Hai tuan, bagaimana kabar....
Aku sudah berusaha kuat dan tegar melepas tuan pergi namun hingga detik ini masih belum sepenuhnya bisa. Masih terasa sakit, bahkan perih ini semakin menyiksa, rasa sakit menyayat hati. Aku sudah berusaha untuk tak menangis dan itu bisa aku lakukan, namun dada ini bagai ingin meledak dengan beban yang aku sendiri tak mengerti harus bagaimana meredakannya, teramat sakit dan menyiksaku bahkan otakku pun kini semakin gak terkendali ditambah intuisiku yang semakin bertambah peka membuat otakku bertambah kacau balau.
Aku bukan black hole, mungkin semua ini adalah keistimewaan yang Tuhan berikan untukku tapi.... Tuan aku ingin bersandar, aku ingin cerita sebentar saja sudikah tuan menyapa dan memberikan sedikit waktu untukku. Ingin merasakan nyaman itu, aku kalah... Tak sedikitpun aku bisa berpaling dari bayang-bayangmu, sekuat tenaga aku berusaha namun itu malah semakin menyakitiku.
Kosong, rapuh dan sepi. Tak pernah aku merasakan kebosanan seperti akhir-akhir ini hingga tak ada lagi keinginan untuk melanjutkan langkah yang masih jauh dari tujuan.
Ketika tuan membaca coretan sebelumnya mungkin tuan akan berkata "syukurlah bila sudah bisa melupakanku..." dan aku bisa merasakan kelegaan setelah membaca sepenggal kalimat itu namun mungkinkah terjadi hal seperti itu ? Coba tuan tanyakan pada hati nurani tuan yang terdalam bisakah tuan melupakan...
★Ell