Aku mencoba lepas dari ketidak berdayaanku, manjalankan apa yang bisa aku perbuat sepertinya itu adalaah hal baik yang seharusnya sejak dulu aku lakukan. Hidup bukan untuk penyesalan dan sebuah harapan kosong aah bukan kosong namun semu ya lebih tepatnya seperti itu. Aku tak dapat membantah bahwa belenggu sosok yang hanya terlihat dalam sebuah bayang-bayang itu sedikit mengganggu akal pikiranku hingga terkadang tak bisa berpikir realistis. Namun seiring hari yang terus berganti aku tak dapat membiarkan diriku dikuasai olehnya.
Mencoba iklas, jalani semua yang ada karena semakin aku menghindar semakin sakit dan semakin aku lawan rasa sakitnya hingga membuatku terpuruk, aku menyerah. Mengalah dari pertahanan jiwaku yang mencoba berontak menghapus kegetiran yang aku rasakan. Mengalah bukan kalah hanya saja mencoba berdamai dengan pikiran dan hati agar bisa berjalan selaras dan tak ada lagi pemberontakan dari segala kegalauan yang tak beralasan. Melihat dari kebebasan pikiran liar yang mengagungkan rasa yang terlihat semakin kabur dan semu. Mungkin hanya belum bisa menerima kegetiran dari rasa sakit yang begitu tiba-tiba. Namun kini semua itu bukan jadi alasan karena aku punya logika yang masih jalan dan bukannya semakin di genggam akan hilang.
Bila memang takdir akan membawaku kemana itulah sebenarnya tujuan akhir yang aku inginkan.