulah kenyataannya di mataku dia adalah pria sempurnya dan aku mengaguminya, seperti halnya penggemar dengan bintang idolanya yang hanya bisa berhayal yang indah. entahlah sampai kapan akan seperti ini.... maaf