10/24/2014

Y.E.P ~ Kembali Terluka

"Mas ada waktu ga ak mau crita"
"Iyah. Aku masih dikantor. Maaf sms aja gimana ?"
"Ya udah laen x aj deh critanya, tumben mas lembur"
"Iya persiapan mau ke Qatar. Banyak yang harus disiapin"
"Beneran jadi to :(
"Ya udah critanya kalau mas senggang, tar mas kabari yah. Mas ni udah maem kan..."
"Gapapa cerita aja. Takutnya saya sudah tidak ada umur lagi"
"Mas jangan bicara gtu aah, ga suka. Maap mas tadi pagi tlp ga di angkat lagi di jalan ga sms juga, klo kemaren ga balas sms mas otak lagi error. Ga suka mas kaya gini.... maap... Aku lihat mas sekarang kembali kaya pertama kenal, bisakah aku rasakan ketenangan, senyuman kaya pas ketemu, aku menyukai itu. Bolehkan.... masih boleh berharap"

"Iya gapapa. Memang kadang jadi penghapus itu gak akan sehebat ujung pensil"
"Maksudnya gimana
"Susahnya menjadi penghapus tak sehebat ujung pensil. Itulah aku saat ini"
"Ak ga mudeng kata-kata mas bisa jelasin ga..."
"Tolong diartikan itulah aku saat ini. Ngeman alas alis kobong"
"Maksudnya gimana, mas bisa jabarin aku ga mudeng blas"

Beberapa kali aku baca peribahasa di atas bahkan sempat juga googling namun enggak menemukan arti dari kata yang dia katakan. Sedikit berpikir untuk menanyakan kepada siapa orang yang mengerti ungkapan dalam bahasa jawa itu dan akhirnya aku kirim pesan kepada Om dan kakak sepupuku, aku yakin mereka bisa karena Om sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan kejawen sedangkan kakak sepupuku dia orang yang pintar, namun mesti sabar karena tak sinyal yang sedikit jelek mengakibatkan pesan yang aku kirim sedikit terganggu.

Susahnya menjadi penghapus tak sehebat ujung pensil. Itulah aku saat ini
Ngeman alas alis kobong"
Artinya menurut kakak sepupuku:
Kalau ngeman alas alis kobong itu kayak terlalu sayang dengan hal besar kurang penting tapi malah kehilangan hal lain yang sebenarnya lebih penting. Mengejar hal-hal yang sekunder tetapi justru kehilangan yang primer.
kalau perumpamaan penghapus dan ujung pensil agak susah itu mengartikannya. Penghapus sama dengan pengorbanan atau selalu merasa sakit (gesekan) ujung pensil bisa diartikan lebih aktif, bisa suka-suka, pemberi luka atau kesalahan. Bisa jadi dia saat ini lagi terluka atau kehilangan.
Sedangkan arti menurut Om:
Sayang barang sesuatu yang sangat berharga namun kehilangan sesuatu yang kecil tapi sangatlah berguna. 

Entah apa maksud dari kata-kata itu karena antara Om dengan kakak sepupuku memberikan arti yang sama seperti yang aku tulis di atas namun makna dari itu semua sampai sekarang pun aku belum mengerti. Berarti dia saat itu masih terluka dan yang sedikit menggelitik ketika kakak-ku bilang 'kayak memberi sindiran halus' apakah itu kata-kata buatku, tapi mengapa tidak langsung dikatakan saja seperti perjanjian semula.

"Aku harus tanya siapaaa, aku ga tau artinya. Brosing juga ga bisa jaringan dari pagi susah. aku ada salah ya sama mas maap'in ya mas, tolong benerin klo salah :(
"Gak ada salah. Mungkin karena bodohnya aku"
"Mas ga boleh bilang gitu. Apa yang bisa aku lakukan buat perbaiki ini semua, aku ga mau mas kaya gini. 
"Aku pengen ketemu sama (M). Saya mau tanya apa maksud dari semua itu. Aku jadi kayak jadi kambing hitam"
"Trus aku apa"
Sebenarnya ini mudah saja hanya perlu sikap yang tegas darimu, coba jika sejak awal bisa tegas dan tau apa yang kamu mau pasti kejadiannya tidak bakalan serumit ini. Tapi sejak awal kamu sudah tidak bisa tegas, jangankan untuk tegas apa yang kamu mau saja belum sepenuhnya kamu pahami. Bukankah sejak awal semuanya menyuruhmu tegas dalam bersikap, tidak plin-plan dan serius tapi kamu kekeh dengan pendirianmu yang menginginkan segalanya.

"ga ada guna mas, percuma. Aku tau persis dia gimana. yang penting sekara mas sudah sadar dan tau mesti gimana itu yang terpenting. Aku juga punya andil sampai mas jadi begini andai aku ga berpikiran picik, menganggap delcon bukan segalanya" 
Memang aku terlihat picik saat itu karena sikapku yang ingin menolong dan dengan mudahnya ketika dia menyuruh untuk delcon sesegera saja kau jalankan dan saat itu juga aku menganggap bahwa kamu sudah cukup mampu untuk berdiri bahkan untuk berlari jadi tugasku sudah selesai membantumu berdiri.
"Maap mas. Aku ga di maap'in ya mas"
"Dimaafin...."
"Beneran ya di maap in, tapi ga pake syarat kan... Asik asiiik asiiik.... berati kita baikan ni" meskipun sebenarnya aku ga ngerti aku minta maaf untuk apa, namun rasa kasihan melihatnya yang terpuruk mendorongku untuk membentunya, karena aku tau bagaimana rasanya sendiri disaat terburuk itu sangat menyakitkan dan menyedihkan.
"Ada syarat..."
"Yaaaaah..., malah kaya di ingetin tau gitu tadi ga bilang deh. apa syaratnya tapi jangan susah lho ya. Syaratnya apa mas...."

"Kamu kenapa nangiz coba cerita sama aku" Sebuah pertanyaan yang aneh karena hari itu aku enggak menangis di sore ketika membuka YM dan melihat fotonya..., ketika ingin menulis 2 kalimat itu. memanggil namanya dalam diam dan menginginkannya hadir untuk saat itu.
"Nangis apa ik"
"Jujur aja"
"Kapan seh aku pernah boonk sama mas, kapan nangis"
"Jujur ya kenapa dulu"
"Nangis yang kapan, aku oranknya cengeng jadi sering nangis kalau pas ga tahan banget seh" Mungkin yang dia maksud ketika aku ngobrol dengan (A) tadi sore memang sempat kata-kataku tertahan ketika sedikit emosi waktu geregetan membicarakan semua yang terjadi. Aku merasa terhimpit diantara dua kubu yang saling serang.
"Tu kan bener kan"
"Apanya yang benar..., sekarang ga nangis kok. Aku nangis kalau sudah jengkel sendiri, ga tau harus gimana baru mewek kok. ga asal x mas,
"Senyum tho...."
"Aaah mas aja ga senyum aku suruh senyum, itu curang namanya :P