12/25/2023

Redup

Dalam kegelisahan hati terbesit tanya "masihkah ada kau disana" tak pernah pasti untuk memahami apa yang sebenarnya kau mau. Bukan, bukan lagi tentang tanya namun kepada "apakah kau masih memegang teguh kata yang pernah tersemat untuk menjadi kita...?!"

Kini tidak lagi hitungan detik yang berdenting tak lagi waktu tentang hangatnya sang surya yang hilir mudik ke peraduan namun tentang purnama yang tak kunjung usai menunggu untuk ujung penantian.

Perlahan hati mulai terkikis oleh asa yang semakin meredup. Entah sampai kapan hati ini benar-benar akan berhenti dan membungkus kenangan yang tak usai meskipun kini ikrar untuk beranjak pergi berkali-kali berkumandang namun langkah pelan dan sesekali masih melihat ke belakang berharap kau kembali ada disana untukku.

Kiasan tak lagi indah di dengar, mata tak lagi memancarkan binarnya, dan hati perlahan kering oleh kasih dan peluk yang senan tiasa datang ketika ku membutuhkan, semuanya tak lagi ada. Tersisa kenangan, juga cerita yang hanya bisa dikenang oleh diri. Indah meski sesaat, setidaknya aku pernah punya mimpi, punya tujuan dan mengerti arti cinta dan kasih yang sesungguhnya darimu. Terlebih tahu bagaimana bahagia tanpa harus membentengi diri meskipun hanya sesaat. (25.12.23)